alexametrics
30.6 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

PPKM Darurat, Takbiran di Masjid Kraksaan Tak Undang Jamaah

KRAKSAAN, Radar Bromo – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Kabupaten Probolinggo, tidak hanya berdampak terhadap peniadaan sementara peribadahan di tempat ibadah. Namun, juga meniadakan kegiatan takbiran di masjid dan musala ketika Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah. Warga juga diminta beribadah di rumah masing-masing.

Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Probolinggo bernomor 451/472/426.33/2021 tentang PPKM Darurat. SE itu mengacu pada SE Mendagri Nomor 15/2021 tentang PPKM Darurat Covid-19 Jawa-Bali. Serta, Instruksi Mendagri Nomor 18/2021 dan SE Menteri Agama 17/2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadahan di Tempat Ibadah, Malam Takbiran, Salat Idul Adha, dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M di wilayah PPKM Darurat.

Dalam SE Bupati Probolinggo, disebutkan peniadaan sementara peribadahan di tempat ibadah, seperti masjid, musala, gereja, pura, wihara, dan kelenteng, serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah. Baik yang dikelola masyarakat, pemerintah, maupun perusahaan.

“Ditiadakan sementara dan kegiatan peribadahan dilakukan di rumah masing-masing,” ujar Koordinator Penegakan Hukum Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, Selasa (13/7).

Namun, kata Ugas, kumandang azan, bunyi lonceng gereja, dan tanda-tanda lain sebagai tanda masuknya waktu ibadah tetap bisa dikumandangkan atau dibunyikan. “Ini berlaku untuk di wilayah Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Dalam SE itu juga disebutkan, takbiran di masjid atau musala dapat dilakukan dengan menggunakan audio dan tidak mengundang jamaah. Kegiatan takbir keliling, baik arak-arakan dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan, ditiadakan.

Begitu juga dengan salat Idul Adha. Baik di masjid maupun musala yang dikelola masyarakat, pemerintah, perusahaan, atau tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah, juga ditiadakan.

“Takbir dan salat Hari Raya Idul Adha dilakukan di rumah masing-masing sesuai rukun sahnya salat Idul Adha. Kami dengan adanya SE Bupati, akan menyosialisasikannya. Juga terus mengedukasi masyarakat agar benar-benar bisa mengikuti aturan,” ujarnya.

Ketua Takmir Masjid Agung Ar Raudloh Kraksaan Zubaidi mengaku, sebelumnya telah mendapatkan informasi dan arahan perihal SE dengan regulasi PPKM Darurat. Karenanya, sejak awal telah menyosialisasikan kepada jamaah.

“Kami sudah beri pemahaman kepada para jamaah. Kalau yang protes tentu ada. Namun, pelan-pelan kami beri arahan. Termasuk salat Idul Adha, yang ditiadakan dan dapat dilakukan di rumah masing-masing,” ujarnya. (mu/rud)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Kabupaten Probolinggo, tidak hanya berdampak terhadap peniadaan sementara peribadahan di tempat ibadah. Namun, juga meniadakan kegiatan takbiran di masjid dan musala ketika Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah. Warga juga diminta beribadah di rumah masing-masing.

Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Probolinggo bernomor 451/472/426.33/2021 tentang PPKM Darurat. SE itu mengacu pada SE Mendagri Nomor 15/2021 tentang PPKM Darurat Covid-19 Jawa-Bali. Serta, Instruksi Mendagri Nomor 18/2021 dan SE Menteri Agama 17/2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadahan di Tempat Ibadah, Malam Takbiran, Salat Idul Adha, dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M di wilayah PPKM Darurat.

Dalam SE Bupati Probolinggo, disebutkan peniadaan sementara peribadahan di tempat ibadah, seperti masjid, musala, gereja, pura, wihara, dan kelenteng, serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah. Baik yang dikelola masyarakat, pemerintah, maupun perusahaan.

“Ditiadakan sementara dan kegiatan peribadahan dilakukan di rumah masing-masing,” ujar Koordinator Penegakan Hukum Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, Selasa (13/7).

Namun, kata Ugas, kumandang azan, bunyi lonceng gereja, dan tanda-tanda lain sebagai tanda masuknya waktu ibadah tetap bisa dikumandangkan atau dibunyikan. “Ini berlaku untuk di wilayah Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Dalam SE itu juga disebutkan, takbiran di masjid atau musala dapat dilakukan dengan menggunakan audio dan tidak mengundang jamaah. Kegiatan takbir keliling, baik arak-arakan dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan, ditiadakan.

Begitu juga dengan salat Idul Adha. Baik di masjid maupun musala yang dikelola masyarakat, pemerintah, perusahaan, atau tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah, juga ditiadakan.

“Takbir dan salat Hari Raya Idul Adha dilakukan di rumah masing-masing sesuai rukun sahnya salat Idul Adha. Kami dengan adanya SE Bupati, akan menyosialisasikannya. Juga terus mengedukasi masyarakat agar benar-benar bisa mengikuti aturan,” ujarnya.

Ketua Takmir Masjid Agung Ar Raudloh Kraksaan Zubaidi mengaku, sebelumnya telah mendapatkan informasi dan arahan perihal SE dengan regulasi PPKM Darurat. Karenanya, sejak awal telah menyosialisasikan kepada jamaah.

“Kami sudah beri pemahaman kepada para jamaah. Kalau yang protes tentu ada. Namun, pelan-pelan kami beri arahan. Termasuk salat Idul Adha, yang ditiadakan dan dapat dilakukan di rumah masing-masing,” ujarnya. (mu/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/