alexametrics
33.9 C
Probolinggo
Wednesday, 20 October 2021

Cerita Warga Trajeng Sembuh dari Covid: Tak Malu karena Bukan Aib

PASURUAN, Radar Bromo – Terpapar Covid-19 sama sekali bukan hal memalukan. Itulah prinsip yang dipegang Soemitro agar cepat sembuh. Sebelum menjalani karantina di Hotel Semeru Kota Pasuruan, lelaki 53 tahun itu malah menyampaikan informasi bahwa dirinya terpapar. Teman-temannya pun segera tahu.

Soemitro mengungkapkan, dirinya terpapar Covid-19 pada 9 Juli. Saat itu, dia mengalami batuk dan pilek. Ketika hendak mandi, badannya menggigil. Kedinginan. Segera saja minum obat paracetamol.

Namun, tubuhnya tetap menggigil. Sampai tiga hari. Karena tidak ada perubahan, dicobanya mengonsumsi antibiotik. Tapi, sekujur tubuhnya justru memerah. Dia merasa seperti ditusuk-tusuk. Soemitro pun menyampaikan derita itu kepada temannya yang memiliki apotek.

“Teman saya itu langsung menduga saya kena Covid-19 varian Delta. Melihat gejala kulit memerah. Lalu, saya coba menghirup obat hirup, tapi tidak bisa membau. Coba mencium parfum juga tidak bau wangi,” ungkapnya.

Senin (13/7), Soemitro memeriksakan diri ke Puskesmas Trajeng. Saat ditanyakan keluhannya, dia langsung bilang dirinya kena Covid-19. Petugas puskesmas heran. Sebab, dirinya belum diperiksa, tapi langsung bilang kena Covid-19. Ternyata setelah dites PCR, hasilnya memang positif.

Setelah dinyatakan positif, pria yang tinggal di Jalan Sulawesi, Kelurahan Trajeng, Kecamatan Panggungrejo, itu menyampaikan kabar tersebut kepada keluarga, teman, hingga tetangga.

Soemitro lalu diisolasi di Hotel Semeru. Lamanya 14 hari. Selama diisolasi banyak kiriman makanan dari tetangga dan teman. Karena kirimannya banyak, dia membagi-bagikan kepada warga lain yang juga jalani isolasi.

“Kena Covid itu bukan aib. Justru saat saya kabari ke teman-teman, malah banyak yang mendoakan. Mendukung agar saya bisa sembuh. Ini membuat saya semangat untuk sembuh,” tegasnya.

Masa isolasi selesai. Setelah 14 hari, Soemitro dinyatakan sembuh. Dia berharap orang lain yang merasakan gejala sama bisa langsung periksa ke puskesmas. ”Tidak perlu takut. Kalau dibiarkan dan parah, malah bisa bahaya,” tuturnya. (riz/far)

PASURUAN, Radar Bromo – Terpapar Covid-19 sama sekali bukan hal memalukan. Itulah prinsip yang dipegang Soemitro agar cepat sembuh. Sebelum menjalani karantina di Hotel Semeru Kota Pasuruan, lelaki 53 tahun itu malah menyampaikan informasi bahwa dirinya terpapar. Teman-temannya pun segera tahu.

Soemitro mengungkapkan, dirinya terpapar Covid-19 pada 9 Juli. Saat itu, dia mengalami batuk dan pilek. Ketika hendak mandi, badannya menggigil. Kedinginan. Segera saja minum obat paracetamol.

Namun, tubuhnya tetap menggigil. Sampai tiga hari. Karena tidak ada perubahan, dicobanya mengonsumsi antibiotik. Tapi, sekujur tubuhnya justru memerah. Dia merasa seperti ditusuk-tusuk. Soemitro pun menyampaikan derita itu kepada temannya yang memiliki apotek.

“Teman saya itu langsung menduga saya kena Covid-19 varian Delta. Melihat gejala kulit memerah. Lalu, saya coba menghirup obat hirup, tapi tidak bisa membau. Coba mencium parfum juga tidak bau wangi,” ungkapnya.

Senin (13/7), Soemitro memeriksakan diri ke Puskesmas Trajeng. Saat ditanyakan keluhannya, dia langsung bilang dirinya kena Covid-19. Petugas puskesmas heran. Sebab, dirinya belum diperiksa, tapi langsung bilang kena Covid-19. Ternyata setelah dites PCR, hasilnya memang positif.

Setelah dinyatakan positif, pria yang tinggal di Jalan Sulawesi, Kelurahan Trajeng, Kecamatan Panggungrejo, itu menyampaikan kabar tersebut kepada keluarga, teman, hingga tetangga.

Soemitro lalu diisolasi di Hotel Semeru. Lamanya 14 hari. Selama diisolasi banyak kiriman makanan dari tetangga dan teman. Karena kirimannya banyak, dia membagi-bagikan kepada warga lain yang juga jalani isolasi.

“Kena Covid itu bukan aib. Justru saat saya kabari ke teman-teman, malah banyak yang mendoakan. Mendukung agar saya bisa sembuh. Ini membuat saya semangat untuk sembuh,” tegasnya.

Masa isolasi selesai. Setelah 14 hari, Soemitro dinyatakan sembuh. Dia berharap orang lain yang merasakan gejala sama bisa langsung periksa ke puskesmas. ”Tidak perlu takut. Kalau dibiarkan dan parah, malah bisa bahaya,” tuturnya. (riz/far)

MOST READ

BERITA TERBARU