alexametrics
24.4 C
Probolinggo
Tuesday, 16 August 2022

Usai Diguyur Hujan, Petani Tembakau Probolinggo Resah

KRAKSAAN, Radar Bromo – Derasnya guyuran hujan di Kabupaten Probolinggo, Sabtu (11/9) sore sampai Minggu (12/9) dini hari, membuat sejumlah petani tembakau gelisah. Banyak tembakau milik petani yang dijemur terkena hujan. Bahkan, tanaman tembakau yang masih hijau juga banyak yang layu.

Salah seorang petani tembakau asal Desa Sambirampak Kidul, Kecamatan Kotaanyar, Sumi, 45, mengatakan, hujan deras membuat tembakaunya rusak. Tembakau yang sudah selesai dirajang itu berwarna kemerahan.

“Tiba-tiba besar, sehingga tidak tertolong. Tapi, tetap meski hujan saya pindah satu-satu gedeknya ke dalam rumah. Supaya tembakau di gedek itu tidak terlalu lama terkena hujan,” ujarnya sambil menghela napas, kemarin (13/9).

Ia mengatakan, puluhan gedek tembakau yang dibiarkan di ruang terbuka pada malam hari tak satupun yang selamat dari guyuran hujan. Karenanya, kini harus bekerja ekstra untuk mengeringkannya. Meski harganya akan murah, karena warnanya sudah rusak.

“Ada yang nawar Rp 26 ribu per kilogram. Harga itu jauh dengan harga biasanya. Saat ini harga tembakau normal Rp 35 ribu per kilogram. Jika bagus bisa Rp 38 per kilogram. Tergantung tembakaunya,” jelasnya.

Kerugian itu, menurutnya, merupakan kali kedua. Saat ini hasil rajangan tembakau yang terkena hujan itu merupakan bagian daun atas. Sebelumnya saat panen daun tengah juga terkena hujan.

“Sebelumnya juga sama. Tapi, tidak separah sekarang. Kalau dulu hujannya tidak terlalu deras. Saat ini langsung deras dan tidak bisa ditolong,” ujarnya.

Hal senada diungkap Ulil Amri, salah satu petani asal Desa Kertosono, Kecamatan Gading. Ia mengaku mengalami kerugian puluhan juta.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Derasnya guyuran hujan di Kabupaten Probolinggo, Sabtu (11/9) sore sampai Minggu (12/9) dini hari, membuat sejumlah petani tembakau gelisah. Banyak tembakau milik petani yang dijemur terkena hujan. Bahkan, tanaman tembakau yang masih hijau juga banyak yang layu.

Salah seorang petani tembakau asal Desa Sambirampak Kidul, Kecamatan Kotaanyar, Sumi, 45, mengatakan, hujan deras membuat tembakaunya rusak. Tembakau yang sudah selesai dirajang itu berwarna kemerahan.

“Tiba-tiba besar, sehingga tidak tertolong. Tapi, tetap meski hujan saya pindah satu-satu gedeknya ke dalam rumah. Supaya tembakau di gedek itu tidak terlalu lama terkena hujan,” ujarnya sambil menghela napas, kemarin (13/9).

Ia mengatakan, puluhan gedek tembakau yang dibiarkan di ruang terbuka pada malam hari tak satupun yang selamat dari guyuran hujan. Karenanya, kini harus bekerja ekstra untuk mengeringkannya. Meski harganya akan murah, karena warnanya sudah rusak.

“Ada yang nawar Rp 26 ribu per kilogram. Harga itu jauh dengan harga biasanya. Saat ini harga tembakau normal Rp 35 ribu per kilogram. Jika bagus bisa Rp 38 per kilogram. Tergantung tembakaunya,” jelasnya.

Kerugian itu, menurutnya, merupakan kali kedua. Saat ini hasil rajangan tembakau yang terkena hujan itu merupakan bagian daun atas. Sebelumnya saat panen daun tengah juga terkena hujan.

“Sebelumnya juga sama. Tapi, tidak separah sekarang. Kalau dulu hujannya tidak terlalu deras. Saat ini langsung deras dan tidak bisa ditolong,” ujarnya.

Hal senada diungkap Ulil Amri, salah satu petani asal Desa Kertosono, Kecamatan Gading. Ia mengaku mengalami kerugian puluhan juta.

MOST READ

BERITA TERBARU

/