alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

5 Bulan 97 Kasus DBD di Kab Probolinggo, 1 Pasien Meninggal

DRINGU, Radar Bromo – Memasuki musim kemarau, bukan berarti aman dari serangan demam berdarah dengue (DBD). Terlebih, masih sering hujan atau kemarau basah. Di Kabupaten Probolinggo, kasus DBD masih bermunculan. Sampai Mei 2021, tercatat ada 97 kasus.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan, memasuki kemarau, masih sering hujan. Hal ini biasa dikatakan musim kemarau basah.

Menurut Dewi, kondisi ini yang harus lebih diwaspadai adalah serangan demam berdarah dengue (DBD). Karena, belakangan ini mulai muncul. “Sekarang sudah ada sekitar 97 kasus demam berdarah,” ujarnya, kemarin (15/6).

Hujan pada saat kemarau, kata Dewi, lebih rawan menimbulkan nyamuk aedes aegypti. Saat hujan, dipastikan meninggalkan genangan di sejumlah tempat atau barang. Genangan itu rawan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti dan tidak terganggu dengan turunnya hujan lagi.

Sejauh ini, kata Dewi, dibandingkan tahun kemarin, 2020 atau 2019, masih jauh di bawahnya. Tahun 2020, tercatat ada sekitar 170 kasus. Sedangkan, saat ini masih ditemukan sekitar 97 kasus.

Minimnya kasus penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti ini, karena kurang efektifnya pendataan. Pihaknya menyadari saat ini lebih memprioritaskan penanganan pandemi Covid-19. Sebab, penularannya begitu cepat.

“Kasus ini dimungkinkan karena beberapa faktor. Di antaranya, karena tidak ada laporan kasus DBD di setiap wilayah. Atau, disebabkan memang benar-benar tidak ada temuan, sehingga laporan yang diterima Dinkes sangat minim,” jelasnya.

Dewi juga mengatakan, pihaknya tetap mewaspadai terjadinya peningkatan jumlah kasus DBD. Sebab, meski memasuki kemarau, beberapa hari masih sering hujan. Karenanya, bersama tenaga medis di puskesmas, pihaknya tetap berupaya melakukan sosialisasi untuk mencegah banyaknya kasus DBD. (mas/rud)

DRINGU, Radar Bromo – Memasuki musim kemarau, bukan berarti aman dari serangan demam berdarah dengue (DBD). Terlebih, masih sering hujan atau kemarau basah. Di Kabupaten Probolinggo, kasus DBD masih bermunculan. Sampai Mei 2021, tercatat ada 97 kasus.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan, memasuki kemarau, masih sering hujan. Hal ini biasa dikatakan musim kemarau basah.

Menurut Dewi, kondisi ini yang harus lebih diwaspadai adalah serangan demam berdarah dengue (DBD). Karena, belakangan ini mulai muncul. “Sekarang sudah ada sekitar 97 kasus demam berdarah,” ujarnya, kemarin (15/6).

Hujan pada saat kemarau, kata Dewi, lebih rawan menimbulkan nyamuk aedes aegypti. Saat hujan, dipastikan meninggalkan genangan di sejumlah tempat atau barang. Genangan itu rawan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti dan tidak terganggu dengan turunnya hujan lagi.

Sejauh ini, kata Dewi, dibandingkan tahun kemarin, 2020 atau 2019, masih jauh di bawahnya. Tahun 2020, tercatat ada sekitar 170 kasus. Sedangkan, saat ini masih ditemukan sekitar 97 kasus.

Minimnya kasus penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti ini, karena kurang efektifnya pendataan. Pihaknya menyadari saat ini lebih memprioritaskan penanganan pandemi Covid-19. Sebab, penularannya begitu cepat.

“Kasus ini dimungkinkan karena beberapa faktor. Di antaranya, karena tidak ada laporan kasus DBD di setiap wilayah. Atau, disebabkan memang benar-benar tidak ada temuan, sehingga laporan yang diterima Dinkes sangat minim,” jelasnya.

Dewi juga mengatakan, pihaknya tetap mewaspadai terjadinya peningkatan jumlah kasus DBD. Sebab, meski memasuki kemarau, beberapa hari masih sering hujan. Karenanya, bersama tenaga medis di puskesmas, pihaknya tetap berupaya melakukan sosialisasi untuk mencegah banyaknya kasus DBD. (mas/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU