Mau Mandi di Sungai, Pria di Krejengan Malah Temukan Cucu Mengapung, Dibawa ke Puskesmas Ternyata Sudah Meninggal

KREJENGAN, Radar Bromo – Rencana Rahmat, 50, hendak mandi di sungai Parasan, Jumat (25/10) sore, berubah menjadi duka. Saat tiba di sungai, Rahmat justru menemukan Muhammad Agil, 12, mengapung. Remaja warga Desa Kamalkuning, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo itu tak lain adalah cucu Rahmat.

Siswa kelas VI di SDN Jatiurip itu ditemukan mengapung di sungai Parasan di desa setempat, sekitar pukul 16.30. Rahmat pun langsung mengangkat tubuh korban dari sungai dan membawanya ke rumah. Namun, sekitar 20 meter dari rumah, Rahmat bertemu dengan Imron, 36, yang mengendarai pikap.

Saat itu juga, korban dilarikan ke Puskesmas Krejengan dengan menggunakan pikap milik warga Dusun Jatian, Desa Kamalkuning itu.

Namun, sayang usaha untuk menyelamatkan korban terlambat. Di Puskesmas Krejengan, korban dinyatakan sudah meninggal.

Kanit Reskrim Polsek Krejengan Bripka Fajar Setyawan membenarkan kejadian itu. Menurutnya, keluarga korban melaporkan kejadian itu ke Polsek Krejengan.

Begitu mendapat laporan, petugas Polsek Krejengan langsung mendatangi lokasi kejadian. “Kami mendapat laporan dari Abdul Wahab, bapak korban. Saat itu juga kami langsung mendatangi lokasi kejadian,” tutur Kanit Reskrim.

Kanit Reskrim menjelaskan, kakek korban membawa korban ke Puskesmas Krejengan. Namun, korban dinyatakan meninggal saat sampai di Puskesmas.

Dari hasil pemerikasaan luar pada korban menurutnya, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Diduga, korban meninggal karena tenggelam.

Sementara itu, pihak keluarga sendiri tidak mau korban diotopsi. Keluarga langsung membawa jenazah korban pulang. Dan Sabtu (26/10), pukul 07.00, jenazah korban dimakamkan di pemakaman umum setempat .

“Pihak keluarga tidak mau korban diotopsi. Keluarga juga menandatangani surat penolakan otopsi,” lanjutnya.

Berdasarkan informasi  yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, sungai Parasan memang biasa dipakai warga setempt mandi. Tiap hari, banyak warga mandi di sana. Biasanya, warga mandi pada pagi, siang dan sore, sekitar pukul 15.00.

Korban pun biasa mandi di sungai Parasan. Apalagi, lokasi sungai tidak jauh dari rumah korban. Yaitu sekitar 100 meter di sebelah selatan rumah korban.

Jumat sore saat ditemukan mengambang, kondisi sungai sedang sepi. Hanya ada Rahmat, kakek korban yang hendak mandi.

Slamet, 42, tetangga korban menjelaskan, di hari Jumat memang jarang warga yang mandi sore hari. Biasanya, warga mandi siang menjelang salat Jumat.

Andai mandi pun, biasanya terakhir sekitar pukul 15.00. Sebab, jika terlalu sore kondisi sungai mulai gelap.

Korban sendiri diduga mandi saat sungai sudah sepi. Karena itu, tidak ada warga yang mengetahui saat korban tenggelam dan kemudian mengapung.

Slamet menambahkan, sungai Parasan sebenarnya tidak begitu dalam. Banyak lokasi yang dangkal. Namun, memang ada beberapa titik yang sangat dalam.

“Ada lokasi yang memang sangat dalam. Orang dewasa saja kalau berenang di situ kakinya tidak sampai ke tanah,” tuturnya.

Meski demikian, peristiwa ini baru pertama terjadi. Sebelumnya, tidak pernah ada warga yang meninggal karena tenggelam di sungai itu. (mg1/fun)