Perhatikan Kualitas Interaksi, Belajar di Rumah Jadi Kesempatan untuk Menjalin Kedekatan

KEBIJAKAN belajar di rumah sejak pandemi virus korona menyebar di Indonesia, dinilai memiliki sisi positif. Belajar di rumah meningkatkan kedekatan antara orangtua dan anak.

Hal ini diungkapkan Ciplis Tri Handayani, psikolog pendidikan di Kota Probolinggo. Secara teori menurutnya, belajar di rumah bisa meningkatkan kedekatan antara orangtua dan anak. Namun, juga perlu dilihat kualitas interaksi antara orangtua dan anak.

“Kualitas interaksi juga perlu diperhatikan, bagaimana orang tua membangun komunikasi dan interaksi dengan anak selama di rumah. Jika hanya asal dekat dan ketemu saja, kedekatan itu sulit terbangun,” tambahnya.

Kepala TK IT Permata ini menambahkan, sebenarnya ada dua tipikal anak-anak dalam menyikapi belajar di rumah. Ada anak yang suka kegiatan belajar di rumah. Ada juga yang tidak suka dan lebih senang belajar di sekolah.

“Pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial yang suka berinteraksi. Termasuk juga anak-anak. Tapi dengan menyikapi belajar di rumah ini, ada anak-anak yang suka belajar di rumah, ada juga yang tidak,” ujarnya.

Karena itu menurutnya, orang tua hendaknya bisa memberikan stimulan bagi anak selama belajar di rumah. Sehingga, anak tidak bosan atau betah di rumah.

Stimulan ini tidak hanya berupa kegiatan belajar dari materi pendidikan yang diberikan guru. Namun, juga bisa dalam bentuk lain. Seperti melakukan kegiatan olahraga.

“Dengan kondisi ini memang kegiatan olahraga juga terbatas. Apalagi kalau tidak memiliki halaman sendiri. Cukup olahraga di depan rumah,” ujarnya.

Cara lain menurutnya, memperkenalkan anak-anak dengan permainan tradisional atau permainan yang sebenarnya bisa dilakukan antara orang tua dan anak. Seperti dakon, kempyeng, dan bola bekel. Permainan lama ini bisa diperkenalkan kepada anak-anak selama masa belajar di rumah.

Sementara Ersa Septi Erianti, S. Psi banyak membahas perasaan bosan pada anak dan orang tua yang selama ini belajar di rumah. Menurutnya, bosan dan stres pada setiap individu berbeda penanganannya. Hal ini tergantung dari kepribadian seseorang.

“Misal orang yang introvert biasanya mengurangi stres dengan melakukan kegiatan dengan diri sendiri. Sedangkan yang ekstrover harus berkegiatan dengan orang lain,” terangnya.

Namun dengan keadaan physical distancing, maka sebaiknya menciptakan kegiatan sendiri yang melibatkan ketertarikan. Juga bisa merencanakan kegiatan bersama setelah semua ini selesai. Misalnya travelling.

“Bahkan dengan keadaan ini, justru sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk menjalin kedekatan. Kalau sebelumnya jarang ngumpul, karena aktivitas di luar, sekarang saat yang tepat untuk mendekatkan diri dengan keluarga,” ujarnya.

Di rumah, juga bisa dilakukan kegiatan bersama. Misalnya, masak bersama, nonton tv, dan bercerita bareng. Namun menurutnya, daripada fokus mengurangi stress, justru lebih baik memilih untuk fokus lebih produktif.

“Misalnya meningkatkan kemampuan diri sendiri. Seperti menjalankan hobi dan kesenangan yang selama ini sulit dilakukan. Juga bisa meningkatkan skill lain untuk kemampuan meningkatkan kerja,” jelasnya. (put/eka/hn)