alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Musim Hujan, Waspadai Demam Berdarah

KRAKSAAN, Radar Bromo – Memasuki musim hujan, kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan perlu ditingkatkan. Salah satunya terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD), yang semakin rentan ketika musim hujan.

Dokter umum RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Gusti Pindo Asa Anindito mengatakan, DBD merupakan penyakit yang disebabkan infeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini biasanya aktif terbang dan menggigit pada pagi dan sore.

“Gejala demam berdarah dengue yang paling sering muncul adalah demam tinggi. Demam selama 7 hari ini memiliki pola seperti pelana kuda. Demam pada hari ke 1-3 akan meninggi dan menurun pada hari ke 4-5. Kemudian, akan naik kembali pada hari ke 6-7 dan berangsur-angsur akan pulih,” ujarnya.

Selain demam tinggi, menurut Gusti, keluhan lain yang sering dirasakan pasien adalah nyeri pada persendian atau otot, tubuh terasa lemah, mual, dan muntah. Pada beberapa kasus bisa didapatkan bintik-bintik merah pada kulit, perdarahan pada gusi, serta mimisan.

Pertolongan pertama terhadap penderita DBD, di antaranya, minum air putih sebanyak mungkin, makan-makanan dengan gizi seimbang, dan minum obat penurun demam. Serta, kompres dengan air hangat pada dahi dan ketiak. Jika 3-4 hari muncul gejala yang telah disebutkan di atas, segera bawa penderita berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar mendapat penanganan yang tepat.

“Penyakit DBD dapat dicegah sedini mungkin dengan menggalakkan 3M Plus (menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan mengubur sampah yang dapat menjadi tempat penampungan air saat hujan). Sehingga, nyamuk dapat bertelur didalamnya,” jelasnya.

Selain itu, bisa juga dengan menggunakan kawat kasa pada jendela dan ventilasi untuk mencegah nyamuk masuk rumah. Gunakan lotion antinyamuk dan sering mencuci baju yang telah kotor agar nyamuk tidak menempel pada tubuh. “Mari bersama senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar guna mencegah penyebaran penyakit DBD,” ajaknya. (uno/rud)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Memasuki musim hujan, kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan perlu ditingkatkan. Salah satunya terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD), yang semakin rentan ketika musim hujan.

Dokter umum RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Gusti Pindo Asa Anindito mengatakan, DBD merupakan penyakit yang disebabkan infeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini biasanya aktif terbang dan menggigit pada pagi dan sore.

“Gejala demam berdarah dengue yang paling sering muncul adalah demam tinggi. Demam selama 7 hari ini memiliki pola seperti pelana kuda. Demam pada hari ke 1-3 akan meninggi dan menurun pada hari ke 4-5. Kemudian, akan naik kembali pada hari ke 6-7 dan berangsur-angsur akan pulih,” ujarnya.

Selain demam tinggi, menurut Gusti, keluhan lain yang sering dirasakan pasien adalah nyeri pada persendian atau otot, tubuh terasa lemah, mual, dan muntah. Pada beberapa kasus bisa didapatkan bintik-bintik merah pada kulit, perdarahan pada gusi, serta mimisan.

Pertolongan pertama terhadap penderita DBD, di antaranya, minum air putih sebanyak mungkin, makan-makanan dengan gizi seimbang, dan minum obat penurun demam. Serta, kompres dengan air hangat pada dahi dan ketiak. Jika 3-4 hari muncul gejala yang telah disebutkan di atas, segera bawa penderita berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar mendapat penanganan yang tepat.

“Penyakit DBD dapat dicegah sedini mungkin dengan menggalakkan 3M Plus (menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan mengubur sampah yang dapat menjadi tempat penampungan air saat hujan). Sehingga, nyamuk dapat bertelur didalamnya,” jelasnya.

Selain itu, bisa juga dengan menggunakan kawat kasa pada jendela dan ventilasi untuk mencegah nyamuk masuk rumah. Gunakan lotion antinyamuk dan sering mencuci baju yang telah kotor agar nyamuk tidak menempel pada tubuh. “Mari bersama senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar guna mencegah penyebaran penyakit DBD,” ajaknya. (uno/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/