alexametrics
25.8 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

BPBD: Potensi Angin Kencang Masih Tinggi di Penghujung Hujan

DRINGU, Radar Bromo – Meski memasuki puncak musim hujan, bencana hidrometeorologi masih harus menjadi perhatian serius di wilayah Kabupaten Probolinggo. Sebab hingga Sabtu (5/3) sebanyak 63 bencana hidrometeorologi terjadi. Mayoritas bencana yang terjadi adalah cuaca ekstrem dan angin kencang.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo, Sugeng Suprisayoga mengatakan bencana hidrometeorologi memang kerap terjadi saat masuk musim hujan. Potensi dan jumlah kejadian bencana naik seiring dengan jumlah intensitas curah hujan serta anomali cuaca.

“Sudah gejala alam, hanya bisa diprediksi untuk mengantisipasi risiko yang dapat ditimbulkan. Setiap tahun atau setiap musim bisa berubah. Namun kejadian sebelumnya menjadi pertimbangan,” katanya.

Sugeng menjelaskan berdasarkan data rekap terakhir yang dilakukan, sedikitnya telah tejadi 63 kejadian bencana yang melanda Kabupaten Probolinggo. Puluhan bencana yang terjadi di antaranya adalah 28 kejadian angin kencang. Melanda Kecamatan Banyuanyar, Besuk, Pakuniran, Kotaanyar, Dringu, Maron, Tiris dan Tongas.

Selanjutnya terjadi bencana 20 kejadian banjir di Kecamatan Tongas, Sumberasih, dan Dringu. Bencana tanah longsor sebanyak 13 kejadian. Terjadi di Kecamatan Tiris, Pakuniran, Sumber, Sukapura. Sementara 2 lainnya kecelakaan air yang terjadi di Kecamatan Pakuniran dan Kraksaan.

Sampai dengan saat ini bencana angin kencang merupakan bencana yang sering terjadi. Sehingga perlu diwaspadai hingga musim hujan berakhir. Namun demikian tidak mengenyampingkan bencana lainnya yang telah terjadi. (ar/fun)

DRINGU, Radar Bromo – Meski memasuki puncak musim hujan, bencana hidrometeorologi masih harus menjadi perhatian serius di wilayah Kabupaten Probolinggo. Sebab hingga Sabtu (5/3) sebanyak 63 bencana hidrometeorologi terjadi. Mayoritas bencana yang terjadi adalah cuaca ekstrem dan angin kencang.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo, Sugeng Suprisayoga mengatakan bencana hidrometeorologi memang kerap terjadi saat masuk musim hujan. Potensi dan jumlah kejadian bencana naik seiring dengan jumlah intensitas curah hujan serta anomali cuaca.

“Sudah gejala alam, hanya bisa diprediksi untuk mengantisipasi risiko yang dapat ditimbulkan. Setiap tahun atau setiap musim bisa berubah. Namun kejadian sebelumnya menjadi pertimbangan,” katanya.

Sugeng menjelaskan berdasarkan data rekap terakhir yang dilakukan, sedikitnya telah tejadi 63 kejadian bencana yang melanda Kabupaten Probolinggo. Puluhan bencana yang terjadi di antaranya adalah 28 kejadian angin kencang. Melanda Kecamatan Banyuanyar, Besuk, Pakuniran, Kotaanyar, Dringu, Maron, Tiris dan Tongas.

Selanjutnya terjadi bencana 20 kejadian banjir di Kecamatan Tongas, Sumberasih, dan Dringu. Bencana tanah longsor sebanyak 13 kejadian. Terjadi di Kecamatan Tiris, Pakuniran, Sumber, Sukapura. Sementara 2 lainnya kecelakaan air yang terjadi di Kecamatan Pakuniran dan Kraksaan.

Sampai dengan saat ini bencana angin kencang merupakan bencana yang sering terjadi. Sehingga perlu diwaspadai hingga musim hujan berakhir. Namun demikian tidak mengenyampingkan bencana lainnya yang telah terjadi. (ar/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/