alexametrics
23.1 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Produksi Garam Menurun, Padahal Permintaan Bertambah

KRAKSAAN, Radar Bromo – Masuknya musim hujan memang menjadi berkah bagi petani. Tapi tidak dengan petani garam, yang jelas akan mengalami penurunan produksi yang cukup drastis. Petani garam mulai kesulitan untuk memenuhi permintaan yang mulai bertambah.

Menurunnya produksi garam daerah ini dirasakan salah satunya oleh petani garam Desa Kalibuntu, Kraksaan. Bahkan beberapa petani di sana menyebutkan, penurunan produksi ini mencapai 75 persen lebih. “Saat ini pada satu meja kristal yang berukuran 12×50 meter itu hanya dapat menghasilkan tidak lebih dari 3 ton. Bahkan bisa kurang dari itu. Sedangkan di hari normal itu biasanya bisa sampai 8 ton lebih. Ya penyebabnya hujan ini,” ujar Suparyono salah satau petani garam asal Kalibuntu.

Dia menjelaskan, kesulitan pada garam ini tidak hanya ada di produksi. Namun juga ada pada permintaan yang bertambah. Sehingga ia saat ini mulai kebingungan untuk memenuhi permintaan tersbut. Menurunnya produksi ini juga terjadi di luar.

Hartono, petani garam di Kecamatan Gending juga senada. Menurutnya, para petani garam yang bisa bertahan pada masa penghujan ini hanyalah petani yang menggunakan metode buka tutup.

“Seperti di Kalibuntu dan beberapa daerah lain ada yang menggunakan metode ini, jadi tetep produksi. Kalau seperti saya yang menggunakan tradisional sedikit kesempatannya untuk produksi, bahkan tidak sama sekali,” ujarnya. (mu/fun)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Masuknya musim hujan memang menjadi berkah bagi petani. Tapi tidak dengan petani garam, yang jelas akan mengalami penurunan produksi yang cukup drastis. Petani garam mulai kesulitan untuk memenuhi permintaan yang mulai bertambah.

Menurunnya produksi garam daerah ini dirasakan salah satunya oleh petani garam Desa Kalibuntu, Kraksaan. Bahkan beberapa petani di sana menyebutkan, penurunan produksi ini mencapai 75 persen lebih. “Saat ini pada satu meja kristal yang berukuran 12×50 meter itu hanya dapat menghasilkan tidak lebih dari 3 ton. Bahkan bisa kurang dari itu. Sedangkan di hari normal itu biasanya bisa sampai 8 ton lebih. Ya penyebabnya hujan ini,” ujar Suparyono salah satau petani garam asal Kalibuntu.

Dia menjelaskan, kesulitan pada garam ini tidak hanya ada di produksi. Namun juga ada pada permintaan yang bertambah. Sehingga ia saat ini mulai kebingungan untuk memenuhi permintaan tersbut. Menurunnya produksi ini juga terjadi di luar.

Hartono, petani garam di Kecamatan Gending juga senada. Menurutnya, para petani garam yang bisa bertahan pada masa penghujan ini hanyalah petani yang menggunakan metode buka tutup.

“Seperti di Kalibuntu dan beberapa daerah lain ada yang menggunakan metode ini, jadi tetep produksi. Kalau seperti saya yang menggunakan tradisional sedikit kesempatannya untuk produksi, bahkan tidak sama sekali,” ujarnya. (mu/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/