alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Rumah Gubuk Solehudin Bakal Dibangun Semipermanen

PAITON, Radar Bromo – Gubuk berukuran 3,8 x 6 meter yang ditinggali Solehudin, 33 dan lima anggota keluarganya segera berganti rumah layak huni. Pemkab Probolinggo mengagendakan pembangunan rumah untuk keluarga itu setelah menerima informasi tentang kondisi mereka.

Pemkab Probolinggo melalui Wabup Timbul Prihanjoko bahkan sudah menemui keluarga Solehudin. Wabup lantas meminta Pemdes Randumerak melakukan tindakan darurat dengan mengagendakan pembangunan rumah layak huni bagi mereka.

Camat Paiton Muhammad Ridwan menjelaskan, sebenarnya pemerintah tidak abai terhadap keluarga Solehudin. Menurutnya, Solehudin bersama lima orang yang tinggal bersamanya tercatat dalam KK Zainab.

“Dan keluarga Zainab merupakan penerima BLT-DD Randumerak. Lalu, Muhammad Ashabul Kahfi, 6, yang berstatus cucu Zainab adalah peserta bansos PKH,” katanya.

Saat ini, menurutnya, pembangunan rumah dari program pengentasan RTLH untuk keluarga Zainab sedang dipercepat. Izin mendirikan rumah semipermanen sudah diajukan ke Dinas Pengairan Jawa Timur.

“Alhamdulillah kami bersama Pemdes Randumerak juga sudah membentuk panitia kecil untuk percepatan program RTLH. Di antaranya juga untuk menerima aliran donasi dari warga agar donasi ini lebih terarah,” tegasnya.

Menurut Ridwan, baru tiga mingguan keluarga Zainab tinggal di bantaran Sungai Pancar Glagas, Desa Randumerak, Paiton. Rumah mereka dijual, tapi tanpa sepengetahuan desa atau dijual di bawah tangan. Keluarga Zainal lantas pindah karena pembelinya akan menempati rumah itu.

“Rumah mereka terpaksa dijual untuk menutupi kebutuhan keluarga, salah satunya membayar utang. Karena si pembeli ingin segera menempati rumah tersebut, akhirnya keluarga ini membuat gubuk dengan memanfaatkan lahan milik Dinas PU Pengairan Jawa Timur,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Jabung Sisir dr. Yuniar Indah Savitri menegaskan, Muhmmad Ashabul Kahfi, 6, tidak mengalami gizi buruk. Namun, mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Kesimpulan tersebut didapatkan setelah pihaknya melakukan pemeriksaan antropometri pada bocah itu.

Berdasarkan pemeriksaan diketahui, berat badan Kahfi (panggilannya) 9,6 kilogram dan tinggi 99 sentimeter. Dengan usianya yang sudah 6 tahun, Kahfi dikatakan mengalami berat badan sangat kurang atau kurus dan tubuh pendek.

“Kami menemui kendala melakukan tindakan lebih lanjut karena keluarga tidak mengikuti saran petugas kesehatan. Lalu, ternyata anak Kahfi tidak tercatat dalam administrasi kependudukan. Sebab, status perkawinan bapak dan ibunya siri. Sehingga, anak masuk dalam KK Nenek Zainab,” terangnya.

Namun, Puskesmas bersama Dinas Kesehatan mengesampingkan fakta-fakta itu. Pihaknya, menurut Yuniar, bergerak cepat memberikan tindakan terbaik bagi anak Kahfi. Dia diajukan ikut program BPJS PBID. Lalu, mendatangkan ahli gizi untuk menentukan menu asupan dan formula khusus bagi anak dengan permasalahan badan kurus. (mas/hn)

PAITON, Radar Bromo – Gubuk berukuran 3,8 x 6 meter yang ditinggali Solehudin, 33 dan lima anggota keluarganya segera berganti rumah layak huni. Pemkab Probolinggo mengagendakan pembangunan rumah untuk keluarga itu setelah menerima informasi tentang kondisi mereka.

Pemkab Probolinggo melalui Wabup Timbul Prihanjoko bahkan sudah menemui keluarga Solehudin. Wabup lantas meminta Pemdes Randumerak melakukan tindakan darurat dengan mengagendakan pembangunan rumah layak huni bagi mereka.

Camat Paiton Muhammad Ridwan menjelaskan, sebenarnya pemerintah tidak abai terhadap keluarga Solehudin. Menurutnya, Solehudin bersama lima orang yang tinggal bersamanya tercatat dalam KK Zainab.

“Dan keluarga Zainab merupakan penerima BLT-DD Randumerak. Lalu, Muhammad Ashabul Kahfi, 6, yang berstatus cucu Zainab adalah peserta bansos PKH,” katanya.

Saat ini, menurutnya, pembangunan rumah dari program pengentasan RTLH untuk keluarga Zainab sedang dipercepat. Izin mendirikan rumah semipermanen sudah diajukan ke Dinas Pengairan Jawa Timur.

“Alhamdulillah kami bersama Pemdes Randumerak juga sudah membentuk panitia kecil untuk percepatan program RTLH. Di antaranya juga untuk menerima aliran donasi dari warga agar donasi ini lebih terarah,” tegasnya.

Menurut Ridwan, baru tiga mingguan keluarga Zainab tinggal di bantaran Sungai Pancar Glagas, Desa Randumerak, Paiton. Rumah mereka dijual, tapi tanpa sepengetahuan desa atau dijual di bawah tangan. Keluarga Zainal lantas pindah karena pembelinya akan menempati rumah itu.

“Rumah mereka terpaksa dijual untuk menutupi kebutuhan keluarga, salah satunya membayar utang. Karena si pembeli ingin segera menempati rumah tersebut, akhirnya keluarga ini membuat gubuk dengan memanfaatkan lahan milik Dinas PU Pengairan Jawa Timur,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Jabung Sisir dr. Yuniar Indah Savitri menegaskan, Muhmmad Ashabul Kahfi, 6, tidak mengalami gizi buruk. Namun, mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Kesimpulan tersebut didapatkan setelah pihaknya melakukan pemeriksaan antropometri pada bocah itu.

Berdasarkan pemeriksaan diketahui, berat badan Kahfi (panggilannya) 9,6 kilogram dan tinggi 99 sentimeter. Dengan usianya yang sudah 6 tahun, Kahfi dikatakan mengalami berat badan sangat kurang atau kurus dan tubuh pendek.

“Kami menemui kendala melakukan tindakan lebih lanjut karena keluarga tidak mengikuti saran petugas kesehatan. Lalu, ternyata anak Kahfi tidak tercatat dalam administrasi kependudukan. Sebab, status perkawinan bapak dan ibunya siri. Sehingga, anak masuk dalam KK Nenek Zainab,” terangnya.

Namun, Puskesmas bersama Dinas Kesehatan mengesampingkan fakta-fakta itu. Pihaknya, menurut Yuniar, bergerak cepat memberikan tindakan terbaik bagi anak Kahfi. Dia diajukan ikut program BPJS PBID. Lalu, mendatangkan ahli gizi untuk menentukan menu asupan dan formula khusus bagi anak dengan permasalahan badan kurus. (mas/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/