alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Dua Jenis Pupuk Subdisi Ini Minim Permintaan di Kab Probolinggo

DRINGU, Radar Bromo – Ketersediaan pupuk menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo. Sebab pupuk juga menunjang ketahanan pangan daerah. Ketersediaan pupuk terus dievaluasi. Saat ini ditemukan 2 jenis pupuk bersubsidi minim permintaan.

Kabid Sarana dan Prasarana Kabupaten Probolinggo Bambang Suprayitno melalui stafnya Suparlan menjelaskan, tinggi dan rendahnya realisasi pupuk di masyarakat berkaitan erat dengan jenis komoditi. Terutama yang ditanam pada lahan pertanian. Selain itu kebiasaan dan kepercayaan petani pada jenis pupuk tertentu, turut mempengaruhi realisasi pupuk yang telah disediakan oleh pemerintah tersebut.

“Memang dari jenis pupuk yang sudah teralokasi, ada beberapa yang menjadi favorit petani. Sehingga jenis pupuk lainnya penyalurannya sangat minim,” katanya.

Ia menjelaskan jika dari 5 jenis pupuk bersubsidi yang telah dialokasikan Pemprov Jawa Timur, 2 jenis pupuk masuk kategori minim peminat. Pupuk tersebut di antaranya adalah Pupuk SP-36 dan pupuk organik.

Dari rekapan yang dilakukan DKPP sampai dengan Februari, alokasi pupuk SP-36 tahun ini sebanyak 10.297 ton, baru terealisasi 278,94 ton atau 2,71 persen. Kemudian jenis pupuk organik padat dengan alokasi sebanyak 12.671 ton, baru terealisasi 211,05 ton atau 1,67 persen. Serta jenis pupuk organik cair dengan alokasi sebanyak 23.254 liter tersalur 166,00 liter atau 0,50 persen.

“Dari tahun-tahun sebelumnya memang pupuk tersebut minim peminat. Banyak petani yang menggunakan pupuk ini hanya saat darurat atau pelengkap saja,” terangnya.

DRINGU, Radar Bromo – Ketersediaan pupuk menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo. Sebab pupuk juga menunjang ketahanan pangan daerah. Ketersediaan pupuk terus dievaluasi. Saat ini ditemukan 2 jenis pupuk bersubsidi minim permintaan.

Kabid Sarana dan Prasarana Kabupaten Probolinggo Bambang Suprayitno melalui stafnya Suparlan menjelaskan, tinggi dan rendahnya realisasi pupuk di masyarakat berkaitan erat dengan jenis komoditi. Terutama yang ditanam pada lahan pertanian. Selain itu kebiasaan dan kepercayaan petani pada jenis pupuk tertentu, turut mempengaruhi realisasi pupuk yang telah disediakan oleh pemerintah tersebut.

“Memang dari jenis pupuk yang sudah teralokasi, ada beberapa yang menjadi favorit petani. Sehingga jenis pupuk lainnya penyalurannya sangat minim,” katanya.

Ia menjelaskan jika dari 5 jenis pupuk bersubsidi yang telah dialokasikan Pemprov Jawa Timur, 2 jenis pupuk masuk kategori minim peminat. Pupuk tersebut di antaranya adalah Pupuk SP-36 dan pupuk organik.

Dari rekapan yang dilakukan DKPP sampai dengan Februari, alokasi pupuk SP-36 tahun ini sebanyak 10.297 ton, baru terealisasi 278,94 ton atau 2,71 persen. Kemudian jenis pupuk organik padat dengan alokasi sebanyak 12.671 ton, baru terealisasi 211,05 ton atau 1,67 persen. Serta jenis pupuk organik cair dengan alokasi sebanyak 23.254 liter tersalur 166,00 liter atau 0,50 persen.

“Dari tahun-tahun sebelumnya memang pupuk tersebut minim peminat. Banyak petani yang menggunakan pupuk ini hanya saat darurat atau pelengkap saja,” terangnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/