alexametrics
29C
Probolinggo
Thursday, 22 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

150 Timbangan di Kab Probolinggo Ditera, 85 Direparasi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KRAKSAAN, Radar Bromo – Di empat bulan awal tahun ini, UPT Metrologi Legal Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo telah melakukan tera ulang di beberapa kecamatan. Hasilnya, ada sejumlah alat timbang yang dilakukan reparasi lantaran tak seimbang.

Agenda sidang tera ulang alat ukur, takar, timbang, dan Perlengkapannya (UTTP) itu telah dilakukan di 9 kecamatan dan 8 pasar di wilayah timur Kabupaten Probolinggo. Total ada sekitar 800-an alat timbangan yang selesai ditera.

Nah, 3 hari terakhir ini, UPT Metrologi Legal telah menggelar tera ulang di Kantor Kecamatan Kraksaan dan Pasar Semampir. Ada puluhan timbangan milik wajib tera ulang (WTU) yang dilakukan reparasi.

“Di Kraksaan, 60 persen lebih direparasi. Reparasi ini dilakukan jika saat dicek, timbangan WTU tidak sesuai akibat rusak dan sebagainya,” kata Kepala UPT Metrologi Legal Disperindag Kabupaten Probolinggo Diyah Setyo Rini, saat mengelar sidang tera UTTP di Pasar Semampir, kemarin siang (7/4).

Total, ada sekitar 150 alat timbangan yang selesai ditera ulang. Ratusan alat timbangan tersebut milik 108 WTU. Sementara itu, untuk alat timbangan yang direparasi sendiri sebanyak 85 milik WTU.

“Ratusan alat timbang sudah ditera. Untuk yang di Pasar Semampir, masih proses. Dan, sebagian sudah diperbaiki,” ujarnya.

Retribusi tera ulang timbangan sediri terbagi beberapa jenis. Pada timbangan meja, WTU dikenakan retribusi Rp 7.000. Sementara untuk timbangan besar, Rp 20.000.

Sedangkan untuk reparasi, tergantung ukuran dan kerusakan. Biayanya, mulai dari Rp 30-55 ribu. “Saat ini total PAD yang terkumpul dari retribusi timbangan ini sebesar Rp 12 juta. Untuk reparasinya kami bekerja sama dengan pihak ketiga. Dan untuk biaya pedagang yang memang minim pendapatannya, akan diberi diskon. Bahkan 50 persen,” ujarnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, di sekitar lokasi tera ulang, banyak timbangan yang direparasi. Baik timbangan besar maupun duduk. Selain itu, juga ada pedagang di sekitar Kecamatan Kraksaan yang menurunkan timbangan dari mobilnya.

“Syukur, kesadaran masyarakat sangat baik untuk memberi hak timbangan yang sesuai kepada konsumen. Jadi tidak hanya yang berada di pasar saja, dari luar pasar juga datang,” ujarnya. (mu/mie)

 

Mobile_AP_Rectangle 1

KRAKSAAN, Radar Bromo – Di empat bulan awal tahun ini, UPT Metrologi Legal Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo telah melakukan tera ulang di beberapa kecamatan. Hasilnya, ada sejumlah alat timbang yang dilakukan reparasi lantaran tak seimbang.

Agenda sidang tera ulang alat ukur, takar, timbang, dan Perlengkapannya (UTTP) itu telah dilakukan di 9 kecamatan dan 8 pasar di wilayah timur Kabupaten Probolinggo. Total ada sekitar 800-an alat timbangan yang selesai ditera.

Nah, 3 hari terakhir ini, UPT Metrologi Legal telah menggelar tera ulang di Kantor Kecamatan Kraksaan dan Pasar Semampir. Ada puluhan timbangan milik wajib tera ulang (WTU) yang dilakukan reparasi.

Mobile_AP_Half Page

“Di Kraksaan, 60 persen lebih direparasi. Reparasi ini dilakukan jika saat dicek, timbangan WTU tidak sesuai akibat rusak dan sebagainya,” kata Kepala UPT Metrologi Legal Disperindag Kabupaten Probolinggo Diyah Setyo Rini, saat mengelar sidang tera UTTP di Pasar Semampir, kemarin siang (7/4).

Total, ada sekitar 150 alat timbangan yang selesai ditera ulang. Ratusan alat timbangan tersebut milik 108 WTU. Sementara itu, untuk alat timbangan yang direparasi sendiri sebanyak 85 milik WTU.

“Ratusan alat timbang sudah ditera. Untuk yang di Pasar Semampir, masih proses. Dan, sebagian sudah diperbaiki,” ujarnya.

Retribusi tera ulang timbangan sediri terbagi beberapa jenis. Pada timbangan meja, WTU dikenakan retribusi Rp 7.000. Sementara untuk timbangan besar, Rp 20.000.

Sedangkan untuk reparasi, tergantung ukuran dan kerusakan. Biayanya, mulai dari Rp 30-55 ribu. “Saat ini total PAD yang terkumpul dari retribusi timbangan ini sebesar Rp 12 juta. Untuk reparasinya kami bekerja sama dengan pihak ketiga. Dan untuk biaya pedagang yang memang minim pendapatannya, akan diberi diskon. Bahkan 50 persen,” ujarnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, di sekitar lokasi tera ulang, banyak timbangan yang direparasi. Baik timbangan besar maupun duduk. Selain itu, juga ada pedagang di sekitar Kecamatan Kraksaan yang menurunkan timbangan dari mobilnya.

“Syukur, kesadaran masyarakat sangat baik untuk memberi hak timbangan yang sesuai kepada konsumen. Jadi tidak hanya yang berada di pasar saja, dari luar pasar juga datang,” ujarnya. (mu/mie)

 

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2