alexametrics
24.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Wakil Ketua KPK Ajak Santri Berkarakter Antikorupsi

PAITON, Radar Bromo – Praktik lancung koruptor yang masih kerap terjadi di Indonesia, memang menjadi musuh bersama. Agar praktik ini tak berkembang, perlu ada pencegahan yang bisa dimulai dari tingkat pendidikan paling bawah.

Itulah yang menjadi pembahasan Nurul Ghufron, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat berkunjung dan memberi kuliah singkat ke Pondok Pesantren (ponpes) Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Senin (5/4). Dia memberi pemahaman bahwa pencegahan korupsi adalah hal yang paling penting.

Kedatangannya ke Nurul Jadid memang untuk mengajak sebuah lembaga pendidikan dapat mencetak kader bangsa yang berkarakter anti korupsi. Termasuk Ponpes Nurul Jadid.

Ghufron menyampaikan, sejatinya KPK sudah menyadari bahwa korupsi tersebut bukan hanya berkaitan masalah hukum saja. Berbuat kemudian ditindak, diperiksa lalu dipenjara.

Faktanya, sejak 18 tahun silam KPK sudah menindak koruptor-koruptor, namun masih terus berproduksi koruptor baru. Namun begitu kasus korupsi masih belum dapat di hapus dari Indonesia.

“Sudah banyak banyak yang ditangkap, sudah banyak yang ditindak, sudah banyak yang dipenjara. Namun masih terus memproduksi koruptor-koruptor baru. Karenanya kami merasa, ini adalah karakter bangsa yang perlu dibenahi melalui pendidikan,” ujarnya, saat ditemui di Gedung Rektorat Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton.

Pembenahan melalui pendidikan inilah dirasa oleh Ghufron dapat membangun karakter bangsa antikorupsi. Maka dari itu, menggandeng pondok pesantren merupakan salah satu cara, agar nanti ponpes bisa memproduksi kader bangsa yang tidak hanya luas ilmunya dan terampil.

“Kedatangan kami tidak untuk mengajari pondok. Tapi kemudian untuk mengembalikan pondok pada khitahnya. Sehingga tidak hanya mencetak penerus bangsa yang ilmunya luas dan terampil saja,” ujarnya.

Pesantren, kata Gufron, dapat mencetak kader bangsa yang mempunyai karakter yang jujur, peduli terhadap sesama, tertib dan adil. “Kami berharap, pondok-pondok dapat menjadi pioner membetuk generasi bangsa kedepan yang memiliki intelektual dengan berkemampuan keterampilan dan memiliki integritas,” ujarnya.

Jika karakter tersebut dibangun sejak dini, maka para kader bangsa akan sadar dengan tidak menggunakan hak orang lain. Menurut Ghufron, pendidikan anti korupsi ini sangat perlu untuk mewariskan karakter anak bangsa yang jujur. Sehingga, ke depan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. (mu/fun)

PAITON, Radar Bromo – Praktik lancung koruptor yang masih kerap terjadi di Indonesia, memang menjadi musuh bersama. Agar praktik ini tak berkembang, perlu ada pencegahan yang bisa dimulai dari tingkat pendidikan paling bawah.

Itulah yang menjadi pembahasan Nurul Ghufron, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat berkunjung dan memberi kuliah singkat ke Pondok Pesantren (ponpes) Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Senin (5/4). Dia memberi pemahaman bahwa pencegahan korupsi adalah hal yang paling penting.

Kedatangannya ke Nurul Jadid memang untuk mengajak sebuah lembaga pendidikan dapat mencetak kader bangsa yang berkarakter anti korupsi. Termasuk Ponpes Nurul Jadid.

Ghufron menyampaikan, sejatinya KPK sudah menyadari bahwa korupsi tersebut bukan hanya berkaitan masalah hukum saja. Berbuat kemudian ditindak, diperiksa lalu dipenjara.

Faktanya, sejak 18 tahun silam KPK sudah menindak koruptor-koruptor, namun masih terus berproduksi koruptor baru. Namun begitu kasus korupsi masih belum dapat di hapus dari Indonesia.

“Sudah banyak banyak yang ditangkap, sudah banyak yang ditindak, sudah banyak yang dipenjara. Namun masih terus memproduksi koruptor-koruptor baru. Karenanya kami merasa, ini adalah karakter bangsa yang perlu dibenahi melalui pendidikan,” ujarnya, saat ditemui di Gedung Rektorat Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton.

Pembenahan melalui pendidikan inilah dirasa oleh Ghufron dapat membangun karakter bangsa antikorupsi. Maka dari itu, menggandeng pondok pesantren merupakan salah satu cara, agar nanti ponpes bisa memproduksi kader bangsa yang tidak hanya luas ilmunya dan terampil.

“Kedatangan kami tidak untuk mengajari pondok. Tapi kemudian untuk mengembalikan pondok pada khitahnya. Sehingga tidak hanya mencetak penerus bangsa yang ilmunya luas dan terampil saja,” ujarnya.

Pesantren, kata Gufron, dapat mencetak kader bangsa yang mempunyai karakter yang jujur, peduli terhadap sesama, tertib dan adil. “Kami berharap, pondok-pondok dapat menjadi pioner membetuk generasi bangsa kedepan yang memiliki intelektual dengan berkemampuan keterampilan dan memiliki integritas,” ujarnya.

Jika karakter tersebut dibangun sejak dini, maka para kader bangsa akan sadar dengan tidak menggunakan hak orang lain. Menurut Ghufron, pendidikan anti korupsi ini sangat perlu untuk mewariskan karakter anak bangsa yang jujur. Sehingga, ke depan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. (mu/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/