alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Terus Berinovasi di Bidang Pangan dan Teknologi

KRAKSAAN, Radar Bromo – Inovasi menarik dalam bidang pangan mewarnai kunjungan lapang (fact finding) Lomba Inovasi Daerah (Inoda) 2021 hari terakhir, Sabtu (10/4). Tim juri dan panitia penyelenggara Bappeda Kabupaten Probolinggo pun harus ke pelosok Pakuniran untuk melakukan kunjungan lapang.

Ada inovasi karya Siti Nur Seha yang memproduksi chitosan edible coating dari sisik ikan untuk memperpanjang masa simpan buah dan sayur. Siti melakukan percobaan di laboratorium mini di rumahnya di Desa Bimo, Pakuniran.

Buah dan sayur direndam sebentar dengan chitosan edible coating yang berbentuk cair. Lantas, diangin-anginkan atau ditiriskan. Dengan coating atau lapisan dari chitosan ini, buah dan sayur terbukti lebih tahan lama.

TAHAN LAMA: Siti Nur Seha (kanan) menjelaskan proses pembuatan chitosan edible coating dari sisik ikan yang bisa memperpanjang masa simpan buah dan sayur di lab mini rumahnya di Bimo, Kecamatan Pakuniran, Sabtu (10/4). (Foto: Didik Purwanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Kalau disimpan di suhu ruang bisa sembilan hari. Sementara disimpan di lemari es, jauh lebih lama. Namun, menurut Siti, waktu panen buah dan sayur juga memberikan pengaruh pada masa simpan.

“Saya juga menemukan fakta, ternyata waktu panen juga berpengaruh. Dengan sama-sama menggunakan chitosan sebagai coating, cabai yang dipanen di pagi hari akan lebih lama masa simpannya daripada cabai yang dipanen di sore hari,” pada tiga tim juri yang datang ke lab mini di rumahnya.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo itu juga mengunjungi Abdul Nasir di Kecamatan Paiton yang juga berinovasi di bidang pangan. Nasir menawarkan inovasi melalui “Penyediaan Bibir Tanaman Pisang Cavendish Berkualitas melalui Inovasi Kultur Jaringan untuk Meningkatkan Produksi dan Menekan Biaya Usaha Tani.”

Di laboratorium di rumahnya, Nasir mengembangkan budi daya pisang Cavendish melalui kultur jaringan. Dengan cara ini, ribuan bibit pisang Cavendish berkualitas bisa dikembangkan dalam waktu cepat. Dan sifat yang sama dengan induknya.

“Melalui kultur jaringan ini, budi daya pisang Cavendsih bisa dilakukan dengan lebih cepat. Selain itu, kualitasnya akan sama dengan induknya,” terang Nasir sambil mempraktikkan proses kultur jaringan pisang Cavendish di labnya.

Selain di bidang pangan, inovasi juga dilakukan di bidang teknologi. Seperti yang dilakukan oleh dua lembaga pendidikan. Yaitu, Universitas Nurul Jadid (UNUJA) dan SMKN 2 Kraksaan.

Dua lembaga pendidikan ini sama-sama beriovasi membuat tempat cuci tangan otomatis. Namun dengan teknologi yang berbeda. UNUJA membuat wastafel cuci tangan otomatis menggunakan solar panel berbasis arduino uno.

“Dengan menggunakan solar panel, maka kami tidak membutuhkan energi dari listrik. Pemanfaatan solar panel sekaligus cara untuk memanfaatkan sumber energi alternatif,” terang Nur Azizah, mewakili tim UNUJA saat menunjukkan wastafel buatan mereka pada tim juri.

Sedangkan SMKN 2 membuat “S-WASH yaitu Inovasi Washtafel Otomatis yang Mudah Digunakan di Tengah Pandemi.” Melalui inovasi ini, tiga siswa yaitu Haris Imanul Yakin, Muhammad Ali Makki, dan Algadlul ‘Adzim membuat wastafel otomatis, namun tetap memanfaatkan listrik sebagai sumber energi. (hn/adv)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Inovasi menarik dalam bidang pangan mewarnai kunjungan lapang (fact finding) Lomba Inovasi Daerah (Inoda) 2021 hari terakhir, Sabtu (10/4). Tim juri dan panitia penyelenggara Bappeda Kabupaten Probolinggo pun harus ke pelosok Pakuniran untuk melakukan kunjungan lapang.

Ada inovasi karya Siti Nur Seha yang memproduksi chitosan edible coating dari sisik ikan untuk memperpanjang masa simpan buah dan sayur. Siti melakukan percobaan di laboratorium mini di rumahnya di Desa Bimo, Pakuniran.

Buah dan sayur direndam sebentar dengan chitosan edible coating yang berbentuk cair. Lantas, diangin-anginkan atau ditiriskan. Dengan coating atau lapisan dari chitosan ini, buah dan sayur terbukti lebih tahan lama.

TAHAN LAMA: Siti Nur Seha (kanan) menjelaskan proses pembuatan chitosan edible coating dari sisik ikan yang bisa memperpanjang masa simpan buah dan sayur di lab mini rumahnya di Bimo, Kecamatan Pakuniran, Sabtu (10/4). (Foto: Didik Purwanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Kalau disimpan di suhu ruang bisa sembilan hari. Sementara disimpan di lemari es, jauh lebih lama. Namun, menurut Siti, waktu panen buah dan sayur juga memberikan pengaruh pada masa simpan.

“Saya juga menemukan fakta, ternyata waktu panen juga berpengaruh. Dengan sama-sama menggunakan chitosan sebagai coating, cabai yang dipanen di pagi hari akan lebih lama masa simpannya daripada cabai yang dipanen di sore hari,” pada tiga tim juri yang datang ke lab mini di rumahnya.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo itu juga mengunjungi Abdul Nasir di Kecamatan Paiton yang juga berinovasi di bidang pangan. Nasir menawarkan inovasi melalui “Penyediaan Bibir Tanaman Pisang Cavendish Berkualitas melalui Inovasi Kultur Jaringan untuk Meningkatkan Produksi dan Menekan Biaya Usaha Tani.”

Di laboratorium di rumahnya, Nasir mengembangkan budi daya pisang Cavendish melalui kultur jaringan. Dengan cara ini, ribuan bibit pisang Cavendish berkualitas bisa dikembangkan dalam waktu cepat. Dan sifat yang sama dengan induknya.

“Melalui kultur jaringan ini, budi daya pisang Cavendsih bisa dilakukan dengan lebih cepat. Selain itu, kualitasnya akan sama dengan induknya,” terang Nasir sambil mempraktikkan proses kultur jaringan pisang Cavendish di labnya.

Selain di bidang pangan, inovasi juga dilakukan di bidang teknologi. Seperti yang dilakukan oleh dua lembaga pendidikan. Yaitu, Universitas Nurul Jadid (UNUJA) dan SMKN 2 Kraksaan.

Dua lembaga pendidikan ini sama-sama beriovasi membuat tempat cuci tangan otomatis. Namun dengan teknologi yang berbeda. UNUJA membuat wastafel cuci tangan otomatis menggunakan solar panel berbasis arduino uno.

“Dengan menggunakan solar panel, maka kami tidak membutuhkan energi dari listrik. Pemanfaatan solar panel sekaligus cara untuk memanfaatkan sumber energi alternatif,” terang Nur Azizah, mewakili tim UNUJA saat menunjukkan wastafel buatan mereka pada tim juri.

Sedangkan SMKN 2 membuat “S-WASH yaitu Inovasi Washtafel Otomatis yang Mudah Digunakan di Tengah Pandemi.” Melalui inovasi ini, tiga siswa yaitu Haris Imanul Yakin, Muhammad Ali Makki, dan Algadlul ‘Adzim membuat wastafel otomatis, namun tetap memanfaatkan listrik sebagai sumber energi. (hn/adv)

MOST READ

BERITA TERBARU

/