alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

UMKM Batik-Sablon di Kab Probolinggo Mulai Kembali Menggeliat

KRAKSAAN, Radar Bromo – Adanya pandemi Covid-19 dan Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), membuat sejumlah UMKM di Kabupaten Probolinggo sempat ketar-ketir. Pesanan minim, omzet menurun. Syukur, kini sejumlah UMKM mulai kembali bergeliat. Seperti usaha kerajinan sablon dan batik.

Salah satu perajin sablon asal Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Moh. Holili mengatakan, meski PPKM di perpanjang, pesanan sablon baju mulai kembali ramai. “Ada lebih dari 100 baju yang saat ini saya garap untuk disablon. Selain itu, saya juga menerima jasa pembuatan baju,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Kembali adanya pesanan, katanya, karena masyarakat sudah banyak yang beraktivitas seperti semula. Meski harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Sudah banyak yang mengerti dengan pembatasan yang diberlakukan sehingga seperti komunitas banyak yang siap-siap beraktivitas kembali. Termasuk untuk menyablon gambar komunitasnya,” ujarnya.

Menurutnya, PPKM Level 3 berbeda dengan masa awal pandemi Covid-19. Pada awal pandemi, usahanya seakan mati suri. Tidak ada pesanan sama sekali. “Alhamdulillah sudah mulai normal. Tapi, tetap tidak seperti sebelum pandemi. Kalau pada awal pademi kan tidak dapat pesanan sama sekali,” ujarnya.

Hal senada diungkap salah satu perajin batik tulis asal Desa Kropak, Kecamatan Bantaran, Santoso. Ia mengatakan, saat ini pesanan bisa dikatakan normal. Bahkan, kini siap memproduksi sekitar 1.000 potong baju batik untuk siswa. “Ada sekolah di Kecamatan Dringu, pesan 550 potong. Ada juga SMP di Leces dan di Tegalsiwalan,” jelasnya.

Selain batik tulis, Santoso juga melayani batik cap. Seperti pesanan untuk seragam sekolah ini. Semuanya memesan batik cap. “Seperti biasa, mungkin untuk seragam kelas satu yang awal masuk disiapkan oleh sekolah. Sekolah yang setiap tahun sudah pesan, itu tetap pesan,” ujarnya.

Ia menuturkan, saat ini setiap hari bisa memproduksi 5 kain batik tulis. Sementara untuk batik cap, bisa memproduksi sekitar 20-30 potong kain baju batik. “Sehari bisa produksi 3 x 15 meter kain. Itu yang diproduksi oleh 10 karyawan saya. Nantinya itu yang akan menjadi baju batik siswa,” jelasnya. (mu/rud)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Adanya pandemi Covid-19 dan Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), membuat sejumlah UMKM di Kabupaten Probolinggo sempat ketar-ketir. Pesanan minim, omzet menurun. Syukur, kini sejumlah UMKM mulai kembali bergeliat. Seperti usaha kerajinan sablon dan batik.

Salah satu perajin sablon asal Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Moh. Holili mengatakan, meski PPKM di perpanjang, pesanan sablon baju mulai kembali ramai. “Ada lebih dari 100 baju yang saat ini saya garap untuk disablon. Selain itu, saya juga menerima jasa pembuatan baju,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Kembali adanya pesanan, katanya, karena masyarakat sudah banyak yang beraktivitas seperti semula. Meski harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Sudah banyak yang mengerti dengan pembatasan yang diberlakukan sehingga seperti komunitas banyak yang siap-siap beraktivitas kembali. Termasuk untuk menyablon gambar komunitasnya,” ujarnya.

Menurutnya, PPKM Level 3 berbeda dengan masa awal pandemi Covid-19. Pada awal pandemi, usahanya seakan mati suri. Tidak ada pesanan sama sekali. “Alhamdulillah sudah mulai normal. Tapi, tetap tidak seperti sebelum pandemi. Kalau pada awal pademi kan tidak dapat pesanan sama sekali,” ujarnya.

Hal senada diungkap salah satu perajin batik tulis asal Desa Kropak, Kecamatan Bantaran, Santoso. Ia mengatakan, saat ini pesanan bisa dikatakan normal. Bahkan, kini siap memproduksi sekitar 1.000 potong baju batik untuk siswa. “Ada sekolah di Kecamatan Dringu, pesan 550 potong. Ada juga SMP di Leces dan di Tegalsiwalan,” jelasnya.

Selain batik tulis, Santoso juga melayani batik cap. Seperti pesanan untuk seragam sekolah ini. Semuanya memesan batik cap. “Seperti biasa, mungkin untuk seragam kelas satu yang awal masuk disiapkan oleh sekolah. Sekolah yang setiap tahun sudah pesan, itu tetap pesan,” ujarnya.

Ia menuturkan, saat ini setiap hari bisa memproduksi 5 kain batik tulis. Sementara untuk batik cap, bisa memproduksi sekitar 20-30 potong kain baju batik. “Sehari bisa produksi 3 x 15 meter kain. Itu yang diproduksi oleh 10 karyawan saya. Nantinya itu yang akan menjadi baju batik siswa,” jelasnya. (mu/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/