alexametrics
25 C
Probolinggo
Sunday, 28 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

12 Warga Kalibuntu Menyerahkan Diri, Jadi Saksi dalam Perusakan RSUD

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

PAJARAKAN, Radar Bromo – Penyelidikan terhadap kasus penjemputan paksa jenazah Covid-19 dan perusakan fasilitas RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, terus dilakukan. Jumat (22/11), Polres Probolinggo merilis 12 orang saksi yang sebelumnya menyerahkan diri ke Mapolres Probolinggo.

Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan mengatakan, 12 orang tersebut menyerahkan diri. Mereka merupakan anak, cucu, keponakan, keluarga, dan tetangga pasien. Semuanya, merupakan warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan.

SERAHKAN DIRI: Belasan warga Kalibuntu ini menyerahkan diri ke kepolisian. (Polres Probolinggo for Jawa Pos Radar Bromo)

Meski menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya, status mereka masih saksi dalam kasus perebutan jenazah dan berujung perusakan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, itu. “Mereka datang ke Polres dan menyerahkan diri serta mengakui kesalahannya,” ujarnya ketika rilis, kemarin.

Mereka juga diperiksa untuk mengetahui peran masing-masing. Penyidik juga telah mengamankan sejumlah barang bukti dari tempat kejadian perkara (TKP). Di antaranya, dua besi tralis hitam dan satu plakat bertuliskan parkir khusus ambulans.

Kemudian, ada pecahan pintu kaca, plakat bertuliskan laboratorium phatologi, sobekan kertas penunjuk ruangan di dalam rumah sakit, dan dua gembok. “Alat bukti yang kami punya akan kami cocokkan. Nanti akan diketahui siapa yang menjadi dalang di balik kejadian itu. Selanjutnya, akan kami tetapkan sebagai tersangka,” jelas Ferdy.

Ambil Paksa Jenazah Covid-19 Terulang, Fasilitas RSUD Sampai Rusak

Jika status saksi naik sebagai tersangka, kata Ferdy, mereka bisa disangka melanggar pasal 170 KUHP tentang Kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara. Serta, pasal 93 UU RI Nomor 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara dan/atau denda Rp 100 juta. “Kami imbau masyarakat tidak melakukan hal serupa. Kami harap ini yang terakhir,” ujarnya.

Diketahui, Sabtu (16/1), terjadi aksi perebutan jenazah dan menimbulkan sejumlah kerusakan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Aksi ini dilakukan oleh sejumlah warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan. Akibatnya, banyak fasilitas rumah sakit yang rusak dan menyebabkan kerugian jutaan rupiah. Kini kasus ini terus diselidiki oleh penyidik Polsek Probolinggo. (ar/rud/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

PAJARAKAN, Radar Bromo – Penyelidikan terhadap kasus penjemputan paksa jenazah Covid-19 dan perusakan fasilitas RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, terus dilakukan. Jumat (22/11), Polres Probolinggo merilis 12 orang saksi yang sebelumnya menyerahkan diri ke Mapolres Probolinggo.

Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan mengatakan, 12 orang tersebut menyerahkan diri. Mereka merupakan anak, cucu, keponakan, keluarga, dan tetangga pasien. Semuanya, merupakan warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan.

SERAHKAN DIRI: Belasan warga Kalibuntu ini menyerahkan diri ke kepolisian. (Polres Probolinggo for Jawa Pos Radar Bromo)

Mobile_AP_Half Page

Meski menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya, status mereka masih saksi dalam kasus perebutan jenazah dan berujung perusakan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, itu. “Mereka datang ke Polres dan menyerahkan diri serta mengakui kesalahannya,” ujarnya ketika rilis, kemarin.

Mereka juga diperiksa untuk mengetahui peran masing-masing. Penyidik juga telah mengamankan sejumlah barang bukti dari tempat kejadian perkara (TKP). Di antaranya, dua besi tralis hitam dan satu plakat bertuliskan parkir khusus ambulans.

Kemudian, ada pecahan pintu kaca, plakat bertuliskan laboratorium phatologi, sobekan kertas penunjuk ruangan di dalam rumah sakit, dan dua gembok. “Alat bukti yang kami punya akan kami cocokkan. Nanti akan diketahui siapa yang menjadi dalang di balik kejadian itu. Selanjutnya, akan kami tetapkan sebagai tersangka,” jelas Ferdy.

Ambil Paksa Jenazah Covid-19 Terulang, Fasilitas RSUD Sampai Rusak

Jika status saksi naik sebagai tersangka, kata Ferdy, mereka bisa disangka melanggar pasal 170 KUHP tentang Kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara. Serta, pasal 93 UU RI Nomor 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara dan/atau denda Rp 100 juta. “Kami imbau masyarakat tidak melakukan hal serupa. Kami harap ini yang terakhir,” ujarnya.

Diketahui, Sabtu (16/1), terjadi aksi perebutan jenazah dan menimbulkan sejumlah kerusakan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Aksi ini dilakukan oleh sejumlah warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan. Akibatnya, banyak fasilitas rumah sakit yang rusak dan menyebabkan kerugian jutaan rupiah. Kini kasus ini terus diselidiki oleh penyidik Polsek Probolinggo. (ar/rud/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2