alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Akui Penolakan Pemakaman Prokes Covid Masih Kerap Terjadi

KRAKSAAN, Radar Bromo – Satgas mengakui penolakan terhadap petugas saat melakukan tugasnya menjemput dan pemakaman jenazah Covid-19, masih kerap terjadi. Karena itu Satgas Penanganan Covid-19 terus melakukan penyadaran terhadap masyarakat.

Penolakan jenazah untuk dimakamkan sesuai protokoler Covid-19 hampir sebulan telah terjadi dua kali. Pertama yaitu Gunggungan Lor, Kecamapat Pakuniran. Di tempat itu, warga merusak peti mati dan mengusir petugas. Kedua, yaitu di Kecamatan Paiton. Beruntung, aksi perebutan tidak sampai terjadi seperti di Gunggungan Lor. Sebelum keluarga merebut, petugas berhasil menenangkan dan dimakamkan sesuai protokol pemakaman Covid.

Koordinator Penegakan Hukum (Gakum) Satgas Penanganan Covid Ugas Irwanto mengatakan, sebenarnya bukan hanya penolakan jenazah. Tetapi, juga penolakan untuk karantina kerap terjadi. Petugas di lapangan dihadapkan dengan keluarga pasien maupun jenazah yang meninggal karena korona.

“Penolakan ini hampir setiap hari terjadi. Mereka yang tidak mau dikarantina biasanya menolak ketika dijemput,” tuturnya.

Meskipun terus ditolak, pihaknya terus berusaha melakukan penyadaran. Pihaknya tidak henti-hentinya untuk komunikasi dengan keluarga pasien sehingga mau untuk dilakukan penjemputan.

“Ketika sudah tidak bisa, maka kami yang turun tangan. Jika begitu maka itu sudah tidak bisa ditangani oleh pihak petugas kecamatan atau yang lainnya,” tandasnya.

Sebelum terjadi penolakan kembali, pihaknya terus melakukan penyadaran. Caranya melalui sosialisasi dan juga pendekatan. Dengan begitu, maka masyarakat akan menerima jika untuk dilakukan karantina. “Kami terus melakukan pendekatan. Sehingga masyarakat sadar dan tidak menolak ketika dilakukan penanganan,” ungkapnya. (sid/fun)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Satgas mengakui penolakan terhadap petugas saat melakukan tugasnya menjemput dan pemakaman jenazah Covid-19, masih kerap terjadi. Karena itu Satgas Penanganan Covid-19 terus melakukan penyadaran terhadap masyarakat.

Penolakan jenazah untuk dimakamkan sesuai protokoler Covid-19 hampir sebulan telah terjadi dua kali. Pertama yaitu Gunggungan Lor, Kecamapat Pakuniran. Di tempat itu, warga merusak peti mati dan mengusir petugas. Kedua, yaitu di Kecamatan Paiton. Beruntung, aksi perebutan tidak sampai terjadi seperti di Gunggungan Lor. Sebelum keluarga merebut, petugas berhasil menenangkan dan dimakamkan sesuai protokol pemakaman Covid.

Koordinator Penegakan Hukum (Gakum) Satgas Penanganan Covid Ugas Irwanto mengatakan, sebenarnya bukan hanya penolakan jenazah. Tetapi, juga penolakan untuk karantina kerap terjadi. Petugas di lapangan dihadapkan dengan keluarga pasien maupun jenazah yang meninggal karena korona.

“Penolakan ini hampir setiap hari terjadi. Mereka yang tidak mau dikarantina biasanya menolak ketika dijemput,” tuturnya.

Meskipun terus ditolak, pihaknya terus berusaha melakukan penyadaran. Pihaknya tidak henti-hentinya untuk komunikasi dengan keluarga pasien sehingga mau untuk dilakukan penjemputan.

“Ketika sudah tidak bisa, maka kami yang turun tangan. Jika begitu maka itu sudah tidak bisa ditangani oleh pihak petugas kecamatan atau yang lainnya,” tandasnya.

Sebelum terjadi penolakan kembali, pihaknya terus melakukan penyadaran. Caranya melalui sosialisasi dan juga pendekatan. Dengan begitu, maka masyarakat akan menerima jika untuk dilakukan karantina. “Kami terus melakukan pendekatan. Sehingga masyarakat sadar dan tidak menolak ketika dilakukan penanganan,” ungkapnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/