alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Permintaan Meningkat, Harga Garam Melesat

KRAKSAAN, Radar Bromo – Memasuki musim hujan, harga garam terus melambung. Kenaikannya bisa mencapai lipat dua. Bahkan, kini dihargai Rp 1.000 per kilogram.

Maklum, memasuki musim hujan produksi garam cukup terganggu. Karena, mayoritas petambak garam di Kabupaten Probolinggo, masih tergantung terhadap kondisi cuaca. Karenanya, saat musim hujan produksi garam cenderung lebih rendah.

“Banyak petani garam yang tidak lagi bisa memproduksi garam lantaran seringnya hujan,” ujar Petambak Garam Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Suparyono.

Karenanya, harganya merangkak naik. Jika sebelumnya hanya berkisar Rp 400 – Rp 500 per kilogram, kini naik menjadi Rp 1.000 per kilogram. Kondisi ini menjadi berkah bagi petambak garam yang sebelumnya telah memproduksi garam, namun belum terjual.

Malah petambak kewalahan untuk memenuhi kebutuhan pasar di daerah tapal kuda. Karena, untuk memproduksi juga sulit. Suparyono mengaku, kini hanya mampu memproduksi maksimal 2,5 ton per pekan. Tetapi, tingginya kebutuhan pasar itu banyak disuplai dari petani garam dari Madura.

“Sulitnya produksi garam tahun ini dibarengi dengan harga garam yang tinggi. Beda dengan tahun lalu, sudah musim hujan, garam tetap saja murah. Untuk memenuhi kebutuhan di daerah Kabupaten Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, serta Situbondo, itu kewalahan,” ungkapnya.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Memasuki musim hujan, harga garam terus melambung. Kenaikannya bisa mencapai lipat dua. Bahkan, kini dihargai Rp 1.000 per kilogram.

Maklum, memasuki musim hujan produksi garam cukup terganggu. Karena, mayoritas petambak garam di Kabupaten Probolinggo, masih tergantung terhadap kondisi cuaca. Karenanya, saat musim hujan produksi garam cenderung lebih rendah.

“Banyak petani garam yang tidak lagi bisa memproduksi garam lantaran seringnya hujan,” ujar Petambak Garam Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Suparyono.

Karenanya, harganya merangkak naik. Jika sebelumnya hanya berkisar Rp 400 – Rp 500 per kilogram, kini naik menjadi Rp 1.000 per kilogram. Kondisi ini menjadi berkah bagi petambak garam yang sebelumnya telah memproduksi garam, namun belum terjual.

Malah petambak kewalahan untuk memenuhi kebutuhan pasar di daerah tapal kuda. Karena, untuk memproduksi juga sulit. Suparyono mengaku, kini hanya mampu memproduksi maksimal 2,5 ton per pekan. Tetapi, tingginya kebutuhan pasar itu banyak disuplai dari petani garam dari Madura.

“Sulitnya produksi garam tahun ini dibarengi dengan harga garam yang tinggi. Beda dengan tahun lalu, sudah musim hujan, garam tetap saja murah. Untuk memenuhi kebutuhan di daerah Kabupaten Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, serta Situbondo, itu kewalahan,” ungkapnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/