alexametrics
25.9 C
Probolinggo
Friday, 28 January 2022

Ketika Populasi Kucing Kampung Naik

Mata Imam (bukan nama sebenarnya) begitu awas. Saat memotong daging, pria yang berjualan di salah satu pasar di Kota Pasuruan tersebut, juga menyiapkan batu di tangannya dan sesekali melihat sekawanan kucing di dekat lapaknya. Saat lengah, salah satu kucing berhasil menggondol daging di bawah meja. Seketika itu Imam melempar batu. Salah satunya kena hingga sekawanan kucing kabur.

——————–

SEMBARI misuh, pedagang lain hanya tertawa. Ada juga setuju dengan perbuatan Imam. Karena kucing-kucing tersebut dianggap meresahkan. Bikin kotor dan bisa membuat rugi pedagang seperti Imam.

Tetapi ada juga yang iba karena salah satu kucing yang terkena lemparan batu Imam, berdarah dan harus berlari dengan pincang. Sekawanan kucing yang kabur, semburat entah ke mana.

“Untung saja tidak ada yang merekam pakai handphone. Kalau divideokan, bisa viral. Nanti urusannya hukum. Sekarang kan zamannya begitu,” terang salah satu pedagang.

PUS MEONG: Kantor bank sampah di TPS yang menjadi tempat berteduh kucing. Nampak petugas di TPS melihat kondisi kucing. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Itu baru di tempat umum. Kasusnya lain lagi jika di rumah warga. Kucing-kucing kampung tak bertuan ada yang disiram air panas. Bahkan ada yang tega menembak dengan senapan angin. Kucing ini disamakan seperti hama. Dianggap hal yang mengganggu.

“Bagaimana tidak kesal. Kalau cuma seekor-dua ekor sih tidak masalah. Saya masih bisa ngasih makan. Tapi ini, setahun sudah dua kali bunting. Anaknya buanyaak lagi. Sampai 5 ekor,” keluh Santi, salah satu warga di Purutrejo.

Mata Imam (bukan nama sebenarnya) begitu awas. Saat memotong daging, pria yang berjualan di salah satu pasar di Kota Pasuruan tersebut, juga menyiapkan batu di tangannya dan sesekali melihat sekawanan kucing di dekat lapaknya. Saat lengah, salah satu kucing berhasil menggondol daging di bawah meja. Seketika itu Imam melempar batu. Salah satunya kena hingga sekawanan kucing kabur.

——————–

SEMBARI misuh, pedagang lain hanya tertawa. Ada juga setuju dengan perbuatan Imam. Karena kucing-kucing tersebut dianggap meresahkan. Bikin kotor dan bisa membuat rugi pedagang seperti Imam.

Tetapi ada juga yang iba karena salah satu kucing yang terkena lemparan batu Imam, berdarah dan harus berlari dengan pincang. Sekawanan kucing yang kabur, semburat entah ke mana.

“Untung saja tidak ada yang merekam pakai handphone. Kalau divideokan, bisa viral. Nanti urusannya hukum. Sekarang kan zamannya begitu,” terang salah satu pedagang.

PUS MEONG: Kantor bank sampah di TPS yang menjadi tempat berteduh kucing. Nampak petugas di TPS melihat kondisi kucing. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Itu baru di tempat umum. Kasusnya lain lagi jika di rumah warga. Kucing-kucing kampung tak bertuan ada yang disiram air panas. Bahkan ada yang tega menembak dengan senapan angin. Kucing ini disamakan seperti hama. Dianggap hal yang mengganggu.

“Bagaimana tidak kesal. Kalau cuma seekor-dua ekor sih tidak masalah. Saya masih bisa ngasih makan. Tapi ini, setahun sudah dua kali bunting. Anaknya buanyaak lagi. Sampai 5 ekor,” keluh Santi, salah satu warga di Purutrejo.

MOST READ

BERITA TERBARU