alexametrics
25 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Leptospirosis Masih Mengancam Warga Probolinggo, 6 Bulan 3 Warga Meninggal

KRAKSAAN, Radar Bromo – Penyakit Leptospirosis kembali ditemukan di Kabupaten Probolinggo. Hingga Juni tahun ini, ditemukan enam kasus. Bahkan, tiga di antaranya meninggal dunia.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, hampir tiap tahun ditemukan kasus Leptospirosis di Kabupaten Probolinggo. yang terparah terjadi pada tahun 2021. Saat itu, ditemukan 21 kasus Leptospirosis. Dan tujuh kasus di antaranya mengakibatkan kematian bagi penderitanya.

Sementara tahun ini, tiga penderitanya meninggal dari enam kasus yang ada. Satu pasien berasal dari Desa Suko, Kecamatan Maron dan dua pasien dari Desa Jorongan, Kecamatan Leces.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi. Beberapa hewan yang bisa menjadi perantara penyebaran leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing, dan babi.

Epidemiologi Ahli Muda di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan, penyakit akibat bakteri Leptospira harus diwaspadai. Sebab, jika tidak segera diobati dan ditangani, bisa mengakibatkan kematian. Seperti halnya tahun ini, sudah ada tiga penderita Leptospirosis yang meninggal.

”Dari Januari hingga Juni kemarin, ada enam kasus Leptospirosis. Sebanyak tiga kasus di antaranya mengakibatkan penderitanya meninggal,” katanya.

Dewi menerangkan, penyakit Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urine (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Penyakit Leptospirosis kembali ditemukan di Kabupaten Probolinggo. Hingga Juni tahun ini, ditemukan enam kasus. Bahkan, tiga di antaranya meninggal dunia.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, hampir tiap tahun ditemukan kasus Leptospirosis di Kabupaten Probolinggo. yang terparah terjadi pada tahun 2021. Saat itu, ditemukan 21 kasus Leptospirosis. Dan tujuh kasus di antaranya mengakibatkan kematian bagi penderitanya.

Sementara tahun ini, tiga penderitanya meninggal dari enam kasus yang ada. Satu pasien berasal dari Desa Suko, Kecamatan Maron dan dua pasien dari Desa Jorongan, Kecamatan Leces.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi. Beberapa hewan yang bisa menjadi perantara penyebaran leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing, dan babi.

Epidemiologi Ahli Muda di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan, penyakit akibat bakteri Leptospira harus diwaspadai. Sebab, jika tidak segera diobati dan ditangani, bisa mengakibatkan kematian. Seperti halnya tahun ini, sudah ada tiga penderita Leptospirosis yang meninggal.

”Dari Januari hingga Juni kemarin, ada enam kasus Leptospirosis. Sebanyak tiga kasus di antaranya mengakibatkan penderitanya meninggal,” katanya.

Dewi menerangkan, penyakit Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urine (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru.

MOST READ

BERITA TERBARU

/