Upaya Pemerintah Daerah di Pasuruan-Probolinggo Hadapi Kemungkinan Covid-19

Sejumlah wilayah di Indonesia kian berupaya mengantisipasi merebaknya wabah korona atau covid-19. Pemerintah daerah di wilayah edar Jawa Pos Radar Bromo, juga sudah mengambil langkah.

————-

Dari empat daerah, Kabupaten Probolinggo bahkan sudah sibuk sejak awal merebaknya virus yang sudah menewaskan ribuan orang tersebut. Itu terjadi ketika 25 mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo yang bersekolah di Tiongkok dipulangkan. Mereka telah diobservasi dan dinyatakan aman dari korona.

Walau mereka sudah dinyatakan aman, bukan berarti tidak ada tindak lanjut. Mereka tetap dalam pantauan Dinas Kesehatan melalui puskesmas tempat mahasiswa tersebut tinggal. Sehingga, perkembangan mereka tetap terpantau.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo mengimbau agar masyarakat tidak usah takut terhadap virus korona. Dinas Kesehatan telah mempersiapkan segala sesuatunya ketika misalnya ada warga yang suspect korona.

Hal itu diungkap Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Anang Budi Yoelijanto. Menurutnya, Pemkab Probolinggo adalah daerah yang serius dalam menghadapi virus tersebut. Salah satu contohnya, pemkab yang melakukan observasi kepada mahasiswa yang baru datang dari luar negeri, beberapa waktu lalu.

Dalam menghadapi virus yang mulanya berasal dari Wuhan, Tiongkok, tersebut pihaknya telah mempersiapkan segala hal. Mulai dari rumah sakit dan juga puskesmas. Mereka harus siap ketika ada warga yang suspect korona.

Ketika ada hal demikian, pihaknya akan langsung melakukan observasi kepada yang bersangkutan selama 28 hari. Selama itu, ia akan diamati dan diambil sampel darahnya dan dikirim ke Jakarta. Tujuannya, untuk memastikan positif atau negatif. Jika kemudian negatif, maka warga tersebut akan dikembalikan ke keluarganya.

“Tetapi, jika positif maka akan kami bawa ke rumah sakit rujukan. Di sini yang paling dekat adalah Malang, Surabaya, dan Jember,” ungkapnya.

Pihaknya meminta masyarakat tidak usah panik. Pasalnya, virus itu tidak akan mati dilawan dengan kepanikan. Justru yang bisa menangkal virus itu adalah dengan hidup higienis. Paling mudah, yaitu mencuci tangan sesering mungkin. Karena melalui tanganlah virus bisa masuk ke dalam tubuh.

“Penyebaran virus lebih ke seperti cairan. Karena itu, yang pakai masker adalah yang sakit. Sehingga, ketika kontak langsung, tidak menyebarkan virus ke yang lainnya,” terangnya.

Dinkes juga getol menyosialisasikan gerakan cuci tangan. Mulai dari instansi pemerintah hingga ke sekolah-sekolah. “Yang pasti jaga pola makan. Sering cuci tangan. Jangan takut dengan korona dan jangan panik,” terangnya.

CUCI TANGAN: Tim PPI dan PKRS di RSUD dr R Soedarsono memberikan penyuluhan cuci tangan pakai sabun maupun hand sanitizer. Upaya ini sebagai bentuk pencegahan virus korona kepada pengunjung. (Foto: Dok. Radar Bromo)

 

Pemkab Pasuruan Bentuk Satgas Antisipasi

Wabah virus korona yang masuk Indonesia juga mulai dihadapi serius Pemkab Pasuruan. Bahkan, Pemkab akhirnya membentuk satgas kesiapsiagaan dalam mengantisipasi virus korona di Kabupaten Pasuruan.

Bukan tanpa alasan mengapa siap siaga ini perlu dilakukan sejak dini. Sebab, diprediksi masih ada warga dari Kabupaten Pasuruan yang ada di luar negeri, belum pulang ke tanah air. Ini, terlihat karena sampai sekarang Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pasuruan mencatat, belum ada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Pasuruan yang bakal dipulangkan dalam waktu dekat ini.

Disnaker juga rutin menjalin komunikasi. Baik dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) sampai dengan Disnaker Pemprov Jawa Timur. Sebab, tiap tahun cukup banyak warga Kabupaten Pasuruan yang tercatat menjadi TKI keluar negeri. Namun, memang dari data setiap tahunnya, belum ada selama ini yang dikirim ke negeri Tiongkok. Dari data Disnaker, mayoritas dikirim ke Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, sampai Malaysia.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan juga telah menyiapkan diri dari segi medis. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Pasuruan Agus Eko Iswahyudi. Agus-sapaannya- menjelaskan, kasus virus korona atau covid-19 memang belum ditemukan di Kabupaten Pasuruan. Namun, kewaspadaan terhadap ancaman covid-19 ini sudah dilakukan. Salah satunya dengan membentuk Satgas Kesiapsiagaan Antisipasi Corona.

“Salah satu tugasnya memberikan sosialisasi masyarakat terhadap hal yang berkaitan dengan virus korona. Baik itu pencegahannya, penanganannya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan virus covid-19 ini,” jelas Agus saat mewakili Kadinkes Kabupaten Pasuruan Agung Basuki.

Agus menambahkan, satgas ini dibentuk bukan hanya dari unsur tenaga kesehatan, tetapi juga unsur kepolisian, yang fungsinya memberikan pemahaman kepada masyarakat yang berkaitan dengan masalah korona tersebut.

Tentu tugas dari satgas ini tidak hanya sekadar memberikan sosialisasi. Tetapi, juga penanganan jika benar-benar ada temuan kasus korona. “Ada petugas pelayanan kesehatan, ada pula surveyor jika ditemukan indikasi penyakit korona,” timpalnya.

Bukan hanya membentuk satgas. Antisipasi lainnya dengan membuat posko untuk menampung aduan atau informasi yang berkaitan dengan masalah korona.

“Kami juga menyiapkan posko khusus untuk menampung laporan ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan virus korona ini,” tambahnya yang menyebut posko tersebut disiapkan di kantor Dinkes Kabupaten Pasuruan.

Agus mengklaim, kalau belum memperoleh petunjuk berkaitan dengan ancaman virus korona tahap dua. Sejauh ini petunjuk yang diperolehnya dari pusat, berkaitan dengan korona sama. Misalnya, masalah inkubasi yang berlangsung selama dua sampai 14 hari.

“Untuk adanya perubahan karakter virus korona, kami masih belum memperoleh petunjuk lanjutan,” sambungnya.

Sementara itu, Humas RSUD Bangil Muhammad Hayat mengaku telah menyiapkan tempat khusus bagi pasien, seandainya suspect covid-19. Ruang khusus yang dimaksud adalah ruang isolasi yang disiapkan di RSUD Bangil.

“Kami sudah siapkan ruang isolasi untuk pasien yang diduga suspect korona,” bebernya.

Meski begitu, pihaknya berharap masyarakat tidak panik. Meski gejala korona mirip dengan flu pada umumnya, namun selama tidak bepergian ke luar negeri atau melakukan kontak dengan penderita korona, dimungkinkan akan sulit terjangkit korona. “Kemungkinan, hanya flu biasa. Jadi tidak perlu panik. Dan yang pasti, untuk menghindari itu, jaga kebersihan sangatlah penting,” pungkasnya.

Ilustrasi Penanganan pasien. (Foto: Istimewa)

 

Lakukan Pemantauan Mulai Tingkat Puskesmas

Temuan virus korona yang menjangkit dua warga Depok, Jawa Barat, membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan juga semakin waspada. Dinkes setempat melakukan pemantauan mulai dari tingkat kelurahan untuk mengantisipasi virus korona mewabah di Kota Pasuruan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Pasuruan dr Shierly Marlena mengungkapkan, di Kota Pasuruan belum ditemukan warga yang terjangkit virus korona. Namun, Dinkes semakin rutin melakukan pemetaan di masyarakat. “Saat ini di Indonesia yang terkena virus korona baru dua orang. Meski di Kota Pasuruan belum ada, cuma pemetaan masih rutin kami lakukan,” ungkapnya.

Shierly menjelaskan, Dinkes melakukan pemantauan di tingkat kelurahan melalui puskesmas. Utamanya untuk masyarakat yang baru pulang dari luar negeri dengan melakukan observasi. Seperti apakah ada riwayat kontak dengan penderita atau apakah mereka berasal dari luar negeri di negara yang masuk lokasi terjadinya virus korona.

“Namun, selama mereka tidak melakukan perjalanan ke luar negeri atau kontak dengan penderita, kemungkinan besar tidak apa-apa,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik. Asalkan mereka melakukan hidup sehat dan makan-makanan bergizi, maka virus korona akan sulit untuk menjangkiti tubuh yang sehat. Untuk tingkat lanjutan, Dinkes bekerja sama dengan RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan. Di sini pihaknya tetap menyediakan lima ruang isolasi bagi penderita korona. (sid/one/riz/fun)