alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 28 May 2022

Layanan untuk Penyandang Disabilitas Masih Minim

KRAKSAAN, Radar Bromo – Kesehatan mata masih menjadi atensi di Kabupaten Probolinggo. Khususnya bagi penyandang disabilitas yang saat ini masih minim akses layanan. Sehingga perlu dilakukan peningkatan layanan.

Koordinator Paramitra Jawa Timur area Probolinggo M. Fadholi mengatakan, sudah saatnya layanan kesehatan mata di Kabupaten Probolinggo dilakukan secara inklusif. Baik bagi rumah sakit ataupun Puskesmas. Sebab semua pasien mempunyai hak untuk mendapatkan kesempatan layanan kesehatan matanya. Hal itu juga berlaku pada pasien disabilitas yang saat ini masih minim pelayanan.

“Perlu ada layanan inklusif, agar layanan kesehatan mata bisa dijangkau oleh semua orang termasuk disabilitas,” katanya.

Ia menjelaskan, pelayanan secara inklusif ini harus disertai dengan sejumlah fasilitas. Seperti penyediaan meja yang tidak terlalu tinggi dan kamar mandi yang mudah diakses. Tak jarang pasien juga berasal dari disabilitas. Sementara layanan tersebut masih sangat minim.

“Jika mejanya tidak terlalu tinggi, nanti disabilitas atau yang memakai kursi roda bisa mengaksesnya. Sementara saat ini masih minim layanan seperti ini,” ujarnya.

Fadholi juga menilai, keterampilan dari tenaga kesehatan juga perlu ditingkatkan. Agar komunikasi antara pasien dan petugas bisa berjalan baik. Sebab disabilitas terdiri dari disabilitas sensorik, seperti halnya netra dan tuli bisu. Juga disabilitas fisik seperti lumpuh atau kehilangan anggota tubuh akibat amputasi atau dari lahir. Sehingga perlu ada perlakuan khusus.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Kesehatan mata masih menjadi atensi di Kabupaten Probolinggo. Khususnya bagi penyandang disabilitas yang saat ini masih minim akses layanan. Sehingga perlu dilakukan peningkatan layanan.

Koordinator Paramitra Jawa Timur area Probolinggo M. Fadholi mengatakan, sudah saatnya layanan kesehatan mata di Kabupaten Probolinggo dilakukan secara inklusif. Baik bagi rumah sakit ataupun Puskesmas. Sebab semua pasien mempunyai hak untuk mendapatkan kesempatan layanan kesehatan matanya. Hal itu juga berlaku pada pasien disabilitas yang saat ini masih minim pelayanan.

“Perlu ada layanan inklusif, agar layanan kesehatan mata bisa dijangkau oleh semua orang termasuk disabilitas,” katanya.

Ia menjelaskan, pelayanan secara inklusif ini harus disertai dengan sejumlah fasilitas. Seperti penyediaan meja yang tidak terlalu tinggi dan kamar mandi yang mudah diakses. Tak jarang pasien juga berasal dari disabilitas. Sementara layanan tersebut masih sangat minim.

“Jika mejanya tidak terlalu tinggi, nanti disabilitas atau yang memakai kursi roda bisa mengaksesnya. Sementara saat ini masih minim layanan seperti ini,” ujarnya.

Fadholi juga menilai, keterampilan dari tenaga kesehatan juga perlu ditingkatkan. Agar komunikasi antara pasien dan petugas bisa berjalan baik. Sebab disabilitas terdiri dari disabilitas sensorik, seperti halnya netra dan tuli bisu. Juga disabilitas fisik seperti lumpuh atau kehilangan anggota tubuh akibat amputasi atau dari lahir. Sehingga perlu ada perlakuan khusus.

MOST READ

BERITA TERBARU

/