alexametrics
24 C
Probolinggo
Tuesday, 16 August 2022

Pemkab Probolinggo Kaji Ulang Pembelajaran Tatap Muka

KRAKSAAN, Radar Bromo – Pemkab Probolinggo mengkaji ulang izin uji coba pembelajaran tatap muka dua lembaga pendidikan menengah di daerahnya. Menyusul beberapa pertimbangan yang masuk kepada Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat.

Jubir Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto menjelaskan, uji coba pembelajaran tatap muka pendidikan menengah harus mendapat izin bupati. Sebelumnya menurut dia, bupati memang mengizinkan uji coba itu.

Rencananya, Selasa (18/8) digelar uji coba pembelajaran tatap muka di dua lembaga pendidikan menengah di Kabupaten Probolinggo. Yaitu, SMKN 2 Kraksaan dan SMAN 2 Leces.

Namun, Minggu (16/8) Pemkab Probolinggo memutuskan untuk mengkaji ulang izin uji coba itu. Pemberian izin uji coba itu dibahas lagi karena berbagai pertimbangan. Dan Senin (17/8) baru akan diputuskan apakah izin uji coba diberikan atau justru tidak.

“Saat ini sedang kami kaji ulang. Jadi boleh tidaknya masih kami godok kembali,” katanya saat dihubungi kemarin.

Dijelaskan Dokter Anang, salah satu pertimbangan yang membuat izin tersebut dikaji ulang yaitu belum taatnya masyarakat menjalankan protokol kesehatan. Kondisi itu dikhawatirkan bisa menambah jumlah pasien positif Covid-19.

Selain itu, saat ini jumlah pasien positif Covid-19 cukup tinggi. Sabtu (15/8), ada 12 pasien dinyatakan positif Covid-19. Kalau izin uji coba diberikan, dikhawatirkan timbul klaster sekolah dalam penularan Covid-19.

“Karena itulah kajian harus benar-benar dimatangkan. Jika tidak khawatir timbul klaster sekolah,” terangnya.

Menurutnya, siswa memiliki risiko tinggi tertular Covid-19 saat ikut pembelajaran tatap muka. Meskipun sekolah telah siap, namun di luar sekolah kondisinya akan berbeda. Titik rawan penularan Covid-19 pada siswa menurut Dokter Anang yaitu, saat berangkat dan pulang sekolah. Saat pulang, kebanyakan pelajar tidak akan langsung pulang.

“Mereka tidak akan langsung pulang. Kemungkinan masih berkeliling, entah itu ngopi atau yang lain. Dan itu sangat rawan. Untuk itu kami harus berhati-hati,” ujarnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Probolinggo Kiswanto mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan keterangan banyak tentang hal itu. Namun, pihaknya telah mendapatkan informasi bahwa izin uji coba akan dikaji ulang.

“Saat ini kami belum bisa berkomentar banyak. Ini masih kami kordinasikan,” katanya.

Namun, Kiswato memaklumi kalau uji coba pembelajaran tatap muka pendidikan menengah di Kraksaan tidak diizinkan. Sebab, Kraksaan berada dalam zona merah. Tetapi, untuk Leces pihaknya akan mencoba meminta agar diizinkan. Sebab, leces masuk zona hijau. Selain itu, telah Gubernur diagendakan untuk meninjau pembelajaran tatap muka di SMAN 1 Leces.

“Jadi akan kami upayakan agar diberi izin untuk di Leces. Sehingga, uji coba pembelajaran tatap muka bisa dilakukan di SMAN 1 Leces,” terangnya.

Jikapun tidak dizinkan, pihaknya tidak akan memaksa. Memang, pelaksanaan pembelajaran pendidikan menengah merupakan wewenang Provinsi. Namun, uji coba pembelajaran tatap muka di masa pandemi harus mendapatkan izin dari Satgas di daerah.

“Kalau tidak dizinkan ya tidak digelar uji cobanya,” tuturnya. (sid/hn)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Pemkab Probolinggo mengkaji ulang izin uji coba pembelajaran tatap muka dua lembaga pendidikan menengah di daerahnya. Menyusul beberapa pertimbangan yang masuk kepada Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat.

Jubir Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto menjelaskan, uji coba pembelajaran tatap muka pendidikan menengah harus mendapat izin bupati. Sebelumnya menurut dia, bupati memang mengizinkan uji coba itu.

Rencananya, Selasa (18/8) digelar uji coba pembelajaran tatap muka di dua lembaga pendidikan menengah di Kabupaten Probolinggo. Yaitu, SMKN 2 Kraksaan dan SMAN 2 Leces.

Namun, Minggu (16/8) Pemkab Probolinggo memutuskan untuk mengkaji ulang izin uji coba itu. Pemberian izin uji coba itu dibahas lagi karena berbagai pertimbangan. Dan Senin (17/8) baru akan diputuskan apakah izin uji coba diberikan atau justru tidak.

“Saat ini sedang kami kaji ulang. Jadi boleh tidaknya masih kami godok kembali,” katanya saat dihubungi kemarin.

Dijelaskan Dokter Anang, salah satu pertimbangan yang membuat izin tersebut dikaji ulang yaitu belum taatnya masyarakat menjalankan protokol kesehatan. Kondisi itu dikhawatirkan bisa menambah jumlah pasien positif Covid-19.

Selain itu, saat ini jumlah pasien positif Covid-19 cukup tinggi. Sabtu (15/8), ada 12 pasien dinyatakan positif Covid-19. Kalau izin uji coba diberikan, dikhawatirkan timbul klaster sekolah dalam penularan Covid-19.

“Karena itulah kajian harus benar-benar dimatangkan. Jika tidak khawatir timbul klaster sekolah,” terangnya.

Menurutnya, siswa memiliki risiko tinggi tertular Covid-19 saat ikut pembelajaran tatap muka. Meskipun sekolah telah siap, namun di luar sekolah kondisinya akan berbeda. Titik rawan penularan Covid-19 pada siswa menurut Dokter Anang yaitu, saat berangkat dan pulang sekolah. Saat pulang, kebanyakan pelajar tidak akan langsung pulang.

“Mereka tidak akan langsung pulang. Kemungkinan masih berkeliling, entah itu ngopi atau yang lain. Dan itu sangat rawan. Untuk itu kami harus berhati-hati,” ujarnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Probolinggo Kiswanto mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan keterangan banyak tentang hal itu. Namun, pihaknya telah mendapatkan informasi bahwa izin uji coba akan dikaji ulang.

“Saat ini kami belum bisa berkomentar banyak. Ini masih kami kordinasikan,” katanya.

Namun, Kiswato memaklumi kalau uji coba pembelajaran tatap muka pendidikan menengah di Kraksaan tidak diizinkan. Sebab, Kraksaan berada dalam zona merah. Tetapi, untuk Leces pihaknya akan mencoba meminta agar diizinkan. Sebab, leces masuk zona hijau. Selain itu, telah Gubernur diagendakan untuk meninjau pembelajaran tatap muka di SMAN 1 Leces.

“Jadi akan kami upayakan agar diberi izin untuk di Leces. Sehingga, uji coba pembelajaran tatap muka bisa dilakukan di SMAN 1 Leces,” terangnya.

Jikapun tidak dizinkan, pihaknya tidak akan memaksa. Memang, pelaksanaan pembelajaran pendidikan menengah merupakan wewenang Provinsi. Namun, uji coba pembelajaran tatap muka di masa pandemi harus mendapatkan izin dari Satgas di daerah.

“Kalau tidak dizinkan ya tidak digelar uji cobanya,” tuturnya. (sid/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/