alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

87 Ribu Ton Limbah Padat Batubara Milik PLTU Paiton Belum Dimanfaatkan

PAITON, Radar Bromo – Sekitar 110 ribu ton limbah padat Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dihasilkan dari proses pembakaran batubara (PLTU) Paiton, tiap tahunnya. Sejak FABA tidak masuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), limbah itu pun mulai dimanfaatkan. Salah satunya dikelola menjadi paving dan bata bahan bangunan rumah.

General Manager PT Pembangkitan Jawa Bali (PT PJB) Agus Prasetyo Utomo mengatakan, kompleks PLTU Paiton memang merupakan pembangkit terbesar di Indonesia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara saat ini.

PT PJB memiliki dua unit kerja. Meliputi Unit Pembangkitan Paiton sebagai pengelola PLTU Unit 1 dan Unit 2 serta UPT PJB UBJOM Paiton selaku pengelola PLTU Unit 9. ”Kompleks ini menjadi tulang punggung dari sistem kelistrikan Jawa Bali. Terutama di sisi timur dengan total kapasitas 4.700 megawatt,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (8/2).

BERGUNA: Proses pembuatan paving dan bata dari limbah padat. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Nah, sekitar 110 ribu ton FABA dihasilkan dari proses pembakaran batura dari PJB UBJOM Paiton. Sekitar 350 ton tiap harinya. Sekitar 81 ribu ton berupa fly ash dan 24 Ribu ton berupa botoom ash. Sejak dua tahun terakhir, FABA itu tidak hanya dimanfaatkan untuk pihak luar. Karena, sejak tidak masuk B3, pihaknya berupaya manfaatkan sendiri dengan menjadi bahan campuran produksi paving dan bata bahan bangunan rumah.

Sesuai Keputusan itu tertuang dalam aturan turunan Undang-Undang Cipta Kerja, yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dari sekitar 110 ribu ton itu, sebanyak 15 ton dimanfaatkan internal dan sekitar 18 ribu ton FABA dimanfaatkan eksternal. Selebihnya, sekitar 87 ribu ton FABA ditimbun.

PAITON, Radar Bromo – Sekitar 110 ribu ton limbah padat Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dihasilkan dari proses pembakaran batubara (PLTU) Paiton, tiap tahunnya. Sejak FABA tidak masuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), limbah itu pun mulai dimanfaatkan. Salah satunya dikelola menjadi paving dan bata bahan bangunan rumah.

General Manager PT Pembangkitan Jawa Bali (PT PJB) Agus Prasetyo Utomo mengatakan, kompleks PLTU Paiton memang merupakan pembangkit terbesar di Indonesia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara saat ini.

PT PJB memiliki dua unit kerja. Meliputi Unit Pembangkitan Paiton sebagai pengelola PLTU Unit 1 dan Unit 2 serta UPT PJB UBJOM Paiton selaku pengelola PLTU Unit 9. ”Kompleks ini menjadi tulang punggung dari sistem kelistrikan Jawa Bali. Terutama di sisi timur dengan total kapasitas 4.700 megawatt,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (8/2).

BERGUNA: Proses pembuatan paving dan bata dari limbah padat. (Foto: Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Nah, sekitar 110 ribu ton FABA dihasilkan dari proses pembakaran batura dari PJB UBJOM Paiton. Sekitar 350 ton tiap harinya. Sekitar 81 ribu ton berupa fly ash dan 24 Ribu ton berupa botoom ash. Sejak dua tahun terakhir, FABA itu tidak hanya dimanfaatkan untuk pihak luar. Karena, sejak tidak masuk B3, pihaknya berupaya manfaatkan sendiri dengan menjadi bahan campuran produksi paving dan bata bahan bangunan rumah.

Sesuai Keputusan itu tertuang dalam aturan turunan Undang-Undang Cipta Kerja, yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dari sekitar 110 ribu ton itu, sebanyak 15 ton dimanfaatkan internal dan sekitar 18 ribu ton FABA dimanfaatkan eksternal. Selebihnya, sekitar 87 ribu ton FABA ditimbun.

MOST READ

BERITA TERBARU

/