alexametrics
25C
Probolinggo
Wednesday, 27 January 2021

Dampak Cuaca, Produsi Batik Lambat, Pesanan Belum Stabil

KRAKSAAN, Radar Bromo – Memasuki musim hujan sejumlah pembatik di Kabupaten Probolinggo, mulai menemui kendala. Proses produksi mereka melambat karena pengeringan butuh waktu lebih lama.

Gangguan produksi itu salah satunya diungkapkan perajin batik asal Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Mahrus Ali. “Saat musim hujan seperti sekarang, produksi mengalami keterhambatan. Utamnya pada proses pengeringan,” ujarnya, kemarin.

Mahrus mengatakan, pengeringan selembar batik ketika musim hujan dibutuhkan waktu sekitar dua hari. Padahal, ketika kemarau cukup sehari saja. “Keterlambatannya hanya sehari. Itu lantaran saya menggunakan kipas angin dalam proses pengeringan. Metode pengeringannya dengan dianginkan,” jelasnya.

Gangguan tidak hanya terjadi pada proses pengeringan. Namun, juga pada tingkat produksi. “Misalnya dalam sehari enam kain yang diproduksi, saat ini hanya empat kain batik. Jadi, mengalami penurunan,” ujarnya.

Pria yang juga adalah ketua Asosiasi Batik dan Bordir Kabupaten Probolinggo, ini menjelaskan, sama sepeti tahun lalu, adanya penurunan produksi ini juga berimbas pada omzet. Talu omzet pada musim kemarau Rp 60-75 juta.

“Pada musim hujan tahun sebelumnya omzetnya Rp 30 juta. Ditambah saat ini masih masa pandemi Covid-19. Jelas juga sangat berpengaruh pada pesanan batik. Di tempat saya kalau dilihat untuk saat ini penurunanya sekitar 10 persen,” ujarnya.

Di samping itu, guna menyiasati pesanan yang juga menurun, Mahrus mengaku merambah penjualan ke luar daerah. Upaya ini cukup berhasil. Malah, pesanan paling banyak dari luar daerah.

“Namun, jenisnya batik premium. Harganya pada Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Untuk pesanan dalam daerah juga mulai ada, namun masih belum stabil,” ujarnya. (mu/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU