alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Omzet Anjlok, Belum Ada Laporan UMKM di Kab Probolinggo Gulung Tikar

DRINGU, Radar Bromo – Adanya pandemi Covid-19, benar-benar memukul perekonomian pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Probolinggo. Terlebih adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Mayoritas, omzet mereka merosot.

Turunnya pendapatan itu dikarenakan pelanggan tak leluasa bergerak. Mereka ditekankan untuk tidak bepergian. Sejumlah akses jalan ditutup. Pelaku UMKM pun dibatasi untuk memasarkan produknya.

Termasuk ditutupnya sektor wisata yang selama ini menjadi salah satu tempat untuk memasarkan produk UMKM. Dengan ditutupnya destinasi wisata, orderan hasil produksi lumpuh.

“Sejauh ini tidak ada laporan UMKM yang gulung tikar dampak PPKM. Hanya saja, mereka mengalami penurunan omzet hingga 30 persen,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto.

Dalam kondisi seperti ini, kata Anung, pelaku UMKM dituntut lebih kreatif dalam memasarkan produknya. Salah satunya bisa menggunakan media sosial. Memasarkan barang secara online, sejatinya tidak ada kendala yang cukup berarti. Hanya mengubah teknis pemasaran. Jika sebelumnya bertemu dan menawarkan langsung, kini cara itu belum bisa dilakukan.

“Pelaku UMKM yang melek teknologi, begitu ada pembatasan kegiatan, langsung memutar otak bagaimana caranya agar barangnya tetap laku. Lantas pemasaran dilakukan secara online memanfaatkan jasa kurir,” jelasnya.

Tidak hanya itu, kata Anung, Kementerian juga telah menyalurkan bantuan kepada pelaku UMKM. Berupa Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) sebagai salah satu stimulus agar usahanya tidak lumpuh. Namun, bantuan ini perlu digunakan secara bijak sesuai tujuannya.

“Saya rasa banyak bantuan yang digelontorkan oleh pemerintah, baik sembako serta bantuan sosial lainnya. Kalau dari Kementerian Koperasi, namanya BPUM. Sekitar empat ribu UMKM di Kabupaten Probolinggo, mendapatkan bantuan ini,” ujarnya. (ar/rud)

DRINGU, Radar Bromo – Adanya pandemi Covid-19, benar-benar memukul perekonomian pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Probolinggo. Terlebih adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Mayoritas, omzet mereka merosot.

Turunnya pendapatan itu dikarenakan pelanggan tak leluasa bergerak. Mereka ditekankan untuk tidak bepergian. Sejumlah akses jalan ditutup. Pelaku UMKM pun dibatasi untuk memasarkan produknya.

Termasuk ditutupnya sektor wisata yang selama ini menjadi salah satu tempat untuk memasarkan produk UMKM. Dengan ditutupnya destinasi wisata, orderan hasil produksi lumpuh.

“Sejauh ini tidak ada laporan UMKM yang gulung tikar dampak PPKM. Hanya saja, mereka mengalami penurunan omzet hingga 30 persen,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto.

Dalam kondisi seperti ini, kata Anung, pelaku UMKM dituntut lebih kreatif dalam memasarkan produknya. Salah satunya bisa menggunakan media sosial. Memasarkan barang secara online, sejatinya tidak ada kendala yang cukup berarti. Hanya mengubah teknis pemasaran. Jika sebelumnya bertemu dan menawarkan langsung, kini cara itu belum bisa dilakukan.

“Pelaku UMKM yang melek teknologi, begitu ada pembatasan kegiatan, langsung memutar otak bagaimana caranya agar barangnya tetap laku. Lantas pemasaran dilakukan secara online memanfaatkan jasa kurir,” jelasnya.

Tidak hanya itu, kata Anung, Kementerian juga telah menyalurkan bantuan kepada pelaku UMKM. Berupa Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) sebagai salah satu stimulus agar usahanya tidak lumpuh. Namun, bantuan ini perlu digunakan secara bijak sesuai tujuannya.

“Saya rasa banyak bantuan yang digelontorkan oleh pemerintah, baik sembako serta bantuan sosial lainnya. Kalau dari Kementerian Koperasi, namanya BPUM. Sekitar empat ribu UMKM di Kabupaten Probolinggo, mendapatkan bantuan ini,” ujarnya. (ar/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/