alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Minyak Goreng Curah Mahal dan Langka, Pelaku UMKM Kelimpungan

KRAKSAAN, Radar Bromo – Kelangkaan minyak goreng curah sangat memukul pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Keuntungan mereka menurun, karena biaya produksi yang meningkat. Bahkan, ada yang sampai berhenti produksi.

Salah satunya Moh Edi, 24, pelaku UMKM Kerupuk Udang Bawang UD Abadi Jaya Probolinggo. Menurutnya, sejak minyak goreng langka, tiap hari keuntungannya menurun.

Edi harus mengeluarkan biaya produksi lebih tinggi dari biasanya untuk membeli minyak goreng curah yang makin mahal. Mau tidak mau, hal itu mengurangi keuntungannya.

“Minyak goreng curah selain langka, juga mahal. Akibatnya, keuntungan saya turun walaupun usaha terus jalan,” terang lelaki asal Krejengan tersebut.

Total, Edi kehilangan keuntungan sebesar 20 persen per harinya. Saat harga minyak goreng normal, per hari ia bisa mendapat keuntungan kotor Rp 500 ribu – Rp 600 ribu.

“Per sekali produksi itu 50 kilogram krupuk. Di saat normal, saya bisa untung Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Tapi sekarang di bawah itu. Kadang Rp 400 ribuan,” terangnya.

Dedi pun khawatir, produksi kerupuknya terganggu. Sebab, saat ini keberadaan minyak goreng curah juga mulai langka. Edy mengaku membeli minyak goreng curah seharga Rp 24 ribu – Rp 25 ribu per kilogram. Walupun harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp 14 ribu per liter. “Alhamdulillah ada terus. Tapi, misalnya nanti tidak ada, produksi otomatis berhenti,” Katanya.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Kelangkaan minyak goreng curah sangat memukul pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Keuntungan mereka menurun, karena biaya produksi yang meningkat. Bahkan, ada yang sampai berhenti produksi.

Salah satunya Moh Edi, 24, pelaku UMKM Kerupuk Udang Bawang UD Abadi Jaya Probolinggo. Menurutnya, sejak minyak goreng langka, tiap hari keuntungannya menurun.

Edi harus mengeluarkan biaya produksi lebih tinggi dari biasanya untuk membeli minyak goreng curah yang makin mahal. Mau tidak mau, hal itu mengurangi keuntungannya.

“Minyak goreng curah selain langka, juga mahal. Akibatnya, keuntungan saya turun walaupun usaha terus jalan,” terang lelaki asal Krejengan tersebut.

Total, Edi kehilangan keuntungan sebesar 20 persen per harinya. Saat harga minyak goreng normal, per hari ia bisa mendapat keuntungan kotor Rp 500 ribu – Rp 600 ribu.

“Per sekali produksi itu 50 kilogram krupuk. Di saat normal, saya bisa untung Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Tapi sekarang di bawah itu. Kadang Rp 400 ribuan,” terangnya.

Dedi pun khawatir, produksi kerupuknya terganggu. Sebab, saat ini keberadaan minyak goreng curah juga mulai langka. Edy mengaku membeli minyak goreng curah seharga Rp 24 ribu – Rp 25 ribu per kilogram. Walupun harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp 14 ribu per liter. “Alhamdulillah ada terus. Tapi, misalnya nanti tidak ada, produksi otomatis berhenti,” Katanya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/