Walau Terdampak Rob, Pemilik Tambak Garam Tak Bisa Klaim Asuransi

TERDAMPAK ROB: Salah satu petani garam Desa Sidopekso, Kecamatan Kraksaan, melihat tambak garamnya yang rata dengan air laut imbas dari banjir rob. (Foto: Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN, Radar Bromo – Banjir rob yang melanda daerah pesisir di Kabupaten Probolinggo, menyebabkan tambak garam milik petani setempat rusak. Begitu pula dengan sejumlah pembudidaya ikan. Meski rugi sampai jutaan rupiah, mereka tidak bisa mengklaimkan ke pihak asuransi.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Hari Pur Sulistiono mengatakan, memang tidak ada asuransi tambak garam. Berbeda dengan asuransi budi daya ikan. Asuransi untuk pembudi daya ikan tetap ada, tapi dampak rob tak bisa diklaimkan.

Sebelum banjir rob melanda, pihaknya telah memberi peringatan kepada masyarakat pesisir untuk mengantisipasinya. Karena jadwal pasang air laut menunjukkan pasang tinggi mulai Rabu-Minggu (3-7/6).

Baca juga: Tambak Terendam Banjir Rob, Petani Garam di Kraksaan Merugi

“Biasanya pelaku budi daya meninggikan pematang bagi tambak yang ada ikannya. Yang tambaknya kosong, pintu air dibuka untuk menghindari tanggul jebol. Petani garam umumnya belum mempersiapkan lahan produksinya karena bersamaan dengan Ramadan, dilanjutkan Covid, dan antisipasi pasang air yang biasanya terjadi setahun dua kali. Yakni, pada Juni dan Desember,” jelas Hari.

Kasi Produksi Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Asmiyati Kurnianingsih mengatakan, tidak semua kerugian pembudi daya bisa ditanggung asuransi. Sesuai pentujuk teknis (juknis), kerugian dampak bencana alam yang bisa ditanggung asuransi seperti banjir, gunung meletus, dan gempa bumi. Atau, bencana yang terjadinya tidak dapat diprediksi.

“Sedangkan banjir rob termasuk bencana yang sudah dapat diprediksi waktunya, bahkan jam akan terjadi sudah dapat diprediksi. Karena itu, bencana rob tidak termasuk dalam pertanggungan asuransi, sehingga meski ada kerugian saat banjir rob, tidak akan bisa klaim asuransinya,” jelasnya.

Asmi mengatakan, berbeda dengan banjir yang terjadi Kamis (28/5). Saat itu banjir berasal dari hujan di daerah selatan mengumpul di sungai lalu menjadi banjir dan meluap ke tambak masyarakat. Dampak banjir jenis ini bisa ditanggung asuransi. “Waktu itu, dari 28 pembudi daya, sembilan di antaranya yang tersebar di Kecamatan Gending mengajukan asuransinya. Saat ini kami masih mengupayakan proses klaimnya,” ujarnya. (mg1/rud/fun)