PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat penanggulangan kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayahnya.
Berbagai program terus digencarkan untuk menekan angka kasus. Salah satu langkah inovatif muncul dari Puskesmas Pajarakan. Yakni, Gerakan Ojek Jemput dan Kawal (Gojek) TBC.
Inovasi yang dirancang untuk meningkatkan temuan kasus dan mencegah pasien putus minum obat ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan TBC berbasis komunitas.
Inovasi jemput bola ini melibatkan para kader TBC dari 12 desa di wilayah kerja Puskesmas Pajarakan. Mereka berkolaborasi dengan tenaga kesehatan (nakes) dari puskesmas setempat dalam menjalankan perannya.
Kepala Puskesmas Pajarakan dr. Maulida Rachmani, S.Ked. melalui Pelaksana Program TBC Puskesmas Pajarakan Sumiyati menjelaskan, dalam inovasi Gojek TBC ada tiga layanan yang menjadi fokus.
Yakni, penjemputan dahak di rumah pasien atau Pos TB yang sudah ditentukan, pengambilan obat bagi pasien TBC dan obat pencegahan. Serta, pendampingan minum obat.
Sumiyati mengungkapkan, Gojek TBC dirangkai dari inovasi Semangat Gempita (Semangat Gebrak Pintu Temukan TB Paru) yang diluncurkan pada 2018.
Sesuai namanya, inovasi Semangat Gempita dilaksanakan dengan melakukan kunjungan door to door ke rumah-rumah warga terduga TBC.
“Di situ kami melakukan anamnesa atau pengumpulan informasi awal kepada terduga. Setelah itu, terduga kami berikan pot atau wadah untuk sampel dahaknya. Namun, kenyataannya banyak yang tidak menyerahkan sampel itu ke puskesmas. Tentu ini menjadi hambatan,” ujar inovator Gojek TBC ini.
Lahirnya Gojek TBC juga didasari adanya pasien TBC yang mengalami putus minum obat atau tidak meminum obat secara teratur setiap hari. Penyebabnya, pasien atau keluarganya tidak mengambil obat TBC di Puskesmas.
“Putus obat juga terjadi karena tidak adanya pendampingan selama pengobatan, seperti pasien TBC dari kalangan lansia,” ungkapnya.
Akhirnya, dari beberapa kendala itu, lahirlah Gojek TBC pada 2021 lalu. Inovasi ini mulai diterapkan pada 2022 setelah terbitnya SK Inovasi pada November 2021.
Gojek TBC juga diganjar penghargaan dalam Anugerah Inovasi Daerah Kabupaten Probolinggo Tahun 2025 dalam Kategori Bidang Kesehatan.
Gojek TBC berhasil meningkatkan temuan kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Pajarakan. Pada 2021 atau sebelum ada Gojek TBC, temuan mencapai 35 kasus.
Pada 2022 atau sejak inovasi diterapkan, temuannya menjadi 65 kasus, meningkat menjadi 70 kasus pada 2023 dan menjadi 86 kasus pada 2024. Hingga akhir November 2025 temuan mencapai 98 kasus.
“Semakin banyak temuan kasus, akan semakin banyak juga terduga atau kasus baru terdeteksi. Upaya penanganan juga bisa cepat dilakukan, sehingga rantai penularan TBC bisa segera diputus. Ini juga untuk mendukung target Indonesia mencapai eliminisi TBC pada tahun 2030,” jelasnya.
Temuan terduga TBC merupakan salah satu indikator dalam standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan. Yakni, indikator ke-11, tentang pelayanan kesehatan orang terduga TBC. “Capaian SPM ini akan berdampak pada indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Probolinggo,” katanya.
Selain meningkatkan temuan kasus, Gojek TBC juga berhasil meningkatkan temuan terduga. Dari temuan-temuan itu, berimbas pada angka keberhasilan pengobatan pada pasien TBC. Hal ini menunjukkan Inovasi Gojek TBC benar-benar berperan besar dalam menanggulangi kasus TBC, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Pajarakan. (uno/*)
CAPAIAN GOJEK TBC
Tahun 2021 (Sebelum Inovasi)
Penemuan Kasus
Target: 76 kasus
Capaian: 35 kasus
Penemuan Terduga
Target: 457 orang
Capaian: 61 orang
Keberhasilan Pengobatan
Target: 90 persen
Capaian: 97,14 persen
Tahun 2022
Penemuan Kasus
Target: 74 kasus
Capaian: 65 kasus
Penemuan Terduga
Target: 380 orang
Capaian: 477 orang
Keberhasilan Pengobatan
Target: 90 persen
Capaian: 97,06 persen
Tahun 2023
Penemuan Kasus
Target: 76 kasus
Capaian: 70 kasus
Penemuan Terduga
Target: 410 orang
Capaian: 570 orang
Keberhasilan Pengobatan
Target: 90 persen
Capaian: 93,33 persen
Tahun 2024
Penemuan Kasus
Target: 90 kasus
Capaian: 86 kasus
Penemuan Terduga
Target: 438 orang
Capaian: 570 orang
Keberhasilan Pengobatan
Target: 90 persen
Capaian: 94,29 persen
Tahun 2025
Penemuan Kasus
Target: 90 kasus
Capaian: 98 kasus
Penemuan Terduga
Target: 486 orang
Capaian: 590 orang
Keberhasilan Pengobatan
Target: 90 persen
Capaian: 94 persen