alexametrics
24 C
Probolinggo
Tuesday, 16 August 2022

Waduh, Ada ASN-Eks Anggota Dewan Disidang karena Tak Pakai Masker

KRAKSAAN, Radar Bromo– Pelanggran terhadap protokol kesehatan di Kabupaten Probolinggo, tak hanya dilakukan masyarakat biasa. Dalam operasi yustisi kemarin, ada empat aparatur sipil negara (ASN) dan mantan anggota DPRD, yang terjaring. Mereka kedapatan tidak memakai masker.

Senin  (7/12), Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo, mengeglar Operasi Yustisi Pertigaan Desa Betek, Kecamatan Krucil. Hasilnya, ada 55 orang yang terjaring razia.

Koordinator Penegak Hukum Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan, dalam operasi yang digelar selama 3 jam mulai pukul 08.30-11.30 itu, ada 55 orang yang terjaring. Mereka terjaring lantaran tidak menggunakan masker.

“Dari 55 orang itu, 4 di antaranya ASN (aparatur sipil negara) guru. Juga ada mantan anggota DPRD. Dari puluhan orang yang terjaring, 46 orang membayar denda dan sembilan lainnya mendapatkan sanksi sosial berupa besih-bersih makam selama tiga hari,” ujarnya.

Memasuki operasi hari ketujuh ini, kata Ugas, dampaknya kepada masyarakat mulai terasa. Banyak masyarakat yang mulai menggunakan masker lagi. Namun, ia mengaku menyayangkan masih adanya ASN, bahkan mantan anggota DPRD yang belum mementingkan menggukan masker.

“Kami sangat menyayangkan adanya ASN yang terjaring operasi. Seharusnya mereka harus paham betapa pentingnya penggunaan masker pada masa pandemi Covid-19. Paling tidak mereka bisa memberi contoh yang baik kepada masyarakat,” ujarnya.

Ugas mengungkapkan, saat operasi, banyak tantangan yang harus dihadapi di lapangan. Mulai dari kompalin saat persidangan, bahkan ancaman di media sosial. Namun, ia menilai hal ini sudah menjadi konsekuensi penegak hukum.

“Mulai komplain yang dilakukan dengan baik, bahkan buruk, semuanya ada. Bahkan, ancaman dan tantangan untuk berduel juga didapatkan. Lebih dari itu, pentinya penegakan protokol kesehatan, utamanya pada penggunaan masker, ini memang harus dilakukan. Kami harap masyarakat bisa mengerti,” ujarnya. (mu/rud/fun)

KRAKSAAN, Radar Bromo– Pelanggran terhadap protokol kesehatan di Kabupaten Probolinggo, tak hanya dilakukan masyarakat biasa. Dalam operasi yustisi kemarin, ada empat aparatur sipil negara (ASN) dan mantan anggota DPRD, yang terjaring. Mereka kedapatan tidak memakai masker.

Senin  (7/12), Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo, mengeglar Operasi Yustisi Pertigaan Desa Betek, Kecamatan Krucil. Hasilnya, ada 55 orang yang terjaring razia.

Koordinator Penegak Hukum Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan, dalam operasi yang digelar selama 3 jam mulai pukul 08.30-11.30 itu, ada 55 orang yang terjaring. Mereka terjaring lantaran tidak menggunakan masker.

“Dari 55 orang itu, 4 di antaranya ASN (aparatur sipil negara) guru. Juga ada mantan anggota DPRD. Dari puluhan orang yang terjaring, 46 orang membayar denda dan sembilan lainnya mendapatkan sanksi sosial berupa besih-bersih makam selama tiga hari,” ujarnya.

Memasuki operasi hari ketujuh ini, kata Ugas, dampaknya kepada masyarakat mulai terasa. Banyak masyarakat yang mulai menggunakan masker lagi. Namun, ia mengaku menyayangkan masih adanya ASN, bahkan mantan anggota DPRD yang belum mementingkan menggukan masker.

“Kami sangat menyayangkan adanya ASN yang terjaring operasi. Seharusnya mereka harus paham betapa pentingnya penggunaan masker pada masa pandemi Covid-19. Paling tidak mereka bisa memberi contoh yang baik kepada masyarakat,” ujarnya.

Ugas mengungkapkan, saat operasi, banyak tantangan yang harus dihadapi di lapangan. Mulai dari kompalin saat persidangan, bahkan ancaman di media sosial. Namun, ia menilai hal ini sudah menjadi konsekuensi penegak hukum.

“Mulai komplain yang dilakukan dengan baik, bahkan buruk, semuanya ada. Bahkan, ancaman dan tantangan untuk berduel juga didapatkan. Lebih dari itu, pentinya penegakan protokol kesehatan, utamanya pada penggunaan masker, ini memang harus dilakukan. Kami harap masyarakat bisa mengerti,” ujarnya. (mu/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/