Pemilik pabrik, Nur Hasan mengatakan, mesin dryer yang diduga kuat menjadi sumber kebakaran baru dimilikinya. Ia mendapatkan mesin tersebut seminggu sebelum kebakaran hebat terjadi.
Dalam jangka waktu tersebut, ketangguhan mesin masih dalam tahap uji coba. Sehingga, hal-hal terburuk dapat terjadi saat kondisi mesin tidak baik.
"Sebenarnya mesin dryer itu masih masa uji coba. Saya menduga kuat memang sumber kebakaran dari situ. Sebab, saat saya cek dari sisi sebelah utara, persis di posisi mesin dryer," ungkapnya.
Kebakaran tersebut menghanguskan stok bahan baku palet kayu. Tidak tanggung-tanggung, stok tersebut beserta bahan baku pelengkap lainnya bernilai sekitar Rp 500 juta. Semuanya kini hanya menyisakan abu.
https://radarbromo.jawapos.com/daerah/kraksaan/07/04/2023/pabrik-pengolahan-kayu-di-gending-terbakar-tujuh-jam/
Lalu, sebuah kendaraan berat loader turut tebakar beserta mesin produksi lainnya. Alat-alat ini jika dinominalkan dapat mencapai Rp 500 juta.
"Total kerugian sekitar Rp 1 miliar. Mulai dari stok bahan yang ada di pabrik, alat, mesin, dan kendaraan berat," tuturnya.
Menurutnya, saat kebakaran jaringan listrik dipadamkan. Sebab, sisi timur mesin dryer merupakan panel listrik. Perlu ada pemutusan jaringan sementara. Hal ini dilakukan agar tidak ada korsleting atau gangguan listrik yang kebakaran semakin parah.
"Saat kejadian saya juga menghubungi pihak PLN agar segera dilakukan pemadaman listrik. Sebab, saya khawatir akan terjadi korsleting," bebernya. (ar/hn) Editor : Jawanto Arifin