alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Waspadai Hujan Disertai Petir

KRAKSAAN, Radar Bromo – November ini wilayah Jawa Timur sedang masuk awal musim hujan. Peningkatan curah hujan selama sepekan ini akan cenderung intens. Karena itu, sejumlah hal perlu diwaspadai. Salah satunya hujan disertai petir, angin kencang, longsor, hingga banjir bandang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kelas I Juanda Sidoarjo mencatat adanya potensi intensitas hujan yang disebabkan aktivitas gelombang atmosfer ekuatorial rossby. Diperkirakan, gelombang ini akan melewati wilayah Jawa Timur pada 16-21 November.

Lalu, Madden Jullian Oscilation (MJO) berada di fase 5 atau di sekitar Indonesia bagian timur. Dan Dipole Mode Index (DMI) sebesar minus 0.38.

“Hal ini mengindikasikan tidak ada penambahan massa uap air dari wilayah Samudera Hindia ke wilayah Indonesia,” terang Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Klas I Juanda Teguh ST.

Selain itu, angin baratan diprediksi sangat dominan akibat menguatnya monsun Asia, terutama dalam akhir minggu ke depan. Monsun Asia yang konsisten mengakibatkan angin berembus kencang hingga mencapai 20 knot pada lapisan rendah.

“ENSO (ElNiño-Southern Oscillation) di NINO 3.4 sebesar minus 1.0. Ini mengindikasikan peningkatan hujan harian di wilayah Jawa Timur cukup signifikan. Selain itu, pada tahun ini akan ada fenomena La Nina yang juga dapat menambah curah hujan di Jawa Timur,” tuturnya.

KRAKSAAN, Radar Bromo – November ini wilayah Jawa Timur sedang masuk awal musim hujan. Peningkatan curah hujan selama sepekan ini akan cenderung intens. Karena itu, sejumlah hal perlu diwaspadai. Salah satunya hujan disertai petir, angin kencang, longsor, hingga banjir bandang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kelas I Juanda Sidoarjo mencatat adanya potensi intensitas hujan yang disebabkan aktivitas gelombang atmosfer ekuatorial rossby. Diperkirakan, gelombang ini akan melewati wilayah Jawa Timur pada 16-21 November.

Lalu, Madden Jullian Oscilation (MJO) berada di fase 5 atau di sekitar Indonesia bagian timur. Dan Dipole Mode Index (DMI) sebesar minus 0.38.

“Hal ini mengindikasikan tidak ada penambahan massa uap air dari wilayah Samudera Hindia ke wilayah Indonesia,” terang Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Klas I Juanda Teguh ST.

Selain itu, angin baratan diprediksi sangat dominan akibat menguatnya monsun Asia, terutama dalam akhir minggu ke depan. Monsun Asia yang konsisten mengakibatkan angin berembus kencang hingga mencapai 20 knot pada lapisan rendah.

“ENSO (ElNiño-Southern Oscillation) di NINO 3.4 sebesar minus 1.0. Ini mengindikasikan peningkatan hujan harian di wilayah Jawa Timur cukup signifikan. Selain itu, pada tahun ini akan ada fenomena La Nina yang juga dapat menambah curah hujan di Jawa Timur,” tuturnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/