alexametrics
27 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Ini Catatan Apindo Pasuruan-Probolinggo soal THR di Tengah Pandemi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

DI tahun 2021, hampir semua perusahaan atau usaha di Probolinggo dan Pasuruan belum bisa bangkit setelah terpukul pandemi Covid-19 di tahun 2020. Meskipun berat, perusahaan tetap berusaha memenuhi hak THR karyawannya.

Di Kota/Kabupaten Probolinggo, Asosiasi Perusahaan Indonesia (Apindo) mencatat, sebagian perusahaan sudah memenuhi THR karyawannya. Namun, tidak dapat dipungkiri ada perusahan yang memberikan THR di bawah gaji pokok.

Wakil Ketua Apindo Kabupaten Probolinggo Suhardi mengatakan, Apindo menyerahkan urusan pembayaran THR pada perusahaan masing-maisng. Sebab, sampai saat ini pandemi masing terjadi. Dan kondisi keuangan semua perusahaan belum pulih. Terutama, pengusaha ritel, peracangan, warung-warung, hotel, dan jasa transportasi.

”Selama pandemi, yang tumbuh itu perusahaan di sektor kesehatan saja. Seperti rumah sakit, apotek, dan farmasi. Tapi secara keseluruhan, perusahaan menurun akibat pandemi Covid,” terangnya.

Sementara berdasarkan jenis modalnya, perusahaan dalam negeri yang paling terdampak pandemi Covid-19. Untuk perusahaan modal asing, biasanya investasinya dialihkan ke negara-negara lain.

THR sendiri, menurut Suhardi, aturannya memang diberikan sebesar satu kali gaji pokok. Namun, banyak perusahaan yang tidak bisa melakukannya. Seperti perusahaan ritel, sektor entrepreneur dan jasa transportasi.

”Ketentuan itu kembali ke masing-masing. Kalau sektor formal, menjadi tugas pemerintah untuk mengawasi,” terangnya.

Di Kota Probolinggo, APINDO setempat membeberkan hal serupa. Ketua APINDO Kota Probolinggo Tri Agung Cahyahadi mengatakan, selama pandemi banyak perusahaan yang rugi. Semua sektor terimbas. Terutama transportasi dan hotel. ”Sampai saat ini belum bisa bangkit,” ujarnya.

Meski demikian, hampir semua perusahaan di Kota Probolinggo memberikan THR. Meskipun perusahaan mengalami kerugian berat.

Tim Tripartit termasuk APINDO menurutnya, sudah turun ke perusahaan-perusahaan. Melakukan deteksi dini supaya perusahaan memberikan THR. Sampai saat ini, perusahaan-perusahaan yang dikunjungi bisa membayar THR.

”Memang dalam peraturan itu difasilitasi, perusahaan yang terdampak pandemi bisa melakukan perundingan tripartit di masing-masing perusahaan. Dikembalikan pada kemampuan perusahaan-perusahaan yang terdampak pandemi,” terangnya.

 

Tak Separah Tahun Lalu

APINDO Kabupaten Pasuruan juga mencatat bahwa kondisi ekonomi perusahaan belum pulih di tahun kedua pandemi terjadi. Namun, kondisinya tidak separah tahun lalu.

“Tahun ini pandemi belum usai. Ekonomi perusahaan pun belum pulih setelah terimbas pandemi sejak tahun 2020. Namun, memang kondisi sudah tidak separah tahun lalu,” terang Ketua APINDO Kabupaten Pasuruan Hendri Prihartanto.

Saat ini, perusahaan mulai merangkak naik. Produksi kembali berjalan, pemasaran pun mulai gencar.

“Tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Tapi kenaikan kegiatan produksi barang belum signifikan. Di beberapa perusahaan, sebagian mulai atau naik pelan-pelan,” katanya.

Perusahaan yang paling terpukul oleh pandemi menurutnya, perusahaan produksi alas kaki, seperti sepatu dan sandal. Disusul mebeler atau furnitur.

Namun, ada juga perusahaan yang stagnan, bahkan stabil. Seperti, barang elektronik, makanan dan minuman, juga rokok.

“Perusahaan yang paling terpukul adalah perusahaan produksi alas kaki dan furnitur. Baik itu PMDN maupun PMA,” tuturnya.

Menurunnya, produksi membuat perusahaan mengurangi jumlah karyawan. Ada yang mempertahankan karyawan, namun jam kerja mereka tidak penuh. Sehingga, gaji pun dikurangi 50 persen atau separonya.

“Kondisi ini tidak dapat dihindari. Namun, yang paling penting ada komunikasi dan saling pengertian antara manajemen perusahaan, pengusaha, dan buruh atau karyawan,” jelasnya.

Meski belum pulih, saat ini sebagian kecil perusahaan mulai membayarkan THR. Maksimal satu pekan sebelum Lebaran, harus tuntas.

“THR sudah mulai dibagi. Puncaknya sepekan sebelum Lebaran. Memang tidak dapat dipungkiri, beberapa perusahaan memberikan beberapa hari jelang Lebaran,” tuturnya.

Bahkan, APINDO mencatat belum ada laporan tentang perusahaan yang tidak membayarkan THR. “Kalau soal itu, sepengetahuan kami belum ada laporan. Perusahaan tetap memberikan THR, walaupun agak terlambat,” bebernya. (mas/zal/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

DI tahun 2021, hampir semua perusahaan atau usaha di Probolinggo dan Pasuruan belum bisa bangkit setelah terpukul pandemi Covid-19 di tahun 2020. Meskipun berat, perusahaan tetap berusaha memenuhi hak THR karyawannya.

Di Kota/Kabupaten Probolinggo, Asosiasi Perusahaan Indonesia (Apindo) mencatat, sebagian perusahaan sudah memenuhi THR karyawannya. Namun, tidak dapat dipungkiri ada perusahan yang memberikan THR di bawah gaji pokok.

Wakil Ketua Apindo Kabupaten Probolinggo Suhardi mengatakan, Apindo menyerahkan urusan pembayaran THR pada perusahaan masing-maisng. Sebab, sampai saat ini pandemi masing terjadi. Dan kondisi keuangan semua perusahaan belum pulih. Terutama, pengusaha ritel, peracangan, warung-warung, hotel, dan jasa transportasi.

Mobile_AP_Half Page

”Selama pandemi, yang tumbuh itu perusahaan di sektor kesehatan saja. Seperti rumah sakit, apotek, dan farmasi. Tapi secara keseluruhan, perusahaan menurun akibat pandemi Covid,” terangnya.

Sementara berdasarkan jenis modalnya, perusahaan dalam negeri yang paling terdampak pandemi Covid-19. Untuk perusahaan modal asing, biasanya investasinya dialihkan ke negara-negara lain.

THR sendiri, menurut Suhardi, aturannya memang diberikan sebesar satu kali gaji pokok. Namun, banyak perusahaan yang tidak bisa melakukannya. Seperti perusahaan ritel, sektor entrepreneur dan jasa transportasi.

”Ketentuan itu kembali ke masing-masing. Kalau sektor formal, menjadi tugas pemerintah untuk mengawasi,” terangnya.

Di Kota Probolinggo, APINDO setempat membeberkan hal serupa. Ketua APINDO Kota Probolinggo Tri Agung Cahyahadi mengatakan, selama pandemi banyak perusahaan yang rugi. Semua sektor terimbas. Terutama transportasi dan hotel. ”Sampai saat ini belum bisa bangkit,” ujarnya.

Meski demikian, hampir semua perusahaan di Kota Probolinggo memberikan THR. Meskipun perusahaan mengalami kerugian berat.

Tim Tripartit termasuk APINDO menurutnya, sudah turun ke perusahaan-perusahaan. Melakukan deteksi dini supaya perusahaan memberikan THR. Sampai saat ini, perusahaan-perusahaan yang dikunjungi bisa membayar THR.

”Memang dalam peraturan itu difasilitasi, perusahaan yang terdampak pandemi bisa melakukan perundingan tripartit di masing-masing perusahaan. Dikembalikan pada kemampuan perusahaan-perusahaan yang terdampak pandemi,” terangnya.

 

Tak Separah Tahun Lalu

APINDO Kabupaten Pasuruan juga mencatat bahwa kondisi ekonomi perusahaan belum pulih di tahun kedua pandemi terjadi. Namun, kondisinya tidak separah tahun lalu.

“Tahun ini pandemi belum usai. Ekonomi perusahaan pun belum pulih setelah terimbas pandemi sejak tahun 2020. Namun, memang kondisi sudah tidak separah tahun lalu,” terang Ketua APINDO Kabupaten Pasuruan Hendri Prihartanto.

Saat ini, perusahaan mulai merangkak naik. Produksi kembali berjalan, pemasaran pun mulai gencar.

“Tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Tapi kenaikan kegiatan produksi barang belum signifikan. Di beberapa perusahaan, sebagian mulai atau naik pelan-pelan,” katanya.

Perusahaan yang paling terpukul oleh pandemi menurutnya, perusahaan produksi alas kaki, seperti sepatu dan sandal. Disusul mebeler atau furnitur.

Namun, ada juga perusahaan yang stagnan, bahkan stabil. Seperti, barang elektronik, makanan dan minuman, juga rokok.

“Perusahaan yang paling terpukul adalah perusahaan produksi alas kaki dan furnitur. Baik itu PMDN maupun PMA,” tuturnya.

Menurunnya, produksi membuat perusahaan mengurangi jumlah karyawan. Ada yang mempertahankan karyawan, namun jam kerja mereka tidak penuh. Sehingga, gaji pun dikurangi 50 persen atau separonya.

“Kondisi ini tidak dapat dihindari. Namun, yang paling penting ada komunikasi dan saling pengertian antara manajemen perusahaan, pengusaha, dan buruh atau karyawan,” jelasnya.

Meski belum pulih, saat ini sebagian kecil perusahaan mulai membayarkan THR. Maksimal satu pekan sebelum Lebaran, harus tuntas.

“THR sudah mulai dibagi. Puncaknya sepekan sebelum Lebaran. Memang tidak dapat dipungkiri, beberapa perusahaan memberikan beberapa hari jelang Lebaran,” tuturnya.

Bahkan, APINDO mencatat belum ada laporan tentang perusahaan yang tidak membayarkan THR. “Kalau soal itu, sepengetahuan kami belum ada laporan. Perusahaan tetap memberikan THR, walaupun agak terlambat,” bebernya. (mas/zal/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2