alexametrics
26 C
Probolinggo
Friday, 27 November 2020

Waspadai Peredaran Bensin Oplosan

Belakangan ini, bensin (baca: premium) oplosan diduga marak beredar di Probolinggo. Keuntungan berlipat disinyalir menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah pihak nekat mengoplos bensin dan menjualnya.

——————–

MESKI tersembunyi dan tidak mudah dibuktikan, fakta tentang beredarnya bensin oplosan mulai terendus. Salah satu buktinya, kegelisahan masyarakat sebagai konsumen yang tergambar dalam sejumlah status di media sosial (medsos) facebook (FB).

Di beberapa akun FB, bensin oplosan itu disebutkan dijual secara eceran. Sebut saja pemilik akun FB Putra Prolink yang menyampaikan keresahannya melalui grup Info Lantas dan Kriminal Kota/Kabupaten Probolinggo.

“Hati-hati bos kalok (kalau) isi bensin sekarang banyak bensin palsu di desaku banyak korbannya,” begitu statusnya.

Grafis: Ach. Syaifudin/Radar Bromo

Postingan itu dibalas oleh banyak pemilik akun lain. Salah satunya, akun Malik Ayah e Nabila. Dia menulis,”tadi di bengkel ku vario 125 habis 700 ribu gara-gara bensin oplos. Ciri-cirinya bensin lebih bening de (banding) bensin asli, terasa lebih dingin, kalau kena tangan langsung kering.”

Jauh sebelum keresahan itu terjadi, setidaknya dua tersangka pengoplos bensin ditangkap Polres Probolinggo. Yang pertama, Lukman, 24, warga Desa Legundi, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo. Dia ditangkap Sabtu (5/9) sebagai tersangka pembuat, sekaligus pemasok bensin oplosan. Dia memasok bensin yang dioplos pada pengecer.

Yang kedua, Polres Probolinggo juga mengamankan Edi Wahyudi, 39, warga Desa Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Edi adalah tersangka pembuat, juga pengecer bensin oplosan. Dia ditangkap sebulan setelah Lukman ditangkap, yaitu Selasa (13/10).

Dua kasus yang diungkap Polres Probolinggo itu setidaknya menjadi gambaran bahwa bensin oplosan memang beredar dan dijual di masyarakat. Memang, baru dua tersangka yang diungkap. Namun, Polres Probolinggo mencurigai masih banyak penjual bensin oplosan dan kini masih dalam penyelidikan.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Rizki Santoso menduga kuat, masih banyak beredar premium eceran oplosan. ”Kami sudah amankan dua pelaku di dua TKP, yaitu Tiris dan Bantaran. Tapi diduga masih banyak beredar premium oplosan itu dan kami masih selidiki,” katanya.

Dia pun meminta masyarakat lebih berhati-hati saat membeli bensin jenis premium. Terutama jika ditemukan ada kecurigaan bahwa premium yang dibelinya itu berbeda, pihaknya mengimbau agar segera melapor ke kepolisian. ”Kami juga menyelidiki oknum penjual premium oplosan,” ujarnya.

Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo, Taufik Alami saat dikonfirmasi mengaku baru mengetahui beredarnya premium oplosan. Dia pun heran. Sebab, BBM jenis premium harganya paling murah saat ini.

”Malah kaget juga, premium (bensin) dioplos. Kalau dulu bensin dioplos dengan minyak tanah, tapi sekarang minyak tanah mahal. Eh, baru tahu kalau dioplos dengan bahan campuran lainnya,” terangnya.

Taufik mengatakan, sebenarnya penjualan BBM harus ada izinnya. Salah satunya, surat izin usaha dari kecamatan. Taufik pun berjanji akan menggali informasi tentang wilayah yang rawan terjadi peredaran premium oplosan.

”Nanti kalau sudah ada informasi, kami akan koordinasi dengan muspika. Karena selama ini, Disperindag terkait BBM tugasnya termologi atau pengukuran,” katanya.

 

Dicampur Kondensat, Keuntungan Berlipat

Terungkapnya dua tersangka pembuat dan penjual bensin (premium) oplosan, membuat Polres Probolinggo berhasil mengungkap juga cara membuat bensin oplosan. Bensin biasanya dicampur atau dioplos dengan kondensat.

Ilustrasi

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, kondensat merupakan hidrokarbon cair. Kondensat sendiri dalam dunia migas dikenal sebagai bahan utama pembuat tiner. Kondensat juga biasa digunakan sebagai pelarut cat, farmasi dan lem. Bahan ini biasa didapat dari toko cat atau bangunan.

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan Polres Probolinggo pada dua tersangka pengoplos bensin, mereka nekat menjual bensin oplosan, karena tergiur keuntungan berlipat. Sebab, harga kondensat sebagai bahan campuran separo dari harga jual premium eceran.

”Pengakuan dari pelaku penjual premium oplosan, keuntungannya kecil kalau menjual bensin asli. Sama dengan kulakan premium di SPBU dan menjualnya kembali. Tidak mungkin mereka nekat mengoplos, kalau bukan untuk dapat keuntungan besar,” kata Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Rizki Santoso.

Kasat Reskrim mengungkapkan, menjual bensin oplosan tentu tergiur keuntungan yang berlipat. Karena modal bensin oplosan sangatlah murah. Yaitu mencampur bensin dengan kondensat. Perbandingan, 1 banding 6.

Contohnya, 30 liter premium asli dioplos dengan 180 liter kondensat. Kemudian ditambah pewarna sedikit, untuk membuat warna hasil oplosan ini mirip dengan warna premium asli.

”Harga kondensat satu liternya hanya sekitar Rp 4.000. Kemudian dijual premium ecerannya itu sekitar Rp 8.000 per liternya. Jadi keuntungannya bisa dua kali lipatnya,” katanya.

Jika dihitung, dengan menjual 30 liter premium asli, penjual mendapat omzet Rp 240 ribu. Sementara bila dioplos, penjual bisa mendapat omzet 1.680.000.

Setelah omzet Rp 1.680.000 dikurangi biaya membeli kondensat 180 liter (seharga Rp 720 ribu), maka penjual bisa mendapat hasil Rp 960 ribu. Keuntungannya Rp 720 ribu dibanding menjual bensin premium asli.

Namun, Kasat Reskrim menegaskan, bensin oplosan sangat merugikan konsumen. Sebab, premium adalah bensin dengan kualitas paling rendah dibanding pertalite misalnya. Saat premium dioplos dengan bahan lain, maka bisa merusak mesin kendaraan bermotor tersebut.

”Kami sudah tahan dua pelaku penjual premium oplosan itu. Karena diduga kuat melakukan tindak pidana dugaan meniru atau memalsukan BBM dan gas bumi dan hasil olahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 UU Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak Dan Gas Bumi,” tegasnya.

Polres sendiri saat menangkap dua tersangka, juga menemukan bahan yang dipakai mencampur bensin premium. Yaitu, tiner atau kondensat.

Saat menangkap Edi Wahyudi, 39, di Desa Segaran, Kecamatan Tiris, dia kedapatan sedang mengoplos bensin dengan tiner di gudang miliknya.

Bensin yang sudah dioplos dengan tiner itulah yang kemudian dijual pada konsumen dengan cara diecer. Alasannya, karena menjual bensin oplosan dapat untung lebih banyak.

Di gudang itu, petugas Polres Probolinggo berhasil mengamankan sejumlah barang bukti (BB). Di antaranya, 4 drum BBM jenis premium dengan isi per drum 215 liter. Semuanya berisi BBM jenis premium yang sudah dicampur tiner.

Ada juga empat drum berisi 60 liter BBM premium asli, dan 10 jeriken plastik berisi 35 liter BBM premium siap edar yang sudah dicampur tiner. Kemudian, teko plastik putih untuk memindahkan BBM premium yang sudah dicampur dengan tiner ke jeriken plastik isi 35 Liter. Teko plastik hijau berisi pewarna untuk bahan campuran bensin oplosan.

Sementara Lukman, 24, warga Desa Legundi, Kecamatan Bantaran, yang ditangkap lebih awal juga mengoplos bensin dengan tiner atau kondensat. Sebelumnya, bensin dan tiner dicampur dalam sebuah wadah. Setelah rata, baru bensin oplosan itu dituang ke jeriken berukuran 35 liter.

Berdasarkan pengakuan pada petugas, pelaku Lukman baru sebulan melakoni aktivitas tersebut. Pelaku tergiur dengan keuntungan yang didapat saat menjual bensin oplosan.

Dari Lukman, petugas mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya 10 drum berisi 215 liter tiner/kondensat dan lima jeriken berisi 35 liter BBM jenis premium.

 

Di Luar Penyalur Resmi, Pertamina Tak Berwenang

Beredarnya informasi penjualan bensin (premium) oplosan eceran, baru diketahui Region Jatimbalinus PT. Pertamina. Namun, kewenangan PT. Pertamina dalam pengawasan hanya sampai di SPBU. Untuk mencegah praktik peredaran bensin oplosan, pihaknya menambah lembaga penyalur BBM resmi di pelosok desa.

Rustam Aji selaku Manager Communication & CSR Pertamina Pemasaran Regional Jatimbalinus saat dikonfirmasi mengatakan, kewenangan Pertamina dalam pengawasan hanya sampai lembaga penyalur resmi. Dalam hal ini SPBU atau Pertashop yang kini tengah dikembangkan.

Ilustrasi

Jika ada lembaga penyalur resmi yang terbukti terlibat dalam penjualan bensin oplosan itu, maka Pertamina bisa memberikan sanksi administratif. Mulai sanksi ringan, teguran, penghentian pasokan sementara sampai pemutuskan hubungan usaha. Jika sampai sanksi pemutusan hubungan usaha, maka tidak terikat dan tidak akan disuplai BBM lagi.

”Jika di luar lembaga penyalur BBM resmi, Pertamina tidak mempunyai kewenangan,” katanya.

Memang menurut Rustam, sejauh ini masyarakat diperbolehkan menjual kembali BBM jenis apapun dengan cara mengecer. Ini sebagai upaya mendekat ke masyarakat yang jauh dari SPBU. Namun, kewenangan pengawasan Pertamina hanya sampai SPBU dan Pertashop. Karena itu, masyarakat harus waspada akan praktik penjualan premium oplosan di tingkat pengecer.

”Sekarang kami sudah mulai menambah lembaga penyalur BBM resmi di pelosok desa, namanya Pertashop. Pertashop ini lembaga penyalur BBM resmi, bukan pertamini. Kalau pertamini itu penjual eceran. Pertashop ini pengawasannya di bawah Pertamina langsung. Sama halnya dengan SPBU,” terangnya.

Melalui Pertashop dikatakan Rustam, masyarakat dapat menikmati BBM dengan akses yang lebih dekat jangkauannya dan harga sama dengan SPBU. Total sudah ada 78 titik lembaga penyalur resmi di wilayah operasionalnya. Termasuk di Kabupaten Probolinggo, ada di Desa Dandang, Kecamatan Gading.

”Di Desa Dandang, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo ini, per harinya 1.100 liter kebutuhan BBM masyarakat dapat dipenuhi,” ungkapnya. (arif mashudi/hn)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Awal Mengeluh Greges, Nakes RSUD dr Saleh Positif Covid-19 Meninggal

Sumarsono meninggal setelah sempat dirawat selama 7 hari di RSUD dr Moh Saleh.

Hendak Parkir, Truk Tertabrak Motor di Nguling

Saat berbelok ke arah utara, sopir truk tak mengetahui ada motor melaju dari arah barat ke arah timur.

Guru Dituntut Kreatif Mengajar di Tengah Pandemi  

Di saat pandemi, tugas guru tidak hanya sebagai pengajar tapi juga pembelajar, karena harus menemukan ide kreatif agar pembelajaran tetap menyenangkan.

Kali Wrati Masih Tercemar, Dewan Soroti Pengalihan Limbah

Polemik limbah yang mencemari sungai Wrati di Kecamatan Beji belum berakhir.

Perbaikan Jalan di Kab Probolinggo Dilanjut Hingga Akhir Tahun

Adanya perbaikan tersebut tidak terlepas dari adanya perubahan anggaran (P-APBD) yang dilakukan pihak PUPR