Petani Garam di Kab Probolinggo Terdongkrak Musim Sayur

DIBERSIHKAN: Seorang petani garam di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, membersihkan tambaknya untuk kembali memproduksi garam. Kini penjualan garam meningkat setelah memasuki musim tanam sayur. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN, Radar Bromo – Musim tanam sayur di daerah pegunungan di Kabupaten Probolinggo, berdampak positif terhadap penjualan garam. Sebab, banyak petani sayur pegunungan yang menggunakan garam sebagai bahan campuran tanahnya.

Salah seorang petani garam di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Suparyono mengatakan, pesanan garam dari petani sayur pegunungan mulai berdatangan sejak pekan lalu. Biasanya garam itu nantinya ditabur di lahan pertanian sebelum dimulai proses penanaman.

“Alhamdulillah sudah masuk musim tanam, penjualan ke pegunungan mulai lancar, seperti ke Krucil dan Tiris. Karena biasanya garam ini akan ditabur ke tanah sebelum kubisnya di tanam,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dengan tambahan permintaan dari petani sayur, kini persedian garam di gudangnya mulai menipis. Sebab, selain melakukan pengiriman ke daerah-daerah lain, para petani sayur setempat juga memesan dalam jumlah banyak.

“Seminggu ini total ada 50 ton yang saya kirim. Jadi, bukan hanya ke luar kota, tapi juga ke petani sayuran. Yang ke petani saja sudah ada puluhan ton. Makanya stok garam di sini mulai tidak ada, nunggu panen lagi garamnya,” ujarnya.

Ketua Himpungan Masyarakat Petani Garam Kabupaten Probolinggo Junari mengatakan, garam memang mempunyai banyak manfaat bagi petani sayur. Mereka biasa menaburi lahannya dengan garam untuk membuat tanamannya lebih sehat.

Melihat kondisi ini, Junari meyakini harga garam akan meningkat setelah beberapa waktu harganya bertahan di harga Rp 450 ribu per ton. “Salah satu manfaat dari garam itu ketika ditabur ke lahan tanaman, tanamannya bisa terhindar dari serangan hama. Kalau ini berlanjut, harga garam bisa naik karena stok di tambak sudah mulai berkurang,” jelasnya. (mg1/rud/fun)