alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Cerita Pilu Nasabah yang Terjerat Utang ke Rentenir dan Pinjol

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Berutang adalah cara yang kerap dilakukan seseorang. Saat terdesak, banyak orang memilih meminjam ke rentenir meski bunganya mencekik. Dalam survei ekonomi nasional (Susenas) 2020, di Kota Pasuruan ada 3,02 persen penduduk yang mengakses kredit ke rentenir. Mereka yang pernah terjerat, kesulitan untuk lolos. Rentenir kini juga berbasis online, sehingga semakin membuat orang tergiur untuk meminjam.

 

PESAN singkat itu muncul setiap hari di smartphone Agus. Isinya, iming-iming pinjaman uang. Bunga ringan dan proses pencairan cepat menjadi senjata untuk merayunya.

Awalnya, ia mengabaikan. Tapi, lambat laun ia akhirnya tertarik. Saat dirinya melihat isi dalam dompet kosong melompong. Apalagi, syarat yang ditawarkan mudah. Pembayaran pinjaman itu pun lama. Tiga puluh hari atau sebulan.

Ia pun membuka situs pinjaman online (Pinjol) tersebut. Instruksi di dalamnya, diikutinya. Termasuk permintaan admin agar bisa mengakses data pribadinya.  “Syaratnya cukup mudah. Hanya menunjukkan KTP, ID card, dan slip gaji,” kata Agus.

Karyawan swasta di salah satu pabrik di wilayah Bangil ini menambahkan, saat itu mengajukan pinjaman Rp 1 juta. Sayangnya, pengajuan pinjamannya hanya disetujui Rp 450 ribu.

Yang membuatnya geleng-geleng, ia harus membayar Rp 1 juta. Jatuh temponya, hanya tujuh hari. Bukan 30 hari. “Parahnya, kalau telat sebulan, dendanya bisa sampai Rp 1 juta lebih per bulannya,” tambahnya.

Waktu pun berlalu. Tibalah batas tempo pembayaran itu. Tujuh hari dari waktu ia meminjam uang. Ia belum punya uang. Sehingga belum mampu membayar angsuran.

Teror pun datang. Ia ditagih pihak “bank online“. Setiap hari, smartphone-nya tak berhenti berdering. Tagihan tak hanya via pesan. Tapi juga via telepon.

Dan ternyata, teror itu bukan hanya kepadanya. Nomor yang ada di handphone-nya, juga dihubungi. Pihak pinjaman online bisa mendapatkan akses nomor itu, ketika pendaftaran pinjaman di awal.

“Teman-teman saya dihubungi. Intinya, nagih utang ke saya. Nama saya benar-benar rusak gara-gara pinjaman online tersebut,” ungkapnya.

Karena terus bunga berbunga, pinjamannya pun semakin tinggi. Lebih dari Rp 2 juta. Nilai tersebut, jauh dari jumlah pokok yang dipinjamnya.

Hal itu, membuatnya kesal juga. Sampai-sampai, ia mengabaikannya. “Saya abaikan. Ternyata, beberapa bulan kemudian, tidak lagi ada penagihan,” tandasnya.

Lain cerita yang dialami Firman, 31. Pria yang kesehariannya tinggal di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, ini mengaku dirinya pernah terlibat dalam pinjol hinggal 10 aplikasi berbeda. Alasannya, saat itu ia terdesak butuh uang.

Awal mula, ia mengenal pinjol adalah saat ia iseng membuka aplikasi YouTube. Dan sebelum video dimulai ada iklan penawaran pinjol dari salah satu aplikasi. Ia pun mencoba mengunduh aplikasi tersebut dan ternyata aplikasi ini menawarkan pinjaman hingga Rp 10 juta. Dari sini, ia pun tertarik mengajukan pinjaman secara online.

“Tapi karena saya masih baru dan penghasilan saya tidak terlalu besar, ya saya hanya dapat limit pinjaman maksimal Rp 1,5 juta. Lama pinjaman waktu itu sekitar satu bulan. Saya hanya perlu mengisi sejumlah persyaratan saja,” jelasnya.

Berbagai persyaratan yang diminta di antaranya mulai dari KTP, identitas diri, foto diri, pekerjaan, hingga persyaratan pendukung lainnya, mulai dari besaran gaji, kartu BPJS, hingga kartu identitas karyawan di tempat kerja. Semakin lengkap persyaratan, maka kemungkinan diterima juga lebih besar. Selain itu, tingkat penghasilan juga menentukan besaran pinjaman yang diberikan.

“Persyaratannya relatif mudah. Kita hanya perlu mengisi persyaratan yang diminta. Beda dengan pinjaman konvensional yang cukup ribet. Kadang sampai minta ijazah pendidikan dan survei lokasi rumah juga,” sebutnya.

Karena mudahnya peminjaman ini, ia pun ketagihan. Bahkan, ia pernah meminjam di 10 aplikasi berbeda dalam satu waktu. Besaran pinjol yang diberikan antarapikasi, berbeda. Pengalamannya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Tapi saat dana dicairkan, peminjam tidak mendapatkan 100 persen, ada potongan biaya administrasi.

Misalnya, saat meminjam Rp 1 juta, maka yang diterima sekitar Rp 850 ribu. Lama peminjaman juga berbeda. Paling lama satu bulan dan paling cepat hanya satu minggu. Saat peminjam tidak mengembalikan tepat waktu, maka akan dikenakan denda per harinya. Denda ini berbeda antaraplikasi pinjol.

“Ada yang bunganya sekitar 0,3 persen dan ada pula yang lebih tinggi dari itu. Kalau tidak membayar tepat waktu, maka biaya yang harus dibayarkan ikut membengkak karena dihitung dengan keterlambatan,” terangnya.

Ia pun mengaku pernah mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan dalam pinjol ini. Ia terlambat membayar beberapa hari, maka pihak pinjol pun bolak balik menelepon untuk segera dibayar dengan nada ancaman. Isinya, jika tidak segera dibayar, maka identitas diri peminjam bisa bocor ke seluruh kontak peminjam.

“Karena pinjam di berbagai aplikasi, saat jatuh tempo saya menjadi kesulitan membayar. Bukan hanya saya saja yang diteror. Kontak saya seperti keluarga dan teman juga diteror bahwa saya punya utang dan jatuh tempo,” tuturnya.

Tapi, ia mengaku jika dirinya pernah mendapatkan pengalaman lucu saat terlambat. Saat itu, ada salah satu aplikasi pinjol mengancam bahwa dirinya akan dilaporkan ke RT/RW setempat. Ia pun akhirnya membayar. Ternyata usai dilunasi, pinjol itu malah berterima kasih dan mendoakan agar rezekinya lancar dan meminjam lagi kapan saja.

“Biar dilunasi ada juga pinjol yang memberikan alternatif dengan potongan denda asalkan bayar pada hari itu juga. Ada pula yang menawarkan asalkan pokok dibayar, denda tidak perlu dan bisa langsung pinjam hari itu juga,” bebernya.

ILUSTRASI

Diancam Didatangi ke Rumah

MESKI berbasis online, ancaman pinjol bukan hanya menyebar nomor telepon ke relasi. Koran ini sempat menemui R, warga Pasrepan. Dia mengaku pernah diancam hendak didatangi ke rumahnya oleh tukang tagih alias debt collector (DC).

R bercerita, setahun lalu memiliki utang kepada salah satu aplikasi. Nominalnya sekitar Rp 500 ribu. “Saya utang bukan bentuk uang fisik. Tetapi, uang digital untuk berbelanja,” katanya.

Utang tersebut hingga kini tidak dilunasi. Menurutnya, ia tidak melunasi karena sudah tidak bekerja. Karena tidak pernah mencicil utang, dia kerap mendapatkan teror dari DC. Dalam sehari bisa beberapa telpon masuk. Dan tiap harinya itu, berbeda-beda.

“Kalau mengancam membunuh tidak ada. Cuma ancamannya itu mau didatangi ke rumah,” katanya.

Jika di total dengan bunga, perkiraan utangnya sudah jutaan. “Utangnya Rp 500 ribu. Cairnya Rp  475 ribu setelah dipotong admin. Bunganya 10 persen. Mungkin ya sudah Rp 2 juta lebih,” katanya.

Untuk menyiasati teror, nomor yang didaftarkan R tidak diaktifkan. Atau, jika ada nomor yang tidak dikenal, tidak diangkat. Sampai kini, R juga belum pernah kedatangan tamu yang akan menagih utangnya. (one/riz/sid/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Berutang adalah cara yang kerap dilakukan seseorang. Saat terdesak, banyak orang memilih meminjam ke rentenir meski bunganya mencekik. Dalam survei ekonomi nasional (Susenas) 2020, di Kota Pasuruan ada 3,02 persen penduduk yang mengakses kredit ke rentenir. Mereka yang pernah terjerat, kesulitan untuk lolos. Rentenir kini juga berbasis online, sehingga semakin membuat orang tergiur untuk meminjam.

 

PESAN singkat itu muncul setiap hari di smartphone Agus. Isinya, iming-iming pinjaman uang. Bunga ringan dan proses pencairan cepat menjadi senjata untuk merayunya.

Mobile_AP_Half Page

Awalnya, ia mengabaikan. Tapi, lambat laun ia akhirnya tertarik. Saat dirinya melihat isi dalam dompet kosong melompong. Apalagi, syarat yang ditawarkan mudah. Pembayaran pinjaman itu pun lama. Tiga puluh hari atau sebulan.

Ia pun membuka situs pinjaman online (Pinjol) tersebut. Instruksi di dalamnya, diikutinya. Termasuk permintaan admin agar bisa mengakses data pribadinya.  “Syaratnya cukup mudah. Hanya menunjukkan KTP, ID card, dan slip gaji,” kata Agus.

Karyawan swasta di salah satu pabrik di wilayah Bangil ini menambahkan, saat itu mengajukan pinjaman Rp 1 juta. Sayangnya, pengajuan pinjamannya hanya disetujui Rp 450 ribu.

Yang membuatnya geleng-geleng, ia harus membayar Rp 1 juta. Jatuh temponya, hanya tujuh hari. Bukan 30 hari. “Parahnya, kalau telat sebulan, dendanya bisa sampai Rp 1 juta lebih per bulannya,” tambahnya.

Waktu pun berlalu. Tibalah batas tempo pembayaran itu. Tujuh hari dari waktu ia meminjam uang. Ia belum punya uang. Sehingga belum mampu membayar angsuran.

Teror pun datang. Ia ditagih pihak “bank online“. Setiap hari, smartphone-nya tak berhenti berdering. Tagihan tak hanya via pesan. Tapi juga via telepon.

Dan ternyata, teror itu bukan hanya kepadanya. Nomor yang ada di handphone-nya, juga dihubungi. Pihak pinjaman online bisa mendapatkan akses nomor itu, ketika pendaftaran pinjaman di awal.

“Teman-teman saya dihubungi. Intinya, nagih utang ke saya. Nama saya benar-benar rusak gara-gara pinjaman online tersebut,” ungkapnya.

Karena terus bunga berbunga, pinjamannya pun semakin tinggi. Lebih dari Rp 2 juta. Nilai tersebut, jauh dari jumlah pokok yang dipinjamnya.

Hal itu, membuatnya kesal juga. Sampai-sampai, ia mengabaikannya. “Saya abaikan. Ternyata, beberapa bulan kemudian, tidak lagi ada penagihan,” tandasnya.

Lain cerita yang dialami Firman, 31. Pria yang kesehariannya tinggal di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, ini mengaku dirinya pernah terlibat dalam pinjol hinggal 10 aplikasi berbeda. Alasannya, saat itu ia terdesak butuh uang.

Awal mula, ia mengenal pinjol adalah saat ia iseng membuka aplikasi YouTube. Dan sebelum video dimulai ada iklan penawaran pinjol dari salah satu aplikasi. Ia pun mencoba mengunduh aplikasi tersebut dan ternyata aplikasi ini menawarkan pinjaman hingga Rp 10 juta. Dari sini, ia pun tertarik mengajukan pinjaman secara online.

“Tapi karena saya masih baru dan penghasilan saya tidak terlalu besar, ya saya hanya dapat limit pinjaman maksimal Rp 1,5 juta. Lama pinjaman waktu itu sekitar satu bulan. Saya hanya perlu mengisi sejumlah persyaratan saja,” jelasnya.

Berbagai persyaratan yang diminta di antaranya mulai dari KTP, identitas diri, foto diri, pekerjaan, hingga persyaratan pendukung lainnya, mulai dari besaran gaji, kartu BPJS, hingga kartu identitas karyawan di tempat kerja. Semakin lengkap persyaratan, maka kemungkinan diterima juga lebih besar. Selain itu, tingkat penghasilan juga menentukan besaran pinjaman yang diberikan.

“Persyaratannya relatif mudah. Kita hanya perlu mengisi persyaratan yang diminta. Beda dengan pinjaman konvensional yang cukup ribet. Kadang sampai minta ijazah pendidikan dan survei lokasi rumah juga,” sebutnya.

Karena mudahnya peminjaman ini, ia pun ketagihan. Bahkan, ia pernah meminjam di 10 aplikasi berbeda dalam satu waktu. Besaran pinjol yang diberikan antarapikasi, berbeda. Pengalamannya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Tapi saat dana dicairkan, peminjam tidak mendapatkan 100 persen, ada potongan biaya administrasi.

Misalnya, saat meminjam Rp 1 juta, maka yang diterima sekitar Rp 850 ribu. Lama peminjaman juga berbeda. Paling lama satu bulan dan paling cepat hanya satu minggu. Saat peminjam tidak mengembalikan tepat waktu, maka akan dikenakan denda per harinya. Denda ini berbeda antaraplikasi pinjol.

“Ada yang bunganya sekitar 0,3 persen dan ada pula yang lebih tinggi dari itu. Kalau tidak membayar tepat waktu, maka biaya yang harus dibayarkan ikut membengkak karena dihitung dengan keterlambatan,” terangnya.

Ia pun mengaku pernah mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan dalam pinjol ini. Ia terlambat membayar beberapa hari, maka pihak pinjol pun bolak balik menelepon untuk segera dibayar dengan nada ancaman. Isinya, jika tidak segera dibayar, maka identitas diri peminjam bisa bocor ke seluruh kontak peminjam.

“Karena pinjam di berbagai aplikasi, saat jatuh tempo saya menjadi kesulitan membayar. Bukan hanya saya saja yang diteror. Kontak saya seperti keluarga dan teman juga diteror bahwa saya punya utang dan jatuh tempo,” tuturnya.

Tapi, ia mengaku jika dirinya pernah mendapatkan pengalaman lucu saat terlambat. Saat itu, ada salah satu aplikasi pinjol mengancam bahwa dirinya akan dilaporkan ke RT/RW setempat. Ia pun akhirnya membayar. Ternyata usai dilunasi, pinjol itu malah berterima kasih dan mendoakan agar rezekinya lancar dan meminjam lagi kapan saja.

“Biar dilunasi ada juga pinjol yang memberikan alternatif dengan potongan denda asalkan bayar pada hari itu juga. Ada pula yang menawarkan asalkan pokok dibayar, denda tidak perlu dan bisa langsung pinjam hari itu juga,” bebernya.

ILUSTRASI

Diancam Didatangi ke Rumah

MESKI berbasis online, ancaman pinjol bukan hanya menyebar nomor telepon ke relasi. Koran ini sempat menemui R, warga Pasrepan. Dia mengaku pernah diancam hendak didatangi ke rumahnya oleh tukang tagih alias debt collector (DC).

R bercerita, setahun lalu memiliki utang kepada salah satu aplikasi. Nominalnya sekitar Rp 500 ribu. “Saya utang bukan bentuk uang fisik. Tetapi, uang digital untuk berbelanja,” katanya.

Utang tersebut hingga kini tidak dilunasi. Menurutnya, ia tidak melunasi karena sudah tidak bekerja. Karena tidak pernah mencicil utang, dia kerap mendapatkan teror dari DC. Dalam sehari bisa beberapa telpon masuk. Dan tiap harinya itu, berbeda-beda.

“Kalau mengancam membunuh tidak ada. Cuma ancamannya itu mau didatangi ke rumah,” katanya.

Jika di total dengan bunga, perkiraan utangnya sudah jutaan. “Utangnya Rp 500 ribu. Cairnya Rp  475 ribu setelah dipotong admin. Bunganya 10 persen. Mungkin ya sudah Rp 2 juta lebih,” katanya.

Untuk menyiasati teror, nomor yang didaftarkan R tidak diaktifkan. Atau, jika ada nomor yang tidak dikenal, tidak diangkat. Sampai kini, R juga belum pernah kedatangan tamu yang akan menagih utangnya. (one/riz/sid/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2