alexametrics
32C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Sapi Berkepala Dua Gegerkan Warga Kotaanyar, Ini Kata DPKH

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KOTAANYAR, Radar Bromo – Seekor sapi berkepala dua menghebohkan warga Dusun Kanal, Desa Talkandang, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo. Sapi anakan itu dilahirkan induknya Sabtu (6/3) malam.

Dengan cepat informasi tentang sapi berkepala dua itu menyebar. Tak sedikit warga sekitar yang berdatangan ke rumah Heri, 57, untuk melihat sapi yang tak biasa itu.

Suhaida, 29, adalah salah satu warga setempat yang sengaja datang untuk melihat sapi berkepala dua itu. Dia datang karena mengaku penasaran.

Begitu melihat kondisi sapi, Suhaida pun mengaku takjub. “Banyak orang yang bilang bahwa ada sapi berkepala dua. Makanya saya buru-buru ingin lihat. Sebab aneh, tidak pernah ada yang seperti ini. Allahuakbar,” ujarnya, Minggu (7/3).

Anakan sapi itu sendiri, kondisinya normal semua. Namun ada dua kepala di tubuhnya, lengkap dengan empat mata. Sementara telinganya dua.

Heri pemilik sapi mengatakan, indukan sapi miliknya itu sudah beberapa kali beranak. Terhitung sudah tiga kali sapi ini beranak.

“Tidak ada firasat apa-apa, sebab indukannya sudah beberapa kali beranak. Dan sebelumnya tidak begini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Probolinggo Yahyadi mengatakan, pihaknya telah mendatangi lokasi kejadian. Berdasarkan penelusuran disimpulkan, kejadian tersebut adalah kodrat alam.

Sebab, secara genetik tidak mungkin sapi berkepala dua. Selain itu, perkawinan sapi juga tidak inbreeding (perkawinan sekerabat).

“Perkawinannya juga tidak inbreeding. Indukannya cros, sedangkan semen besinya (sperma, Red) limusin. Jadi tidak mungkin terjadi seperti itu,” terangnya.

Kalau karena genetik, menurut Yahyadi, pasti keanehannya terjadi sejak pertama kali sapi induk beranak. “Namun ini kan tidak. Jadi ini sudah menjadi kodrat alam,” ujarnya.

Namun begitu, ia menyebutkan beberapa faktor dapat mempengaruhi kejadian tersebut. Di antaranya, karena kurang imun, kurang nutrisi, stres, dan lain-lain.

“Bisa jadi karena kurang imun atau stres. Terlalu sering dipekerjakan atau kaget dengan sesuatu,” tuturnya.

Yahyadi mengatakan, peristiwa ini sudah dua kali terjadi. Yang pertama di daerah Probolinggo barat, tapi anakan sapi meninggal.

“Untuk yang kali ini kami bantu proses menyusu menggunakan dot dan susunya kami ambil dari induknya. Sampai siang tadi masih hidup. Semoga saja dapat bertahan,” ujarnya. (mu/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

KOTAANYAR, Radar Bromo – Seekor sapi berkepala dua menghebohkan warga Dusun Kanal, Desa Talkandang, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo. Sapi anakan itu dilahirkan induknya Sabtu (6/3) malam.

Dengan cepat informasi tentang sapi berkepala dua itu menyebar. Tak sedikit warga sekitar yang berdatangan ke rumah Heri, 57, untuk melihat sapi yang tak biasa itu.

Suhaida, 29, adalah salah satu warga setempat yang sengaja datang untuk melihat sapi berkepala dua itu. Dia datang karena mengaku penasaran.

Mobile_AP_Half Page

Begitu melihat kondisi sapi, Suhaida pun mengaku takjub. “Banyak orang yang bilang bahwa ada sapi berkepala dua. Makanya saya buru-buru ingin lihat. Sebab aneh, tidak pernah ada yang seperti ini. Allahuakbar,” ujarnya, Minggu (7/3).

Anakan sapi itu sendiri, kondisinya normal semua. Namun ada dua kepala di tubuhnya, lengkap dengan empat mata. Sementara telinganya dua.

Heri pemilik sapi mengatakan, indukan sapi miliknya itu sudah beberapa kali beranak. Terhitung sudah tiga kali sapi ini beranak.

“Tidak ada firasat apa-apa, sebab indukannya sudah beberapa kali beranak. Dan sebelumnya tidak begini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Probolinggo Yahyadi mengatakan, pihaknya telah mendatangi lokasi kejadian. Berdasarkan penelusuran disimpulkan, kejadian tersebut adalah kodrat alam.

Sebab, secara genetik tidak mungkin sapi berkepala dua. Selain itu, perkawinan sapi juga tidak inbreeding (perkawinan sekerabat).

“Perkawinannya juga tidak inbreeding. Indukannya cros, sedangkan semen besinya (sperma, Red) limusin. Jadi tidak mungkin terjadi seperti itu,” terangnya.

Kalau karena genetik, menurut Yahyadi, pasti keanehannya terjadi sejak pertama kali sapi induk beranak. “Namun ini kan tidak. Jadi ini sudah menjadi kodrat alam,” ujarnya.

Namun begitu, ia menyebutkan beberapa faktor dapat mempengaruhi kejadian tersebut. Di antaranya, karena kurang imun, kurang nutrisi, stres, dan lain-lain.

“Bisa jadi karena kurang imun atau stres. Terlalu sering dipekerjakan atau kaget dengan sesuatu,” tuturnya.

Yahyadi mengatakan, peristiwa ini sudah dua kali terjadi. Yang pertama di daerah Probolinggo barat, tapi anakan sapi meninggal.

“Untuk yang kali ini kami bantu proses menyusu menggunakan dot dan susunya kami ambil dari induknya. Sampai siang tadi masih hidup. Semoga saja dapat bertahan,” ujarnya. (mu/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2