alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Takut Tes Antigen di Pasar Semampir, Sembilan Remaja Menangis

KRAKSAAN, Radar Bromo – Ada 13 warga Kabupaten Pamekasan, Madura, yang terjaring operasi yustisi di Pasar Semampir, Kraksaan, Jumat (11/6) pagi. Mereka pun langsung dites antigen. Mereka terdiri atas sembilan remaja dan empat ibu-ibu.

Awalnya, mereka sempat menolak tes antigen yang dilakukan petugas. Sembilan remaja yang akan dites antigen bahkan sampai menangis tersedu-sedu.

Tangisan mereka pecah saat digiring oleh tim Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo untuk berbaris dan tes rapid antigen. Mereka dites karena ketahuan tidak memakai masker saat berbelanja di Pasar Semampir.

Enjek, moleah engkok (Tidak mau. Saya mau pulang),” teriak seorang remaja putri sambil menangis ketakutan.

Salah seorang ibu mengaku hanya hendak membelikan sandal untuk anaknya yang akan mondok. Karena itu, mereka pergi ke Pasar Semampir.

Kauleh gun melleah sandal kagebei anak se amonduk. Nekah sandalah (saya hanya ingin membeli sandal untuk anak yang hendak mondok. Ini sandalnya),” katanya saat diamankan tim Satgas Covid-19.

Tangisan yang pecah dari para remaja berumur rata-rata 13-14 tahun tersebut, awalnya sulit dikendalikan. Namun, tim Satgas dibantu para petugas pasar memberikan pemahaman bahwa mereka harus dites antigen.

“Jangan nangis, ini untuk kebaikan kalian. Nanti hasilnya seperti apa kan bisa diketahui. Sehingga kalian lega,” ujar Melati, staf Pasar Semampir kepada para remaja asal Pamekasan tersebut.

Melati sendiri mengaku, kedatangan warga Kabupaten Pamekasan tersebut di luar prediksinya. Sebab, sebelum Satgas tiba pihak pasar sudah menyosialisasikan untuk menerapkan protokol kesehatan. Seperti, menggunakan masker.

Ia menuturkan, kedatangan rombongan dari Pamekasan itu terpantau sedang berbelanja untuk keperluan anak-anaknya yang akan mondok. Mereka berbelanja di toko yang ada di bagian depan.

“Mereka tidak sampai masuk ke area dalam, hanya berbelanja di toko depan pasar. Karena memang mereka sedang beli peralatan pondok, seperti gayung dan yang lainnya. Kaget juga ada warga Madura sampai ke sini pada situasi seperti sekarang,” ujarnya.

Tangisan para remaja itu sendiri akhirnya bisa dihentikan. Setelah suasana mulai kondusif, para remaja tersebut bergantian dites antigen. Termasuk empat ibu yang mendampingi mereka.

Koordinator Penegakan Hukum Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto menyebutkan, hasil tes antigen pada 13 warga Pamekasan itu semuanya negatif. Sehingga, pihaknya juga lega.

“Alhamdulillah hasilnya sesuai harapan. Mereka negatif, meskipun tadi ada lima orang lainnya yang hasilnya sempat tertunda untuk dilakukan tes PCR. Tapi sekarang sudah dipastikan negatif semua,” ujarnya. (mu/hn)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Ada 13 warga Kabupaten Pamekasan, Madura, yang terjaring operasi yustisi di Pasar Semampir, Kraksaan, Jumat (11/6) pagi. Mereka pun langsung dites antigen. Mereka terdiri atas sembilan remaja dan empat ibu-ibu.

Awalnya, mereka sempat menolak tes antigen yang dilakukan petugas. Sembilan remaja yang akan dites antigen bahkan sampai menangis tersedu-sedu.

Tangisan mereka pecah saat digiring oleh tim Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo untuk berbaris dan tes rapid antigen. Mereka dites karena ketahuan tidak memakai masker saat berbelanja di Pasar Semampir.

Enjek, moleah engkok (Tidak mau. Saya mau pulang),” teriak seorang remaja putri sambil menangis ketakutan.

Salah seorang ibu mengaku hanya hendak membelikan sandal untuk anaknya yang akan mondok. Karena itu, mereka pergi ke Pasar Semampir.

Kauleh gun melleah sandal kagebei anak se amonduk. Nekah sandalah (saya hanya ingin membeli sandal untuk anak yang hendak mondok. Ini sandalnya),” katanya saat diamankan tim Satgas Covid-19.

Tangisan yang pecah dari para remaja berumur rata-rata 13-14 tahun tersebut, awalnya sulit dikendalikan. Namun, tim Satgas dibantu para petugas pasar memberikan pemahaman bahwa mereka harus dites antigen.

“Jangan nangis, ini untuk kebaikan kalian. Nanti hasilnya seperti apa kan bisa diketahui. Sehingga kalian lega,” ujar Melati, staf Pasar Semampir kepada para remaja asal Pamekasan tersebut.

Melati sendiri mengaku, kedatangan warga Kabupaten Pamekasan tersebut di luar prediksinya. Sebab, sebelum Satgas tiba pihak pasar sudah menyosialisasikan untuk menerapkan protokol kesehatan. Seperti, menggunakan masker.

Ia menuturkan, kedatangan rombongan dari Pamekasan itu terpantau sedang berbelanja untuk keperluan anak-anaknya yang akan mondok. Mereka berbelanja di toko yang ada di bagian depan.

“Mereka tidak sampai masuk ke area dalam, hanya berbelanja di toko depan pasar. Karena memang mereka sedang beli peralatan pondok, seperti gayung dan yang lainnya. Kaget juga ada warga Madura sampai ke sini pada situasi seperti sekarang,” ujarnya.

Tangisan para remaja itu sendiri akhirnya bisa dihentikan. Setelah suasana mulai kondusif, para remaja tersebut bergantian dites antigen. Termasuk empat ibu yang mendampingi mereka.

Koordinator Penegakan Hukum Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto menyebutkan, hasil tes antigen pada 13 warga Pamekasan itu semuanya negatif. Sehingga, pihaknya juga lega.

“Alhamdulillah hasilnya sesuai harapan. Mereka negatif, meskipun tadi ada lima orang lainnya yang hasilnya sempat tertunda untuk dilakukan tes PCR. Tapi sekarang sudah dipastikan negatif semua,” ujarnya. (mu/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU