alexametrics
30.3 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Geliat Ikan Asap Dringu; Asap Mengepul, Duit Terkumpul

Asap mungkin kerap mengganggu pengguna jalan yang melintas di Jalur Pantura Dusun Parsean, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Sebab, di sepanjang jalan itu, berderet penjual ikap asap. Namun, asap itu bagi warga adalah ‘bara’ yang mengangkat ekonomi mereka.

——————–

Bara bisa menjadi sumber api yang panas. Namun, bara dari arang para penjual ikap asap di Dusun Parsean itu adalah salah satu sumber kehidupan mereka. Dari menjual ikan asap, perekonomian warga setempat terangkat.

Di pinggir Jalan Pantura itu, sekitar 20 pedagang ikan asap berderet rapi. Memanfaatkan lahan di pinggir bahu jalan. Ada yang berjualan di selatan bahu jalan, ada juga yang berjualan di utaranya. Lokasinya tepat di perbatasan wilayah Kecamatan Dringu dengan Kecamatan Gending.

Karena berjualan tepat di tepi jalan, asap saat memanggang ikan pun kerap memenuhi badan jalan. Aromanya tercium langsung pengguna jalan, menggugah selera siapapun yang melintas. Membuat mereka tertarik berhenti sejenak. Kemudian membeli beberapa  ekor ikap asap.

Namun, tidak jarang asap putih yang bergulung itu dikeluhkan pengguna jalan. Membuat jarak pandang mereka terganggu sesaat. Memaksa pengendara motor misalnya, mengibaskan tangan mengusir asap demi mendapat jarak pandang yang kembali terang.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, setidaknya ada 20 pedagang ikan asap yang tampak berjualan di tepi Jalan Raya Dringu tersebut. Baik pedagang dengan lapak kecil, hanya menjual ikan asap. Hingga pedagang yang sampai membangun warung dan menyediakan nasi dan lauk ikan asap.

Selama Ramadan kemarin, warga yang membeli ikan asap selalu ramai tiap  harinya. Bahkan, lebih ramai dibanding tahun sebelumya saat pandemi Covid-19 sedang terjadi.

Tidak jarang, pengendara kendaraan bermotor yang melintas berhenti dan membeli ikan asap di sana. Seperti Rofit, 38, warga Besuki, Kabupaten Situbondo.

”Saya mau pulang ke Besuki. Karena melihat banyak pedagang ikan asap di sini, jadi tertarik membeli. Rencananya mau buat buka puasa di rumah nanti,” tuturnya.

Rahmawati, salah satu pedagang ikan asap mengatakan, Ramadan memang selalu memberi keberkahan bagi para pedagang ikan asap. Tahun ini misalnya, pembeli yang datang jauh lebih ramai dibanding Ramadan tahun lalu. Kondisi itu pun sangat disyukuri hampir semua pedagang ikan asap di sana.

”Alhamdulillah, lumayan ramai.  Terutama saat puasa kemarin, banyak yang beli,” kata warga Desa Tamansari, Kecamatan Dringu itu.

Harga ikan asal sendiri bervariasi. Antara Rp 10 ribu sampai Rp 100 ribu. Tergantung jenis dan ukuran ikan. Sehari, pedagang ikan asap di sana bisa mengantongi ratusan ribu untuk keuntungannya saja. Namun, semua itu tergantung pada tingkat keramaian pembeli.

Jualan ikan asap itupun mampu menopang perekonomian keluarga warga setempat. Warga yang biasanya di rumah tidak bekerja dan tidak menghasilkan uang, kini banyak yang berjualan ikan asap.

”Alhamdulillah. Usaha jual ikan asap ini bisa membantu ekonomi keluarga,” ungkap Suswati, 52, penjual ikan asap yang lain.

Namun, Suswati sadar asap dari bakaran ikan itu kerap dikeluhkan pengguna jalan yang melintas. Karena itu, dia mengaku siap ditata. Yang terpenting tetap bisa berjualan di lokasi yang sama.

Sebab, jika harus pindah ke tempat lain, dia khawatir malah sepi pembeli. Seperti saat para penjual ikan asap itu dipindah ke dekat pintu masuk Pantai Bentar.

”Dulu pernah dipindah ke sisi timur Pantai Bentar. Tapi sangat sepi pembeli. Akhirnya kami tetap jualan di tepi jalan ini,” kata pedagang asal Desa Randuputih, Kecamata Dringu itu.

 

Asap mungkin kerap mengganggu pengguna jalan yang melintas di Jalur Pantura Dusun Parsean, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Sebab, di sepanjang jalan itu, berderet penjual ikap asap. Namun, asap itu bagi warga adalah ‘bara’ yang mengangkat ekonomi mereka.

——————–

Bara bisa menjadi sumber api yang panas. Namun, bara dari arang para penjual ikap asap di Dusun Parsean itu adalah salah satu sumber kehidupan mereka. Dari menjual ikan asap, perekonomian warga setempat terangkat.

Di pinggir Jalan Pantura itu, sekitar 20 pedagang ikan asap berderet rapi. Memanfaatkan lahan di pinggir bahu jalan. Ada yang berjualan di selatan bahu jalan, ada juga yang berjualan di utaranya. Lokasinya tepat di perbatasan wilayah Kecamatan Dringu dengan Kecamatan Gending.

Karena berjualan tepat di tepi jalan, asap saat memanggang ikan pun kerap memenuhi badan jalan. Aromanya tercium langsung pengguna jalan, menggugah selera siapapun yang melintas. Membuat mereka tertarik berhenti sejenak. Kemudian membeli beberapa  ekor ikap asap.

Namun, tidak jarang asap putih yang bergulung itu dikeluhkan pengguna jalan. Membuat jarak pandang mereka terganggu sesaat. Memaksa pengendara motor misalnya, mengibaskan tangan mengusir asap demi mendapat jarak pandang yang kembali terang.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, setidaknya ada 20 pedagang ikan asap yang tampak berjualan di tepi Jalan Raya Dringu tersebut. Baik pedagang dengan lapak kecil, hanya menjual ikan asap. Hingga pedagang yang sampai membangun warung dan menyediakan nasi dan lauk ikan asap.

Selama Ramadan kemarin, warga yang membeli ikan asap selalu ramai tiap  harinya. Bahkan, lebih ramai dibanding tahun sebelumya saat pandemi Covid-19 sedang terjadi.

Tidak jarang, pengendara kendaraan bermotor yang melintas berhenti dan membeli ikan asap di sana. Seperti Rofit, 38, warga Besuki, Kabupaten Situbondo.

”Saya mau pulang ke Besuki. Karena melihat banyak pedagang ikan asap di sini, jadi tertarik membeli. Rencananya mau buat buka puasa di rumah nanti,” tuturnya.

Rahmawati, salah satu pedagang ikan asap mengatakan, Ramadan memang selalu memberi keberkahan bagi para pedagang ikan asap. Tahun ini misalnya, pembeli yang datang jauh lebih ramai dibanding Ramadan tahun lalu. Kondisi itu pun sangat disyukuri hampir semua pedagang ikan asap di sana.

”Alhamdulillah, lumayan ramai.  Terutama saat puasa kemarin, banyak yang beli,” kata warga Desa Tamansari, Kecamatan Dringu itu.

Harga ikan asal sendiri bervariasi. Antara Rp 10 ribu sampai Rp 100 ribu. Tergantung jenis dan ukuran ikan. Sehari, pedagang ikan asap di sana bisa mengantongi ratusan ribu untuk keuntungannya saja. Namun, semua itu tergantung pada tingkat keramaian pembeli.

Jualan ikan asap itupun mampu menopang perekonomian keluarga warga setempat. Warga yang biasanya di rumah tidak bekerja dan tidak menghasilkan uang, kini banyak yang berjualan ikan asap.

”Alhamdulillah. Usaha jual ikan asap ini bisa membantu ekonomi keluarga,” ungkap Suswati, 52, penjual ikan asap yang lain.

Namun, Suswati sadar asap dari bakaran ikan itu kerap dikeluhkan pengguna jalan yang melintas. Karena itu, dia mengaku siap ditata. Yang terpenting tetap bisa berjualan di lokasi yang sama.

Sebab, jika harus pindah ke tempat lain, dia khawatir malah sepi pembeli. Seperti saat para penjual ikan asap itu dipindah ke dekat pintu masuk Pantai Bentar.

”Dulu pernah dipindah ke sisi timur Pantai Bentar. Tapi sangat sepi pembeli. Akhirnya kami tetap jualan di tepi jalan ini,” kata pedagang asal Desa Randuputih, Kecamata Dringu itu.

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/