KRAKSAAN, Radar Bromo - Rasa waswas masih menyelimuti warga di sekitar aliran Sungai Kertosono. Setelah sebelumnya tebing longsor terjadi di kawasan Jalan Gus Dur, kini giliran jalur penghubung Kelurahan Sidomukti menuju Desa Widoro yang tergerus.
Tebing sungai yang longsor kini hanya berjarak sekitar setengah meter dari badan jalan. Jika diguyur hujan deras dan debit air meningkat, bukan tak mungkin aspal ikut ambles.
“Sekarang jaraknya tinggal kira-kira setengah meter dari jalan. Kalau hujan besar turun semalaman, kami khawatir jalan ini ikut longsor,” ujar Lumanul, salah seorang warga Sidomukti, Rabu (4/3).
Menurutnya, retakan di tepi aspal mulai terlihat. Setiap hari kendaraan roda dua maupun roda empat melintas di jalur tersebut.
Selain menjadi akses utama warga menuju Desa Widoro, jalan itu juga dipakai anak sekolah dan petani.
“Kalau sampai putus, warga harus memutar jauh. Ini jalur vital. Apalagi pagi dan sore ramai,” imbuhnya.
Warga lain, Ayu Rahmawati, mengaku waswas setiap kali melintas. Terlebih saat malam hari ketika penerangan minim. “Kalau malam agak ngeri. Soalnya kami tidak tahu persis batas aman jalan dengan tebing. Takutnya tiba-tiba ambles,” katanya.
Warga berharap ada langkah cepat sebelum kondisi semakin parah. Minimal pemasangan penahan sementara atau pembatas di sisi jalan agar pengendara tidak terlalu mendekat ke titik longsor.
“Kami berharap segera ada penanganan. Jangan menunggu sampai benar-benar amblas atau ada korban,” tegas Suyono.
Koordinator Wilayah Probolinggo UPT PSDA Jatim, Muhammad Fachru Syahroni, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan monitoring rutin di sejumlah kecamatan yang memiliki potensi longsor tebing sungai.
“Pemantauan terus kami lakukan secara berkala. Terutama di titik-titik yang memang rawan terjadi longsor,” ujarnya.
Beberapa kejadian tebing sungai longsor sebelumnya tercatat berada di wilayah Kraksaan, Krejengan, Tegalsiwalan, Tongas Dringu, Pajarakan, hingga Paiton. Namun demikian, potensi serupa hampir merata di seluruh kecamatan di Kabupaten Probolinggo.
Ia mengaku telah mengetahui kejadian tersebut. Namun untuk penanganannya, pihaknya berada dalam posisi dilematis.
Sebab sejumlah tebing sungai yang longsor, beberapa diantaranya karena ada melanggar aturan sempadan sungai. Bahkan tidak hanya sempadan sungai, tetapi juga melanggar aturan sempadan jalan.
“Kalau kami perbaiki, maka tebing-tebing lain yang longsor dan di sempadannya terbangun bangunan juga akan meminta untuk diperbaiki,” jelasnya.
Karena itu, untuk sementara penanganan belum dilakukan. “Oleh sebab itu penanganannya kita skip dulu, menunggu perkembangan lebih lanjut,” tegasnya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid