alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Begini Serunya Anak Muda di Pasuruan Rayakan Libur saat Lebaran

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Mudik dilarang. Wisata ke luar kota tak boleh. Ke mana pun dibatasi prokes. Padahal, arek-arek generasi milenial Kabupaten dan Kota Pasuruan ingin tetap merayakan Lebaran dengan eksploratif dan heboh. Bagaimana survive mereka?

——————-

GEMA takbir dan tahmid masih terdengar sayup-sayup. Suasana Idul Fitri mencerahkan wajah anak-anak muda Pasuruan. Lewat smartphone, mereka saling bertukar kabar. Kirim-kiriman tulisan indah tentang maaf lahir batin. Puisi, foto, dan gambar pun bertebaran di ponsel.

Lewat aplikasi WhatsApp, mereka juga curhat. Maaf-maafan sudah. Salim orang tua sudah. Tapi, Lebaran kali ini rasanya nggak seru. Batas-batas kota dijaga. Nongkrong di kafe juga kadang kena razia.

”Bagaimana kalau kita ketemu di Coban Danyang saja,” kata Adi Zen, ketua Komunitas Jalan Alam Pasuruan (Kojapas). Saat online di grup WA, sepakat lah anggota komunitas anak-anak muda itu untuk pergi ke Coban Danyang. Wisata air terjun di Desa Tempuran, Kecamatan Pasrepan.

Anak-anak muda mengenal lokasi itu sebagai salah satu destinasi wisata yang dekat. Tak sampai satu jam perjalanan dari Kota Pasuruan. Anggota Kojapas rata-rata tinggal di Kecamatan Rejoso, Kraton, Gondang Wetan, dan Bangil. Mereka pun kompak janjian berangkat. Mengekspolrasi liburan Lebaran. Jumpa di lokasi pada Minggu (16/5).

Kata Adi Zen, Coban Danyang dipilih karena pertimbangan jaraknya yang termasuk dekat. Tempatnya masih di Pasuruan, tapi cocok untuk penelusuran. ”Lokasinya bisa dijangkau mobil atau motor, tanpa perlu jalan kaki,” katanya. Sudah biasa mereka berangkat sendiri-sendiri.

WISATA BARU: Anggota Komalpas berwisata sekaligus berliterasi di Dam Licin, Kraton. (Foto: Komalpas for Jawa Pos Radar Bromo)

Sampai di sana, mereka menemukan arti liburan yang sesungguhnya. Bisa merasakan indahnya alam sekitar. Sejuknya air yang satu per satu melompat dari atas bebatuan ke badan anak-anak muda itu. Tak lupa mereka foto-foto dengan kamera ponsel.

Anggota Komalpas (Komunitas Menulis Pasuruan) punya cara sendiri untuk mengisi liburan. Komunitas beranggota lulusan SMA, mahasiswa, dan sarjana itu memilih jalan-jalan. Lalu, mengabadikannya lewat foto dan video. Tak lupa, masing-masing membawa buku. Itu ciri khas anak-anak muda yang hobi menulis di Komalpas. Mereka lantas membagikan karya masing-masing

”Berbagi cerita isi buku sambil menikmati destinasi gemiricik air terjun mini menjadi keseruan tersendiri,” kata Hisyamudin, ketua Komalpas. Foto-foto dibagikan di medsos. ”Kadang bisa dalam bentuk vlog,” tambahnya.

Menurut Hisyam –panggilan akrabnya– komunitasnya memang menghubungkan literasi dengan wisata alam. Sehingga, anggota tidak merasa bosan. Saat mengunjungi wisata, Komalpas biasanya me-review buku. Baik fiksi maupun nonfiksi. Selain itu, membahas cara menulis yang baik di lokasi wisata.

Misalnya Dam Licin di Desa Dhompo, Kecamatan Kraton. Juga Dam Kedungsupit di Desa Slambrit, Kecamatan Kraton pada Minggu (16/5).

”Lokasi yang kami pilih biasanya yang belum terlalu viral,” tambah Hisyam. Dengan begitu, mereka sekalian bisa mempromosikan lokasi wisata ini ke luar Pasuruan.

BUAT SENDIRI: Anggota Konodama bersama kreasi kokedama buatan mereka. (Foto: Dok. Radar Bromo)

Tanam Kokedama bersama Komunitas

Muda-mudi di Pasuruan biasanya memanfaatkan waktu untuk bertemu setelah selesai silaturahmi dengan kerabat dekat. Setelah hari H Lebaran maupun menunggu momen Lebaran Ketupat.

Seperti yang dilakukan Konadama, komunitas penyuka seni menanam kokedama. Komunitas yang beranggota anak-anak muda asal Desa Sambirejo, Kecamatan Rejoso, ini memilih saling mengunjungi. Kegiatan sambang anggota ini dilakukan pada hari kedua Lebaran. Tak hanya sekadar silaturahmi. Mereka juga membuat kerajinan tanaman imut khas Jepang atau kokedama.

Saling mengucapkan maaf lewat pesan dilakukan hari pertama Lebaran. Pada hari itu, biasanya mereka belum bisa bertemu. Masing masing berkunjung ke kerabat mereka. ”Jadi ketemunya ya di hari keduanya,” ungkap Abdul Nasir, ketua Konadama.

Nasir menjelaskan kegiatan membuat kokedama saat Lebaran ini bertujuan untuk menjaga keakraban anggota. Selain itu ini bisa menambah manis rumah mereka. Kokedama yang sudah jadi lantas diunggah ke akun mereka masing-masing.

”Meski Lebaran, kegiatan positif tetap dilakukan. Barangkali kokedama yang kami buat ada yang minat dan lantas membeli. Jadi anggota komunitas benar benar Lebaran. Punya uang saat hari raya,” sebut Nasir.

TAMBAH ILMU: Remaja arek Bangil dan Beji panen sayur di kebun mereka sambil halalbihalal. (Foto Aquaponik for Jawa Pos Radar Bromo)

BARU: Berkebun kini menjadi alternatif baru bagi kaum milenial. (Foto Aquaponik for Jawa Pos Radar Bromo)

Berkebun dan Bisa Bawa Pulang Sayuran

Lain halnya dengan Komunitas Millenial Aquaponic. Komunitas yang beranggota mahasiswa dan siswa SMA asal Kecamatan Bangil dan Beji ini memilih berkegiatan di kebun sendiri. Mereka biasa ngobrol, berkeliling kebun, lalu membawa pulang sayuran hasil kebun tersebut.

Abdul Ali, ketua Komunitas Aquaponic, bercerita. Mereka rutin bertemu di lokasi kebun Aquaponic di Bangil. Saat bertemu, acara favorit adalah mengobrol banyak hal tentang sayuran yang lagi booming. Juga cara memasak sehat yang asik buat keluarga. Bahannya dipetik langsung di kebun. Namun, kumpul di kebun tidak terlalu lama.

Mereka biasanya cukup berkeliling untuk memanjakan mata. Melihat tanaman hijau yang tumbuh di antara pipa-pipa. Kegiatan ini diikuti dengan saling bercanda. Selanjutnya mereka pulang dengan membawa buah tangan sayuran untuk keluarga di rumah.

”Sayuran untuk stok bahan alternatif masak di rumah. Biar ada variasi. Apalagi biasanya kalau Lebaran masakan serba santan dan daging,” pungkasnya.

VIDEO CALL: Selain keliling kampung, beberapa remaja di Blawi menyapa teman-teman mereka di perantauan dengan video call. (M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Rayakan Offline maupun Online, Sama-sama Asyik

Berlebaran online sekaligus off line jadi pilihan. Larangan mudik memaksa masyarakat merayakan Lebaran di tempat masing masing. Meski begitu, kegiatan khas Idul Fitri tidak lantas hilang begitu saja. Masyarakat masih melaksanakan sonjo atau halalbihalal. Terbatas pada tetangga dekat dan kerabat di dalam Kabupaten dan Kota Pasuruan saja.

Tradisi sonjo itu dilakukan warga Dusun Blawi, Desa Masangan, Kecamatan Bangil. Kampung ini memiliki tradisi berkunjung selepas Salat Id. Bedanya, acara unjung-unjung di kampung ini didominasi remaja. Anak-anak muda milenial. Yang ikut sampai puluhan pemuda.

Salah satunya Toriqul Huda. Dia mengungkapkan, unjung-unjung itu merupakan agenda yang dtunggu-tunggu banyak orang di kampungnya. Semacam temu kangen. Mereka yang tinggal di luar kampung untuk bekerja atau merantau pulang. Berkumpul dan berkeliling kampung.

Tapi, suasana seperti itu tidak terjadi pada Lebaran kali ini. Tepatnya dua kali Lebaran ini. Karena pandemi Covid-19. ”Jadi enggak seperti dulu. Biasanya ramai sekali. Sekarang banyak yang enggak pulang kampung,” kata Toriqul.

Agar tradisi tidak hilang dan gaung suasana Lebaran tetap ada, dia tetap berkeliling kampung. Tapi, jumlah yang ikut sangat sedikit. Cuma tiga atau empat orang. Rute keliling dalam satu lingkungan RT saja.

”Sementara untuk yang jauh, kami memanfaatkan HP dengan silaturahmi secara daring. Baik ngobrol bersama dalam satu grup atau sendiri-sendiri,” jelasnya.

Anggota Komunitas Menulis Pasuruan (Komalpas) juga melakukan silaturahmi secara online. Sebab, anggota komunitas ini tidak tinggal di wilayah Pasuruan. Ada yang tinggal di Kota/Kabupaten Malang. Ada pula yang tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ketua Komalpas Hisyamuddin mengaku kegiatan silaturahmi dengan sesama anggota tetap jalan. Namun, tidak ada kegiatan saling kunjung. Sebaliknya, mereka memanfaatkan aplikasi WhatsApp. Sebab, rumah setiap anggota berjauhan. Para anggota memilih menggunakan fitur kirim pesan daripada video. Tradisinya, mereka memang memiliki passion pada literasi.

”Saling mengirim pesan bisa dalam bentuk pantun, kata kata indah, hingga puisi. Jadi, silaturahmi tetap jalan, namun fungsi utama literasi tidak terlupakan,” terangnya.

Lebaran juga berarti saat untuk bertukar cerita atau berfoto bareng. Momentum bersama teman, sahabat, dan kerabat tidak boleh terlewatkan. Komunitas Jalan Alam Pasuruan (Kojapas), misalnya, gemar berbagi foto anggota di lokasi wisata. Foto-foto kegiatan diunggah dalam media sosial milik pribadi. Seperti Facebook (Fb) dan Instagram (IG).

”Lewat foto yang disebar via medsos milik Kojapas dan pribadi, kami mengabarkan lokasi alam indah yang layak dikunjungi,” sebut Adi Zen, ketua Kojapas. (riz/far)

Mobile_AP_Rectangle 1

Mudik dilarang. Wisata ke luar kota tak boleh. Ke mana pun dibatasi prokes. Padahal, arek-arek generasi milenial Kabupaten dan Kota Pasuruan ingin tetap merayakan Lebaran dengan eksploratif dan heboh. Bagaimana survive mereka?

——————-

GEMA takbir dan tahmid masih terdengar sayup-sayup. Suasana Idul Fitri mencerahkan wajah anak-anak muda Pasuruan. Lewat smartphone, mereka saling bertukar kabar. Kirim-kiriman tulisan indah tentang maaf lahir batin. Puisi, foto, dan gambar pun bertebaran di ponsel.

Mobile_AP_Half Page

Lewat aplikasi WhatsApp, mereka juga curhat. Maaf-maafan sudah. Salim orang tua sudah. Tapi, Lebaran kali ini rasanya nggak seru. Batas-batas kota dijaga. Nongkrong di kafe juga kadang kena razia.

”Bagaimana kalau kita ketemu di Coban Danyang saja,” kata Adi Zen, ketua Komunitas Jalan Alam Pasuruan (Kojapas). Saat online di grup WA, sepakat lah anggota komunitas anak-anak muda itu untuk pergi ke Coban Danyang. Wisata air terjun di Desa Tempuran, Kecamatan Pasrepan.

Anak-anak muda mengenal lokasi itu sebagai salah satu destinasi wisata yang dekat. Tak sampai satu jam perjalanan dari Kota Pasuruan. Anggota Kojapas rata-rata tinggal di Kecamatan Rejoso, Kraton, Gondang Wetan, dan Bangil. Mereka pun kompak janjian berangkat. Mengekspolrasi liburan Lebaran. Jumpa di lokasi pada Minggu (16/5).

Kata Adi Zen, Coban Danyang dipilih karena pertimbangan jaraknya yang termasuk dekat. Tempatnya masih di Pasuruan, tapi cocok untuk penelusuran. ”Lokasinya bisa dijangkau mobil atau motor, tanpa perlu jalan kaki,” katanya. Sudah biasa mereka berangkat sendiri-sendiri.

WISATA BARU: Anggota Komalpas berwisata sekaligus berliterasi di Dam Licin, Kraton. (Foto: Komalpas for Jawa Pos Radar Bromo)

Sampai di sana, mereka menemukan arti liburan yang sesungguhnya. Bisa merasakan indahnya alam sekitar. Sejuknya air yang satu per satu melompat dari atas bebatuan ke badan anak-anak muda itu. Tak lupa mereka foto-foto dengan kamera ponsel.

Anggota Komalpas (Komunitas Menulis Pasuruan) punya cara sendiri untuk mengisi liburan. Komunitas beranggota lulusan SMA, mahasiswa, dan sarjana itu memilih jalan-jalan. Lalu, mengabadikannya lewat foto dan video. Tak lupa, masing-masing membawa buku. Itu ciri khas anak-anak muda yang hobi menulis di Komalpas. Mereka lantas membagikan karya masing-masing

”Berbagi cerita isi buku sambil menikmati destinasi gemiricik air terjun mini menjadi keseruan tersendiri,” kata Hisyamudin, ketua Komalpas. Foto-foto dibagikan di medsos. ”Kadang bisa dalam bentuk vlog,” tambahnya.

Menurut Hisyam –panggilan akrabnya– komunitasnya memang menghubungkan literasi dengan wisata alam. Sehingga, anggota tidak merasa bosan. Saat mengunjungi wisata, Komalpas biasanya me-review buku. Baik fiksi maupun nonfiksi. Selain itu, membahas cara menulis yang baik di lokasi wisata.

Misalnya Dam Licin di Desa Dhompo, Kecamatan Kraton. Juga Dam Kedungsupit di Desa Slambrit, Kecamatan Kraton pada Minggu (16/5).

”Lokasi yang kami pilih biasanya yang belum terlalu viral,” tambah Hisyam. Dengan begitu, mereka sekalian bisa mempromosikan lokasi wisata ini ke luar Pasuruan.

BUAT SENDIRI: Anggota Konodama bersama kreasi kokedama buatan mereka. (Foto: Dok. Radar Bromo)

Tanam Kokedama bersama Komunitas

Muda-mudi di Pasuruan biasanya memanfaatkan waktu untuk bertemu setelah selesai silaturahmi dengan kerabat dekat. Setelah hari H Lebaran maupun menunggu momen Lebaran Ketupat.

Seperti yang dilakukan Konadama, komunitas penyuka seni menanam kokedama. Komunitas yang beranggota anak-anak muda asal Desa Sambirejo, Kecamatan Rejoso, ini memilih saling mengunjungi. Kegiatan sambang anggota ini dilakukan pada hari kedua Lebaran. Tak hanya sekadar silaturahmi. Mereka juga membuat kerajinan tanaman imut khas Jepang atau kokedama.

Saling mengucapkan maaf lewat pesan dilakukan hari pertama Lebaran. Pada hari itu, biasanya mereka belum bisa bertemu. Masing masing berkunjung ke kerabat mereka. ”Jadi ketemunya ya di hari keduanya,” ungkap Abdul Nasir, ketua Konadama.

Nasir menjelaskan kegiatan membuat kokedama saat Lebaran ini bertujuan untuk menjaga keakraban anggota. Selain itu ini bisa menambah manis rumah mereka. Kokedama yang sudah jadi lantas diunggah ke akun mereka masing-masing.

”Meski Lebaran, kegiatan positif tetap dilakukan. Barangkali kokedama yang kami buat ada yang minat dan lantas membeli. Jadi anggota komunitas benar benar Lebaran. Punya uang saat hari raya,” sebut Nasir.

TAMBAH ILMU: Remaja arek Bangil dan Beji panen sayur di kebun mereka sambil halalbihalal. (Foto Aquaponik for Jawa Pos Radar Bromo)

BARU: Berkebun kini menjadi alternatif baru bagi kaum milenial. (Foto Aquaponik for Jawa Pos Radar Bromo)

Berkebun dan Bisa Bawa Pulang Sayuran

Lain halnya dengan Komunitas Millenial Aquaponic. Komunitas yang beranggota mahasiswa dan siswa SMA asal Kecamatan Bangil dan Beji ini memilih berkegiatan di kebun sendiri. Mereka biasa ngobrol, berkeliling kebun, lalu membawa pulang sayuran hasil kebun tersebut.

Abdul Ali, ketua Komunitas Aquaponic, bercerita. Mereka rutin bertemu di lokasi kebun Aquaponic di Bangil. Saat bertemu, acara favorit adalah mengobrol banyak hal tentang sayuran yang lagi booming. Juga cara memasak sehat yang asik buat keluarga. Bahannya dipetik langsung di kebun. Namun, kumpul di kebun tidak terlalu lama.

Mereka biasanya cukup berkeliling untuk memanjakan mata. Melihat tanaman hijau yang tumbuh di antara pipa-pipa. Kegiatan ini diikuti dengan saling bercanda. Selanjutnya mereka pulang dengan membawa buah tangan sayuran untuk keluarga di rumah.

”Sayuran untuk stok bahan alternatif masak di rumah. Biar ada variasi. Apalagi biasanya kalau Lebaran masakan serba santan dan daging,” pungkasnya.

VIDEO CALL: Selain keliling kampung, beberapa remaja di Blawi menyapa teman-teman mereka di perantauan dengan video call. (M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Rayakan Offline maupun Online, Sama-sama Asyik

Berlebaran online sekaligus off line jadi pilihan. Larangan mudik memaksa masyarakat merayakan Lebaran di tempat masing masing. Meski begitu, kegiatan khas Idul Fitri tidak lantas hilang begitu saja. Masyarakat masih melaksanakan sonjo atau halalbihalal. Terbatas pada tetangga dekat dan kerabat di dalam Kabupaten dan Kota Pasuruan saja.

Tradisi sonjo itu dilakukan warga Dusun Blawi, Desa Masangan, Kecamatan Bangil. Kampung ini memiliki tradisi berkunjung selepas Salat Id. Bedanya, acara unjung-unjung di kampung ini didominasi remaja. Anak-anak muda milenial. Yang ikut sampai puluhan pemuda.

Salah satunya Toriqul Huda. Dia mengungkapkan, unjung-unjung itu merupakan agenda yang dtunggu-tunggu banyak orang di kampungnya. Semacam temu kangen. Mereka yang tinggal di luar kampung untuk bekerja atau merantau pulang. Berkumpul dan berkeliling kampung.

Tapi, suasana seperti itu tidak terjadi pada Lebaran kali ini. Tepatnya dua kali Lebaran ini. Karena pandemi Covid-19. ”Jadi enggak seperti dulu. Biasanya ramai sekali. Sekarang banyak yang enggak pulang kampung,” kata Toriqul.

Agar tradisi tidak hilang dan gaung suasana Lebaran tetap ada, dia tetap berkeliling kampung. Tapi, jumlah yang ikut sangat sedikit. Cuma tiga atau empat orang. Rute keliling dalam satu lingkungan RT saja.

”Sementara untuk yang jauh, kami memanfaatkan HP dengan silaturahmi secara daring. Baik ngobrol bersama dalam satu grup atau sendiri-sendiri,” jelasnya.

Anggota Komunitas Menulis Pasuruan (Komalpas) juga melakukan silaturahmi secara online. Sebab, anggota komunitas ini tidak tinggal di wilayah Pasuruan. Ada yang tinggal di Kota/Kabupaten Malang. Ada pula yang tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ketua Komalpas Hisyamuddin mengaku kegiatan silaturahmi dengan sesama anggota tetap jalan. Namun, tidak ada kegiatan saling kunjung. Sebaliknya, mereka memanfaatkan aplikasi WhatsApp. Sebab, rumah setiap anggota berjauhan. Para anggota memilih menggunakan fitur kirim pesan daripada video. Tradisinya, mereka memang memiliki passion pada literasi.

”Saling mengirim pesan bisa dalam bentuk pantun, kata kata indah, hingga puisi. Jadi, silaturahmi tetap jalan, namun fungsi utama literasi tidak terlupakan,” terangnya.

Lebaran juga berarti saat untuk bertukar cerita atau berfoto bareng. Momentum bersama teman, sahabat, dan kerabat tidak boleh terlewatkan. Komunitas Jalan Alam Pasuruan (Kojapas), misalnya, gemar berbagi foto anggota di lokasi wisata. Foto-foto kegiatan diunggah dalam media sosial milik pribadi. Seperti Facebook (Fb) dan Instagram (IG).

”Lewat foto yang disebar via medsos milik Kojapas dan pribadi, kami mengabarkan lokasi alam indah yang layak dikunjungi,” sebut Adi Zen, ketua Kojapas. (riz/far)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2