alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Remaja asal Kraksaan Ditemukan Tewas Gantung Diri  

KRAKSAAN, Radar Bromo– Betapa terkejutnya keluarga MTH, 20. Minggu malam itu (12/6), remaja asal Asembagus, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo itu ditemukan tewas tergantung di bawah anak tangga di rumahnya.

MTH ditemukan sudah terbujur kaku sekitar pukul 20.15. Yang mengetahui pertama kali adalah nenek korban. selama ini, korban MTH memang hidup bersama neneknya.

Usai mendapati cucunya tewas tergantung, sang nenek meminta pertolongan kepada warga sekitar. “Warga mengetahui korban gantung diri setelah nenek korban berteriak histeris. Ia lalu meminta tolong kepada warga sekitar,” kata Sekretaris Desa Asembagus, Rofi’i, Minggu (12/6).

Tak lama berselang, warga berdatangan. Korban pun langsung diturunkan. Bidan desa dipanggil. Saat itu diketahui korban sudah meninggal.

“Sempat dicek, dan memang sudah tidak bernapas. Kemudian dicek lagi ke bidan untuk memastikan bahwa dia ini benar-benar sudah meninggal dunia,” ujar Rofi’i.

Ia menambahkan, pihak keluarga menganggap kejadian itu sebagai musibah. Sehingga, tidak berkenan jenazah korban diotopsi. Pihak keluarga juga membuat surat pernyataan yang berisi persetujuan untuk tidak melakukan langkah hukum apapun pasca insiden itu.

Petugas kepolisian pun langsung mendatangi lokasi kejadian. “Betul, pihak keluarga korban menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak mau dilakukan otopsi,” ujar Kapolsek Kraksaan Kompol Sujianto. (mu/mie)

 

 

 

KRAKSAAN, Radar Bromo– Betapa terkejutnya keluarga MTH, 20. Minggu malam itu (12/6), remaja asal Asembagus, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo itu ditemukan tewas tergantung di bawah anak tangga di rumahnya.

MTH ditemukan sudah terbujur kaku sekitar pukul 20.15. Yang mengetahui pertama kali adalah nenek korban. selama ini, korban MTH memang hidup bersama neneknya.

Usai mendapati cucunya tewas tergantung, sang nenek meminta pertolongan kepada warga sekitar. “Warga mengetahui korban gantung diri setelah nenek korban berteriak histeris. Ia lalu meminta tolong kepada warga sekitar,” kata Sekretaris Desa Asembagus, Rofi’i, Minggu (12/6).

Tak lama berselang, warga berdatangan. Korban pun langsung diturunkan. Bidan desa dipanggil. Saat itu diketahui korban sudah meninggal.

“Sempat dicek, dan memang sudah tidak bernapas. Kemudian dicek lagi ke bidan untuk memastikan bahwa dia ini benar-benar sudah meninggal dunia,” ujar Rofi’i.

Ia menambahkan, pihak keluarga menganggap kejadian itu sebagai musibah. Sehingga, tidak berkenan jenazah korban diotopsi. Pihak keluarga juga membuat surat pernyataan yang berisi persetujuan untuk tidak melakukan langkah hukum apapun pasca insiden itu.

Petugas kepolisian pun langsung mendatangi lokasi kejadian. “Betul, pihak keluarga korban menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak mau dilakukan otopsi,” ujar Kapolsek Kraksaan Kompol Sujianto. (mu/mie)

 

 

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/