alexametrics
25C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Masih Pandemi, Penarikan Uang Komite SMAN 1 Kraksaan Dikeluhkan

KRAKSAAN, Radar Bromo – Dirasa memberatkan, penarikan uang komite di SMAN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, dikeluhkan beberapa wali murid. Mereka mengeluh, karena penarikan itu dilakukan saat kondisi pandemi.

Dua wali murid SMAN 1 Kraksaan menyampaikan keluhan itu pada Jawa Pos Radar Bromo. Seorang lelaki yang enggan disebutkan namanya mengaku, penarikan uang komite itu cukup memberatkan. Sebab, penarikan dilakukan di masa pandemi. Saat banyak orang mengalami kondisi kekurangan sebagai dampak pandemi.

“Seharusnya ya jangan ditarik dulu. Kondisi pandemi ini kan tidak menguntungkan bagi siapapun. Karena itu, penarikan uang komite ini banyak dikeluhkan. Sebenarnya bukan saya saja yang mengeluh,” katanya.

Dia lantas menceritakan, sebenarnya penarikan uang komite itu sudah disepakati bersama di saat pertama masuk sekolah. Namun, kondisi pandemi Covid-19 membuat pendapatan masyarakat menurun.

“Sekolah kan juga terdampak Covid-19. Tidak ada kegiatan apapun di sekolah alias vakum. Karena itu, harusnya tidak ada biaya apapun karena sekolah tidak masuk,” katanya.

Seorang wali murid lain yang juga enggan namanya disebutkan mengeluhkan hal seruupa. Menurutnya, dirinya sedikit keberatan dengan penarikan uang komite itu. Sebab, selama pandemi pendapatannya menurun.

“Kan masih kondisi pandemi ini. Masa ya bayar terus. Anak juga tidak masuk sekolah. Kan sekolah online di rumah,” katanya.

Dia lantas menyebutkan, selama masa pandemi pengeluarannya untuk kegiatan sekolah juga banyak. Salah satunya, harus membeli paket data untuk internet anak. Jika harus membayar uang komite, maka pengeluarannya menjadi dobel. “Dulu katanya mau dapat paketan gratis. Tapi ini tidak ada. Setiap kali habis ya saya yang belikan,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kraksaan Bambang Sudiarto saat dikonfirmasi mengaku, uang komite yang dipungut dari wali murid sudah disepakati bersama sebelumnya. Dan penarikan itu dilakukan komite sekolah. Bukan dilakukan sekolah.

“Itu langsung komite dan sudah disepakati dengan materai,” ungkapnya.

Memang menurutnya, saat ini pelajar sekolah dari rumah. Namun, intinya kegiatan belajar mengajar berlangsung. Karena itulah, penarikan uang komite tetap dilakukan.

“Kegiatan kan terus dilakukan. Karena itu uang komite tetap ada. Itu untuk pembiayaan kegiatan,” jelasnya.

Bambang pun meminta agar wali murid yang merasa keberatan datang ke sekolah. Tujuannya untuk membicarakan mengenai keberatan itu dan mencari titik temu.

Lebih jauh dijelaskan Bambang, uang komite yang dibebankan kepada wali murid jumlahnya tidak sama. Ada yang Rp 25 ribu, Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Sementara pembayarannya sebulan sekali.

“Jika keberatan bisa datang ke sekolah, dibicarakan dulu. Pasti kami carikan solusinya. Toh kami tidak saklek, ada kelonggaran-kelonggaran. Dan pembayaran sejauh ini juga berbeda,” tuturnya. (sid/hn/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU