Masker Langka, Polisi Pantau Penjualan, Jika Menimbun Bisa Dikenai Pidana

ADANYA informasi kelangkaan masker di Indonesia dampak wabah virus korona ikut mendapatkan atensi dari Polres Pasuruan Kota. Jumat (6/3), Polres Pasuruan Kota melakukan sidak ke sejumlah toko dan apotek di Kota Pasuruan. Dari sidak ini, ditemukan jika stok masker menipis dan ada yang dijual dengan harga berlipat.

Sejumlah lokasi yang didatangi oleh pihak kepolisian di antaranya, toko di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan/Kecamatan Purworejo dan apotek di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo. Sidak ini dipimpin langsung oleh Kapolres Pasuruan Kota AKBP Dony Alexander selama 30 menit sekitar pukul 10.30 hingga pukul 11.00.

Dalam sidak pertama, Kapolres Dony didampingi oleh Wakapolres Kompol Mario Prihatikno dan Kasatreskrim AKP Slamet Santoso. Kapolres lantas menanyakan stok masker pada salah seorang pegawai apotek Yap, Edy.

Edy menjelaskan jika stok masker di apotek sedang kosong. Stok masker terakhir habis pada Februari lalu karena diborong oleh salah seorang masyarakat.

“Terakhir stok masker di apotek kami itu pada Februari lalu. Saat itu adu dua boks. Namun, langsung diborong oleh seseorang dengan harga beli normal. Sejak saat itu, distributor masker tidak lagi mengirimkan stok masker lagi,” ungkapnya.

Salah seorang konsumen yang enggan disebutkan namanya di apotek Yap menyebutkan bahwa saat ini masker di Kota Pasuruan mengalami kelangkaan. Di toko dekat rumahnya saja dibatasi untuk membeli masker, yakni maksimal 5 buah. Namun, dengan harga lebih mahal dari harga normal. Satu masker yang biasa dibanderol Rp 700, dijual menjadi Rp 1.000.

“Iya masker saat ini memang dalam kondisi langka. Kalau beli selalu dibatasi. Tidak boleh beli banyak. Bahkan, ada salah satu toko di Kota Pasuruan yang pernah menjual Rp 250 ribu per boksnya,” jelasnya.

Mendengar kabar kelangkaan masker ini, Polres Pasuruan Kota langsung bergerak dan mengecek ke sejumlah toko di Jalan Hayam Wuruk. Dari sidak ini, Polres memang menemukan ada toko yang menjual masker dengan harga berlipat hingga Rp 100 ribu per boks.

Usai mendatangi apotek dan toko di kawasan Jalan Hayam Wuruk, tim Polres Pasuruan Kota melanjutkan sidak ke apotek Kimia Farma di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Di tempat ini polisi tidak menemukan stok masker.

Rosana, salah seorang petugas di apotek mengungkapkan kalau di apotek ini stok masker sudah kosong sejak Januari lalu. Pihak apotek sudah menyampaikan pada pihak distributor, namun hingga saat ini distributor tidak kunjung melakukan pengiriman.

Kapolres Dony menjelaskan, dari sidak ini pihaknya menemukan ada sejumlah lokasi dimana stok masker sangat terbatas. Namun, ia meminta agar masyarakat tidak khawatir dengan isu korona. Ia memastikan untuk sementara wilayah hukum Pasuruan Kota masih aman.

“Ini atas perintah dari Kapolri dan Kapolda Jatim agar tidak ada pihak yang melakukan penimbunan. Kami sendiri masih mendalami adanya permainan harga atau memang karena permintaan meningkat penyebab harga masker berlipat,” terang Dony.

Adanya beberapa stok menipis bahkan langka di apotek, dibenarkan Shierly, pelaksana tugas (Plt) kepala Dinkes Kota Pasuruan. Itu, terjadi di beberapa apotek. Sebab, apotek juga menunggu dari distributor.

Dia pun berharap agar masyarakat untuk bijak dalam menggunakan masker dan tidak memborong masker melampaui kebutuhan. Sebab, yang memerlukan masker adalah penderita. Tujuannya, untuk meminimalisasi jumlah masyarakat yang bisa terjangkit virus korona.

“Untuk Kota Pasuruan, saya pastikan stok masker di Dinkes dan RSUD dr R Soedarsono aman. Untuk apotek memang kosong. Namun, dalam beberapa hari ke depan akan kembali normal,” sebutnya.

SIBUK: Suasana di sebuah apotek. (Foto: Istimewa)

 

Pastikan Tak ada Penimbunan Masker

Salah satu dampak virus korona bukan hanya membuat harga masker naik. Tapi, juga hand sanitizer. Kenaikan itu dipicu akibat stok yang terbatas. Sementara, permintaan membeludak. Bahkan, belakangan banyak penimbun masker dan pembuat masker abal-abal (bekas) ditangkap di sejumlah daerah.

Menyikapi dinamika yang ada, Polres Probolinggo Kota (Polresta) pastikan di Kota Probolinggo belum ada aksi penimbunan dua barang tersebut. Seperti yang ditegaskan Kapolresta AKBP Ambaryadi Wijaya, Jumat (6/3) siang. Menurutnya, hingga kemarin belum ditemukan adanya penimbunan masker dan juga hand sanitizer. Meski demikian, pihaknya terus melakukan pemantauan mengenai dua hal itu. “Untuk penimbunan belum ditemukan, tapi kami pantau terus,” terangnya.

Menurutnya, selama ini stok untuk masker dan juga hand sanitizer memang tidak banyak. Hanya saja pasca maraknya kabar virus korona ini, sejumlah masyarakat berbondong -bondong untuk membelinya. Termasuk ada yang mengambil keuntungan di dalamnya dengan cara penimbunan dan dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Seperti yang ada di sejumlah daerah yang telah ditangkap oleh petugas.

Menyikapi harga masker dan juga hand sanitizer yang harganya mulai merangkak naik, Kepala DKUPP Kota Probolinggo Gatot Wahyudi mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang membahas masalah tersebut. Bahkan, dalam waktu dekat ia akan berkoordinasi dengan pihak terkait.

“Senin (9/3) rencananya kami adakan rapat dengan pihak terkait. Baik dari Dinkes dan juga kepolisian. Yang jelas untuk harga di apotek itu menjadi tanggung jawab dari Dinkes, sementara untuk yang di toko-toko perdagangan lainnya, jadi tanggung jawab kami. Sehingga, keputusannya bagaimana melihat hasil rapat Senin besok,” tambahnya.

Termasuk melakukan sejumlah kegiatan pengontrolan guna mengantisipasi adanya penimbunan. “Tapi, hingga saat ini kita belum menemukan adanya laporan jika ada penimbunan,” pungkas Gatot.

Di Kabupaten Pasuruan, tim satgas dari unsur kepolisian juga mengantisipasi adanya kelangkaan masker. Sebab, semenjak kasus korona mulai melanda di Indonesia, membuat banyak masyarakat memburu masker. Tak heran masker menjadi barang yang langka dan mahal.

Humas Polres Pasuruan AKP Hardi menuturkan, tim satgas terus melakukan pemantauan terhadap tempat-tempat penjualan masker. Termasuk apotek-apotek di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Memang, dampak dari korona membuat masker banyak diburu. Dampaknya, risiko barang tersebut ditimbun menjadi ancaman. “Itulah yang kami waspadai,” sambungnya.

Hanya saja, pihaknya menegaskan, saat ini belum ada laporan ataupun informasi terkait adanya penimbunan masker. “Kalau di wilayah Kabupaten Pasuruan, kami belum menemukan kasus penimbunan tersebut. Kalau peningkatan permintaan memang banyak. Itu yang membuat masker sedikit lebih mahal dan barangnya tidak semudah didapatkan seperti sebelumnya,” pungkas dia.

Ilustrasi

 

Jangan Sampai Ambil Keuntungan

Di Kabupaten Probolinggo, Polres Probolinggo mengimbau agar di daerahnya tidak ada warga yang coba-coba menimbun dan mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

Hal itu dikatakan oleh Kasubag Humas Polres Probolinggo Iptu Masykur. Menurutnya, menghadapi kasus virus korona, jangan sampai ada masyarakat yang mengambil keuntungan. Pasalnya, jika ada yang sengaja menimbun masker, maka akan di pidana.

“Seharusnya ini menjadi hal yang tidak dibuat untung. Karena itu, kami imbau agar masyarakat tidak mengambil dengan semakin banyaknya masyarakat mencari masker,” katanya.

Ancaman hukuman tak main-main dalam kasus penimbunan tersebut. Sebab, itu juga diatur pada Undang-Undang 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Dalam pasal 107 menjelaskan, jika masyarakat kedapatan menimbun barang pokok atau kebutuhan darurat, maka diancam ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda miliaran rupiah.

“Jadi, kami harap tidak ada yang main-main. Ini masalah serius yang tidak bisa dianggap enteng,” tandasnya.

Lebih lanjut, larangan penimbunan tersebut ada pada pasal 29 ayat 1. Pelaku usaha dilarang penyimpan bahan kebutuhan pokok dan atau barang penting (seperti masker, cairan antiseptik) dalam jumlah tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga atau hambatan lalu lintas perdagangan barang.

Sementara ini, kata Masykur, di daerahnya belum ada indikasi penimbunan barang. Tetapi, pihaknya akan terus memantau. Jika memang ada yang mencoba menimbun, maka pihaknya tak segan untuk melakukan penangkapan.

“Sementara belum ada. Tetapi, kami akan terus melakukan pemantauan sehingga hal itu tidak terjadi,” jelasnya. (riz/one/rpd/sid/fun)