alexametrics
28.1 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Disidak, Stok Gula di PG Wonolangan Diprediksi Cukup 2 Minggu

DRINGU, Radar Bromo – Harga gula di Kabupaten Probolinggo terus mengalami kenaikan. Dari yang semula Rp 12-12,5 ribu, kini tembus Rp 17 ribu. Kondisi itu pun jadi perhatian tim Satgas Pangan setempat.

Senin (16/3), tim Tim Satgas Pangan menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Pabrik Gula (PG) Wonolangan, Dringu. Hasilnya, ketersediaan gula di PG Wonolangan tersisa hanya sekitar 185 ton. Stok itu diperkirakan hanya cukup dalam waktu dua pekan ke depan.

“Insyaallah, ketersediaan gula masih cukup aman,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H.A Timbul Prihanjoko yang ikut dalam sidak itu.

Saat ditanya soal faktor harga gula mengalami kenaikan, Wabup menjelaskan, produksi gula nasional tahun ini menurun. Nah, dalam hukum perdagangan, ketersediaan barang yang berkurang bisa mengakibatkan harga barang itu naik.

“Tapi, kami bersama satgas pangan Kabupaten Probolinggo ini akan terus memantau. Supaya, tidak ada penumpukan atau penimbunan barang (gula) yang mengakibatkan harga naik,” tegas mantan aktivis HMI itu.

Sementara itu, Subagyo selaku general manager PG Wonolangan, Dringu, mengungkapkan, stok ketersediaan gula di PG sudah cukup minim. Yaitu, sebanyak 185 ton gula per kemarin.

Pihaknya sudah koordinasi dengan kantor pusat untuk segera melakukan giling. Supaya, bisa mencukupi dan mengantisipasi kebutuhan gula menjelang hari raya.

“Stok ketersediaan gula sekarang 185 ton ini, diperkirakan cukup sekitar 2 minggu,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Ditanya soal rencana penggilingan tebu kembali, Subagyo menjelaskan, diperkirakan pertengahan April sudah mulai penggilingan tebu. Namun, mengantisipasi kekurangan kebutuhan gula di tengah masyarakat, pihaknya bisa meminta pada sejumlah daerah penghasil gula untuk distribusikan gula ke PG Wonolangan.

“Kami menilai, tidak sampai akan kekurangan ketersediaan gula. Karena untuk kebutuhan gula itu, tidak seperti kebutuhan beras dalam jumlah banyak,” terangnya.

Menilik dari produksi tahun lalu, tiap proses penggilingan bisa hasilkan 20 ton gula. Namun, tahun ini produksi gula alami penurunan. Sekali giling hanya sampai 4 ton. Karena jumlah tebu di lapangan tidak cukup banyak.

“Banyak faktor. Bisa lahan tebu makin menyusut, produksi makin berkurang. Di sisi lain, pabrik swasta banyak bermunculan, tapi mereka tidak siapkan lahan tebunya,” ungkapnya. (mas/mie)

DRINGU, Radar Bromo – Harga gula di Kabupaten Probolinggo terus mengalami kenaikan. Dari yang semula Rp 12-12,5 ribu, kini tembus Rp 17 ribu. Kondisi itu pun jadi perhatian tim Satgas Pangan setempat.

Senin (16/3), tim Tim Satgas Pangan menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Pabrik Gula (PG) Wonolangan, Dringu. Hasilnya, ketersediaan gula di PG Wonolangan tersisa hanya sekitar 185 ton. Stok itu diperkirakan hanya cukup dalam waktu dua pekan ke depan.

“Insyaallah, ketersediaan gula masih cukup aman,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H.A Timbul Prihanjoko yang ikut dalam sidak itu.

Saat ditanya soal faktor harga gula mengalami kenaikan, Wabup menjelaskan, produksi gula nasional tahun ini menurun. Nah, dalam hukum perdagangan, ketersediaan barang yang berkurang bisa mengakibatkan harga barang itu naik.

“Tapi, kami bersama satgas pangan Kabupaten Probolinggo ini akan terus memantau. Supaya, tidak ada penumpukan atau penimbunan barang (gula) yang mengakibatkan harga naik,” tegas mantan aktivis HMI itu.

Sementara itu, Subagyo selaku general manager PG Wonolangan, Dringu, mengungkapkan, stok ketersediaan gula di PG sudah cukup minim. Yaitu, sebanyak 185 ton gula per kemarin.

Pihaknya sudah koordinasi dengan kantor pusat untuk segera melakukan giling. Supaya, bisa mencukupi dan mengantisipasi kebutuhan gula menjelang hari raya.

“Stok ketersediaan gula sekarang 185 ton ini, diperkirakan cukup sekitar 2 minggu,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Ditanya soal rencana penggilingan tebu kembali, Subagyo menjelaskan, diperkirakan pertengahan April sudah mulai penggilingan tebu. Namun, mengantisipasi kekurangan kebutuhan gula di tengah masyarakat, pihaknya bisa meminta pada sejumlah daerah penghasil gula untuk distribusikan gula ke PG Wonolangan.

“Kami menilai, tidak sampai akan kekurangan ketersediaan gula. Karena untuk kebutuhan gula itu, tidak seperti kebutuhan beras dalam jumlah banyak,” terangnya.

Menilik dari produksi tahun lalu, tiap proses penggilingan bisa hasilkan 20 ton gula. Namun, tahun ini produksi gula alami penurunan. Sekali giling hanya sampai 4 ton. Karena jumlah tebu di lapangan tidak cukup banyak.

“Banyak faktor. Bisa lahan tebu makin menyusut, produksi makin berkurang. Di sisi lain, pabrik swasta banyak bermunculan, tapi mereka tidak siapkan lahan tebunya,” ungkapnya. (mas/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/