alexametrics
30.5 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Pesimistis Target Budi Daya Perikanan Tak Tercapai

DRINGU, Radar Bromo – Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Probolinggo cukup kewalahan untuk mencapai targetnya. Pandemi yang berkepanjangan menjadi alasannya. Selama pandemi produksi ikan budi daya tahun ini terpengaruh.

Kasi Produksi Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan Asmiyati Kurnianingsih mengatakan, pandemi tahun ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Di tahun ini harga beberapa jenis ikan budi daya turun.

“Tahun lalu saja, untuk udang vaname harganya masih tinggi. Tembus Rp 55 ribu perkilogram. Beberapa waktu lalu, sempat anjlok sampai Rp 48 ribu,” Ujarnya.

Ia menyebutkan, capaian ikan budi daya hingga September ini ada pada 45 persen dari target ikan budi daya 13.000 ton. Dengan begitu, Asmi menyebutkan, pihaknya sangat mengalami kesulitan untuk mencapai target tersebut.

“Tahun ini kami sangat kesulitan. Sehingga kami tidak bisa optimis bisa mencapai target tahun ini,” Ujarnya.

Ia menyebutkan pandemi yang berkepanjangan ini mempengaruhi proses penjualan ikan budi daya keluar maupun ke dalam daerah. Sebab pandemi juga membatasi proses jual beli.

“Misal di rumah makan, saat ini juga terimbas. Sehingga itu mempengaruhi penjualan,” Ujarnya.

Apa solusi untuk bisa terus menggenjot produksi agar target tercapai? Asmi menyebutkan pihaknya, pihaknya juga tidak dapat berbuat banyak. “Misal kami genjot produksi terhadap beberapa pembudidaya. Nanti siapa yang akan membeli. Sebab, proses ekspor juga terganggu,” ujarnya. (mu/fun)

DRINGU, Radar Bromo – Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Probolinggo cukup kewalahan untuk mencapai targetnya. Pandemi yang berkepanjangan menjadi alasannya. Selama pandemi produksi ikan budi daya tahun ini terpengaruh.

Kasi Produksi Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan Asmiyati Kurnianingsih mengatakan, pandemi tahun ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Di tahun ini harga beberapa jenis ikan budi daya turun.

“Tahun lalu saja, untuk udang vaname harganya masih tinggi. Tembus Rp 55 ribu perkilogram. Beberapa waktu lalu, sempat anjlok sampai Rp 48 ribu,” Ujarnya.

Ia menyebutkan, capaian ikan budi daya hingga September ini ada pada 45 persen dari target ikan budi daya 13.000 ton. Dengan begitu, Asmi menyebutkan, pihaknya sangat mengalami kesulitan untuk mencapai target tersebut.

“Tahun ini kami sangat kesulitan. Sehingga kami tidak bisa optimis bisa mencapai target tahun ini,” Ujarnya.

Ia menyebutkan pandemi yang berkepanjangan ini mempengaruhi proses penjualan ikan budi daya keluar maupun ke dalam daerah. Sebab pandemi juga membatasi proses jual beli.

“Misal di rumah makan, saat ini juga terimbas. Sehingga itu mempengaruhi penjualan,” Ujarnya.

Apa solusi untuk bisa terus menggenjot produksi agar target tercapai? Asmi menyebutkan pihaknya, pihaknya juga tidak dapat berbuat banyak. “Misal kami genjot produksi terhadap beberapa pembudidaya. Nanti siapa yang akan membeli. Sebab, proses ekspor juga terganggu,” ujarnya. (mu/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/