Sedang Dibenahi, Aplikasi Cuaca Milik BPBD Tak Bisa Diakses

PESISIR LAUT: Kapal milik nelayan parkir di pinggir pantai Desa Kalibuntu, Kraksaan. Saat ini banyak nelayan yang menggunakan aplikasi prakiraan cuaca milik BPBD. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Aplikasi informasi prakiraan cuaca dan berita lainnya perihal kondisi alam milik BPBD Kabupaten Probolinggo, sejak sepekan lalu tidak dapat diakses. Aplikasi bernama Prosigab (Probolinggo Siaga Bencana, Red) tersebut masih dalam masa maintenance atau perawatan.

Silvia Verdiana, personel Pengendalian Operasi-Penanggulangan Bencana (Pusdalops–PB) BPBD Kabupaten Probolinggo mengatakan, memang dalam beberapa hari ini aplikasi prakiraan cuaca atau Prosigab sedang tidak bisa diakses. “Masih maintenance. Untuk lamanya hingga kapan, pihak kami masih belum bisa menentukan,” ujarnya.

Perempuan yang biasa disapa Silvi tersebut menuturkan, penambahan fitur baru pada aplikasi itu juga menjadi alasan kapan bisa diakses kembali aplikasi tersebut. Seperti yang diketahui, aplikasi tersebut tidak hanya berisi prakiraan cuaca dan grafik curah hujan. Namun, juga berisi informasi gempa dan daerah mana saja yang rawan mengalami bencana saat terjadi hujan.

“Sistem itu kan tidak dikerjakan sendiri oleh pihak kami, namun juga bersama BMKG. Rencana bersama BMKG itu juga akan ditambah fiturnya, sehingga kami tidak bisa memastikan kapan akan bisa diakses kembali,” jelasnya.

Dengan adanya maintenance tersebut, Silvi menuturkan, warga Kabupaten Probolinggo tidak perlu risau perihal informasi prakiraan cuaca maupun tentang kondisi alam lainnya. Karena pihaknya selalu memperbarui informasi melalui platform lain yang resmi milik BPBD.

“Jadi, pada semua akun media sosial selalu kami bagikan informasi tersebut, sehingga bisa dilihat dari sana,” ujarnya.

Salah satu nelayan yang mengandalkan aplikasi ini adalah Fauzan, 46. Nelayan di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, ini mengeluhkan tentang tidak bisanya aplikasi prakiraan cuaca milik BPBD tersebut. Dimana, saat hendak melaut dirinya dan beberapa nelayan lainnya biasanya memanfaatkan aplikasi tersebut.

“Beberapa hari ini memang tidak bisa diakses, sehingga kami cukup waswas untuk berlayar. Sebab, aplikasi itu memang biasa digunakan oleh nelayan sini,” ujarnya. (mg1/fun)