Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Batu Akik Pirus yang Banyak Peminatnya

Ronald Fernando • Minggu, 16 Juli 2023 | 17:23 WIB
BANYAK: Rahmad Budi, menunjukkan sejumlah koleksi akik pirusnya. Ia gemar mengenakan akik pirus, termasuk dalam kegiatan sehari-hari. (Andi Wibowo/Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK: Rahmad Budi, menunjukkan sejumlah koleksi akik pirusnya. Ia gemar mengenakan akik pirus, termasuk dalam kegiatan sehari-hari. (Andi Wibowo/Jawa Pos Radar Bromo)

MEMBICARAKAN akik memang tak akan ada habisnya. Bagi penyukanya, akik tak pernah lekang. Apapun jenisnya. Apalagi jika menggemari jenis tertentu. Salah satunya pirus. Batu yang kerap digunakan sejak zaman Mesir kuno ini, hingga kini masih banyak banyak peminatnya.

Pemilik akik jenis pirus mempercayai batu jenis ini punya nilai lebih. Mereka sepakat bahwa pirus menjadi perhiasan bagi raja-raja dan anggota kerajaan. Mereka percaya, mengenakan pirus bisa meningkatkan rasa percaya diri. Ada juga yang menyebutkan, pirus digunakan sebagai pemberi keberuntungan.

Dari segi fisik, batu pirus biasanya punya motif cantik dengan warna biru dan hijau. Batu ini melambangkan keberhasilan. Tak sedikit yang menjadikannya sebagai “azimat.” Ciri lainnya adalah punya serat emas, merah, dan hitam. Jika dipakai, ada kesan eksentrik.

Inilah yang membuat harga pirus tetap stabil. Harga memang tergantung material maupun asalnya. Ada yang dari Iran, Arab Saudi, Dubai, dan Mesir. Dengan ciri-ciri berbeda dan punya kekhasan masing-masing.

BISA JADI CUAN: Sejumlah penyuka pirus berkumpul dalam sebuah acara.
BISA JADI CUAN: Sejumlah penyuka pirus berkumpul dalam sebuah acara.

Salah satu penyuka pirus, Rahmad Budi, 32. Warga Bugul Kidul, Kota Pasuruan, ini mengaku mulai membeli akik pertama pada 2006. Saat itu, belum paham betul tentang batu pirus. Bahkan, perlu waktu bertahun-tahun belajar supaya bisa paham.

“Mulanya dari hobi. Tapi, untuk pirus, akik ini menurut saya antik. Karena antara satu dengan yang lainnya tidak akan sama,” jelasnya.

Setelah mengenal berbagai macam jenis pirus, Rahmad akhirnya mencoba menjadi kolektor. Sejumlah pirus yang dimiliki juga menjadi hiasan di jari. Menjadi barang wajib untuk dipakai harian. Entah itu kerja atau sekadar nongkrong di warung kopi atau kafe.

Setali tiga uang. Hal yang sama juga dilakukan Ayi Suhaya. Ia juga menggemari pirus, menurutnya akik jenis ini keren. Tak heran pirus seakan menjadi aksesoris wajib. Baik di jari-jari tangan ataupun di bagian kalung.

“Saya gemar dengan akik. Tetapi, khusus pirus, koleksi paling banyak. Batu jenis ini paling cocok untuk dijadikan apapun. Warnanya bisa terang jika kena sinar,” ujar warga Sebani, Kota Pasuruan itu.

Ayi mengatakan, sejumlah koleksinya tidak hanya hanya didapat dari Pasuruan. Dia sering dapat entah dari pembeli atau dari kawannya. “Apalagi jika sudah cocok. Kadang-kadang tidak peduli dengan harga,” bebernya.

Sebagai penyuka pirus, memang akik jenis ini tidak sekadar jadi koleksi. Sebab jika sudah jadi jalan rezeki, bisa berubah menjadi rupiah. Inipun diakui Rahmad. “Kalau ada yang minat dan menawar lalu saya sudah bosan, saya lepas. Terpenting ada untung dong, he...he...he...,” ujarnya.

Penyuka pirus ataupun akik ini, paling mudah ditemui. Mereka kerap berkumpul di warung pojok ruko Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan. Di tempat ini, memang menjadi Basecamp KOMPAS (Komunitas Batu Pirus Pasuruan).

Di sana, penyuka pirus sering bertransaksi atau sekadar menjalin silaturahmi sesama penggemar. Jumlah mereka di basecamp makin banyak bila Sabtu. Bukan hanya dari Kota Pasuruan, ada juga yang dari Malang, Probolinggo, dan Surabaya. Saat berkumpul, mereka membawa akik andalannya.

“Kalau ada kecocokan dan ada yang senang, bisa transaksi. Atau barter tambah saja. Kumpulnya mulai pagi sampai malam. Alhamdulilah, banyak pemasukan di warung karena batu pirus ini,” beber pemilik warung di pojok Pasar Kebonagung, Samsul. (and/rud)

Editor : Ronald Fernando
#batu akik