Pupuk Bersubsidi Hanya Disetujui Pengurangan untuk Jenis ini

RAWAT LAHAN: Petani cabai di Tiris menggarap lahan sawahnya. Pemprov Jatim sudah merealokasi pupuk subsidi untuk Kabupaten Probolinggo, dan hasilnya beberapa jenis dikurangi. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

DRINGU, Radar Bromo –  Usulan realokasi pupuk bersubisidi sudah diajukan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo. Realokasi itu diajukan ke Pemprov Jatim, akibat tidak berimbangnya jumlah pupuk dengan permintaan petani.Hasilnya, Pemprov Jatim hanya menyetujui usulan pengurangan pupuk yang memiliki alokasi lebih banyak.

Dalam usulan pengurangan pupuk bersudisi itu, Pemprov Jatim hanya mengabulkan pengurangan pupuk organik sebanyak 2.268 ton atau 16,83 persen dari alokasi awal. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan usulan yang telah diajukan. Sebab sebelumnya DKPP mengusulkan pengurangan pupuk sebanyak 5.000 ton.

“Realokasi pupuk awalnya yang diusulkan penambahan dan pengurangan pupuk. Namun Jumat (24/7) lalu pemprov hanya menyetujui usulan pengurangan,” ujar Bambang Suprayitno, Kabid Sarana dan Prasarana DKPP.

Tak hanya itu, banyaknya sisa alokasi pupuk jenis NPK pun turut dikurangi sebanyak 37 ton atau 0,16 persen dari alokasi awal. Pertimbangan pengurangan untuk menyeimbangkan serapan pupuk bersubsidi di daerah di Jawa Timur.

“Pupuk NPK terjadi pengurangan. Sebab sisa alokasi masih banyak, sedangkan serapannya begitu rendah. Sehingga kelebihan alokasi dialihkan kepada daerah yang serapannya lebih tinggi,” terangnya.

Sementara itu, usulan penambahan dua jenis pupuk yang belum disetujui saat diusulkan beberapa pekan lalu. DKPP berencana akan mengirimkan surat kepada Ditjen Sarana dan Prasarana Pertanian untuk mempertimbangkan usulan yang telah diajukan. Mengingat jumlah sisa alokasi saat ini diprediksikan tidak akan mencukupi kebutuhan pupuk petani.

“Pupuk Urea dan ZA permintaannya cukup tinggi, penyalurannya sudah lebih dari 50 persen dari alokasi yang tersedia. Usulan penambahan sebelumnya jenis urea 14.700 Ton dan ZA 10.000 Ton,” katanya.

Bambang menegaskan jika jumlah ini masih akan dievaluasi, dengan mempertimbangan jumlah e-RDKK yang bertambah pada setiap bulannya. Sehingga usulan yang telah dikirimkan kepada Ditjen, sesuai dengan kebutuhan pupuk yang diperlukan oleh petani.

“Tetap kami upayakan, sebab pupuk berpengaruh pada kualitas dan kuantitas hasil pertanian guna untuk meningkatkan ketahanan pangan,” tuturnya. (ar/fun)