alexametrics
27C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Pasca Banjir Dringu, Cek Kesehatan Fisik Maupun Psikis Korban

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Tanggap saat bencana banjir Dringu sudah dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) maupun pelayanan kesehatan lain. Puskesmas Dringu berkolaborasi dengan Dinkes Kabupaten Probolinggo sudah menggelar pengobatan masal pada korban banjir. Mulai dari mendirikan posko kesehatan di tiga titik, sampai membentuk tim medis yang mobile dan jemput bola ke rumah warga korban banjir.

Titik posko kesehatan itu ditempatkan di Posko Kabupaten di kantor Kecamatan Dringu, tempat pengungsian pertama SDN Kedungdalem 1 dan SDN Dringu 1. Posko kesehatan itu melayani 24 jam, sekaligus memantau kondisi kesehatan warga korban banjir yang mengungsi. Sedangkan tim mobile terdiri atas dokter, petugas penyuluh, dan petugas laboratorium.

Tidak hanya fokus pada penanganan atau pengobatan pada warga korban banjir. Tetapi, sosialisasi pada warga pun dan memastikan psikis warga korban banjir menjadi perhatian khusus. Karena pelayanan kesehatan harus memastikan kondisi kesehatan secara fisik maupun psikis warga korban banjir.

LELAH: Warga Dringu membersihkan perabot rumahnya usai banjir menerjang beberapa waktu lalu. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

”Kami yang menjadi perhatian pada warga korban banjir tentu kesehatan fisik dan psikisnya. Karena kemungkinan besar, psikis warga korban banjir juga terpukul dengan bencana bajir itu,” kata Kepala Puskesmas Dringu dr. Lina Wahyu Indayati.

Pascabanjir, lanjut Lina, perlu juga pemahaman pada masyarakat terkait kewaspadaan penyakit di tengah bencana banjir. Supaya masyarakat lebih mawas diri dan hati-hati. Sehingga, mereka pun tidak sampai terserang penyakit yang rawan terjadi saat musim hujan atau banjir.

Pascabencana itu, psikis atau trauma. Ada yang di pengungsian gak mau balik, eh ternyata trauma. Jadi trauma healing. Ada tim dari Dinkes untuk trauma healing di tempat pengungsian. Bahkan, tim ini sudah menghibur sejumlah anak-anak yang menjadi korban banjir.

”Jangan sampai pascabanjir, muncul kasus DBD dan malah KLB DBD. Jadi, selain pengobatan juga ada penyuluhan kesehatan. Bahkan, warga tidak hanya diminta membersihkan lantai rumahnya dengan air biasa. Harus dicampur dengan disinfektan atau cairan pembersih bakteri,” ungkapnya. (arif mashudi/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Tanggap saat bencana banjir Dringu sudah dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) maupun pelayanan kesehatan lain. Puskesmas Dringu berkolaborasi dengan Dinkes Kabupaten Probolinggo sudah menggelar pengobatan masal pada korban banjir. Mulai dari mendirikan posko kesehatan di tiga titik, sampai membentuk tim medis yang mobile dan jemput bola ke rumah warga korban banjir.

Titik posko kesehatan itu ditempatkan di Posko Kabupaten di kantor Kecamatan Dringu, tempat pengungsian pertama SDN Kedungdalem 1 dan SDN Dringu 1. Posko kesehatan itu melayani 24 jam, sekaligus memantau kondisi kesehatan warga korban banjir yang mengungsi. Sedangkan tim mobile terdiri atas dokter, petugas penyuluh, dan petugas laboratorium.

Tidak hanya fokus pada penanganan atau pengobatan pada warga korban banjir. Tetapi, sosialisasi pada warga pun dan memastikan psikis warga korban banjir menjadi perhatian khusus. Karena pelayanan kesehatan harus memastikan kondisi kesehatan secara fisik maupun psikis warga korban banjir.

Mobile_AP_Half Page

LELAH: Warga Dringu membersihkan perabot rumahnya usai banjir menerjang beberapa waktu lalu. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

”Kami yang menjadi perhatian pada warga korban banjir tentu kesehatan fisik dan psikisnya. Karena kemungkinan besar, psikis warga korban banjir juga terpukul dengan bencana bajir itu,” kata Kepala Puskesmas Dringu dr. Lina Wahyu Indayati.

Pascabanjir, lanjut Lina, perlu juga pemahaman pada masyarakat terkait kewaspadaan penyakit di tengah bencana banjir. Supaya masyarakat lebih mawas diri dan hati-hati. Sehingga, mereka pun tidak sampai terserang penyakit yang rawan terjadi saat musim hujan atau banjir.

Pascabencana itu, psikis atau trauma. Ada yang di pengungsian gak mau balik, eh ternyata trauma. Jadi trauma healing. Ada tim dari Dinkes untuk trauma healing di tempat pengungsian. Bahkan, tim ini sudah menghibur sejumlah anak-anak yang menjadi korban banjir.

”Jangan sampai pascabanjir, muncul kasus DBD dan malah KLB DBD. Jadi, selain pengobatan juga ada penyuluhan kesehatan. Bahkan, warga tidak hanya diminta membersihkan lantai rumahnya dengan air biasa. Harus dicampur dengan disinfektan atau cairan pembersih bakteri,” ungkapnya. (arif mashudi/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2